Perwakilan CIS Timor : Penanganan Stunting di Kabupaten Kupang Ibarat Pemadam Kebakaran

menghadirkan elemen terkait baik dari Puskesmas, para camat, kepala desa-BPD, LSM, membedah persoalan stunting di daerah ini

POS-KUPANG.COM/Edi Hayon
Wabup Kupang, Jerry Manafe ketika menyaksikan penandatanganan komitmen penanganan stunting di Kabupaten Kupang, Senin (17/2/2020) 

Perwakilan CIS Timor : Penanganan Stunting di Kabupaten Kupang Ibarat Pemadam Kebakaran

POS-KUPANG.COM I OELAMASI--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang secara khusus menghadirkan elemen terkait baik dari Puskesmas, para camat, kepala desa-BPD, LSM, membedah persoalan stunting di daerah ini.

Penanganan stunting di Kabupaten Kupang belum berjalan maksimal karena masih diibaratkan seperti pemadam kebakaran. Semua elemen tidak melihat dari hulu atau penyebabnya. Selain itu, ada pula beberapa wilayah yang masih menggunakan data korban stunting dari 2014 dan belum diperbaharui.

Hal ini diungkapkan Perwakilan CIS Timor, Elfrid Saneh, dalam diskusi bersama pada Pertemuan evaluasi kinerja (aksi 8) dan analisis situasi (Aksi 1) konvergensi penanganan stunting terintegrasi di Kabupaten Kupang tahun 2020 di Aula Kantor bupati Kupang, Senin (17/2).

Dalam pertemuan yang dibuka Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe ini didampingi Sekda, Ir. Obet Laha, Asisten I, Rima Salean dihadiri para kepala puskesmas,  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, juga pimpinan OPD terkait lainnya.

Menurut Elfrid, sejauh pengamatannya, penanganan stunting di Kabupaten Kupang diibaratkan seperti pemadam kebakaran. Tidak melihat dari hulu atau  penyebab utamanya. Ketika mulai booming barulah diambil langkah penanganannya.

"Lebih banyak  tunggu kapan ada dana. Dulu ada PMTAS tapi sepertinya tidak ditindaklanjuti lagi sampai sekarang. Penanganan belum fokus dan hanya ditangani pihak puskesmas," katanya.

Dirinya menambahkan, data stunting di Kabupaten Kupang-pun masih ada beberapa wilayah menggunakan data  tahun 2014.

"Data anak balita terkena stunting tahun 2014 masih ada. Belum ada perubahan hingga 2019 masih sama. Padahal anak sudah SD bukan lagi balita. Selain itu untuk menentukan status seseorang terkena stunting juga belum jelas," tambahnya.

Kepala Puskesmas Tarus, Drg. Imelda Sudarmadji mengatakan, pihaknya selama ini terus berusaha menangani masalah stunting. Khusus untuk Kabupaten Kupang, penanganan tidak bisa berjalan sendiri.

"Atasi persoalan stunting  harus menggunakan sistem keroyokan. Mari kita duduk bersama cari jalan keluar. Kalau jalan sendiri stunting akan naik terus," ujar Imelda.

Wabup Jerry Manafe mengatakan, Kabupaten Kupang merupakan salah satu dari tiga kabupaten di NTT yang memiliki angka stunting tertinggi. Kondisi ini harus menjadi bahan evaluasi dengan mencari jalan keluar agar penderita bisa ditekan serendah mungkin.

"Saya minta program Inovasi desa perlu didiskusikan bersama untuk mencari solusi bersama. Ada dana desa diharapkan bisa digunakan dalam mengatasi stunting di Kabupaten Kupang," ujar Jerry.

Yuk Telusuri Penyebab Rasa Lelah Saat Bangun Tidur

4 Tanda Ini yang Membuktikan Bahwa Bayi Anda Kelak Tumbuh Cerdas, Kepoin Moms !

Hi Guys, Anda Pengen Memiliki Postur Tubuh yang Tinggi ? Rutin Lakukan 5 Olahraga Ini

Dirinya heran dengan begitu besar dana desa tetapi tidak ada inovasi dari kepala desa dalam mengatasi stunting.  Stunting bukan penyakit turunan tapi kurang gizi. Stunting bukan corona yang tidak ada obatnya, sehingga semua elemen diharapkan duduk bersama mencarikan solusi terbaik.(Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved