Parodi Situasi
DBD Maumere Tambah Tenar
Mari membaca dan simak isi Parodi Situasi berjudul DBD Maumere tambah tenar
Penulis: PosKupang | Editor: Kanis Jehola
Mari membaca dan simak isi Parodi Situasi berjudul DBD Maumere tambah tenar
POS-KUPANG.COM - Maumere saat ini bertambah-tambah ketenarannya. Itu gara-gara demam berdarah dengue atau DBD yang melanda Kabupaten Nyiur Melambai itu dalam beberapa bulan terakhir. Lebih dari seribu orang positif DBD. Sudah lebih dari sepuluh orang meninggal. Bayangkan! Betapa hebatnya Maumere.
***
"Memang pantas mendapat acungan jempol!" Rara bertanya kepada Pak Jaki. "Jempol ke bawah atau jempol ya?"
"Jempol ke atas dong," jawab Jaki sambil menepuk dada. "Siapa berani lawan saya? Lihat data Nita, Kopeta, Beru, Magepanda, semuanya di atas seratus kasus. Nah, ada yang meninggal lagi? Tenar bukan?" Jaki bangga bukan main. "Jadi saya tambah sibuk, super sibuk, urus ini itu, urus anggaran, urus laporan, sibuk telpon, sibuk perbaiki data, sibuk turun lapangan, sibuk suluh, suluh, dan suluh alias penyuluhan! Wah, benar-benar sekarang kerjaan saya tambah banyak. Belum lagi mesti hadapi wartawan, medsos, terima telpon dari sana sini, dan saya lagi tunggu nih kapan menteri datang!"
"Kira-kira Bapak malu atau tidak ya?" tanya Rara sambil tertunduk.
• Bupati Mabar Agustinus Ch Dula Sudah Diperiksa Polda NTT, Dicecar 29 Pertanyaan
"Malu? Stok malu ada banyak. Satu hilang seribu mengganti. Malu untuk apa? Yang penting wilayah tempat tinggal saya aman, saya sendiri aman bebas dari DBD, keluarga saya aman terkendali. Siapa takut! Yang DBD orang lain yang meninggal juga orang lain yang menderita juga orang lain. Buat apa malu? Justru pertanyaanmu yang memalukan!"
"Jadi Bapak benar-benar tidak malu?" tanya Rara lagi dan Jaki pun tersinggung lalu menggeberak meja dengan sekuat tenaga. "Saya pecat kamu nanti! Apa kamu tidak tahu saya ini kamu punya bos?"
***
Karena Jaki menggebrak meja dengan sekuat tenaga, maka Rara pun lari terbirit-birit menemui Nona Mia dan Benza yang juga sedang diskusi solusi menghadapi DBD.
"Tolong, tolong, saya mau dipecat sama Pak Jaki," teriak Rara. Nona Mia dan Benza terkejut bukan main. "Pak Jaki tidak merasa malu terhadap kasus DBD yang turun-temurun, kasus lagi, kasus lagi, DBD lagi DBD lagi, bertambah-tambah terus, dan sudah menjadi salah satu kehebatan Maumere adalah DBD. Pak Jaki merasa bangga karenanya."
"Kenapa kamu mau dipecat?" tanya Nona Mia dan Benza bersamaan.
"Karena saya tanya soal malu menghadapi kenyataan DBD lagi DBD lagi!"
"Pertanyaanmu salah, Rara!" kata Nona Mia. "Salah kalau hanya ditujukan kepada Pak Jaki. Itu pertanyaan untuk kita semua. Kenapa DBD menjadi santapan tiap-tiap tahun di Maumere atau tepatnya di Kabupaten Sikka atau tepatnya lagi di NTT tercinta ini? Dimana letak kesalahannya."
***
"Ini penyakit yang sungguh-sungguh berbasis lingkungan!" sambung Benza. "Hujan turun lebat diikuti dengan panas terik, hujan dan panas silih berganti hati-hati. Nyamuk pembawa DBD mulai beraksi. DBD berhubungan dengan lingkungan yang bersih dan terutama bebas dari sarang nyamuk. Sepanjang lingkungan tetap kotor, penuh genangan air, tidak segera diatasi dengan sungguh-sungguh DBD akan serang lagi. Jadi seribu kali penyuluhan seribu kali juga gagal jika tidak disertai dengan aksi nyata untuk kebersihan lingkungan."
"Maksudnya aksi Empat M Plus. Empat M. Menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara rutin, mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai, memantau jentik nyamuk seminggu sekali," tanya Rara. Jaki yang baru datang langsung menyambar bahwa penyuluhan tentang Empat M sudah dilaksanakan setiap tahun berkali-kali.
"Itu masalahnya!" demikian kata Benza dan Nona Mia bergantian. "Empat M itu sudah benar. Akan tetapi yang juga sangat serius adalah membalikkan pelepah kelapa, pelepah pisang, daun-daun kering yang terbuka, buah kelapa yang sudah diambil isinya, kaleng bekas, plastik bekas, seng bekas, belahan bambu-bambu, dan sejenisnya. Bakar sampah menjadi hal serius demi lingkungan yang bersih. Belum ditambah dengan saluran air mampet. Ada banyak hal!"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)