Petani NTT Dibayangi Gagal Panen dan Kelaparan
Jika kondisi normal, waktu tanam biasanya antara akhir November sampai pertengahan Desember 2019.
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Curah hujan di wilayah NTT sangat kurang. Kondisi itu berdampak pada tanaman pertanian. Sejumlah petani mulai cemas karena tanaman jagung dan padi menguning dan layu karena ketiadaan air. Ancaman gagal tanam hingga rawan pangan menghantui petani.
Petani Desa Letmafo Timur, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mulai cemas. Menurut Hilarius Nesi, mestinya tanaman jagung yang sudah berumur dua minggu tumbuh subur.
"Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, tanaman jagung yang saya tanam di lahan seluas 47 are terancam mati semua karena kekurangan air," kata Hilarius saat ditemui di kebunnya, Jumat (31/1/2020).
• Modus Operandi Nelayan Oeba Kupang Bawa WNA ke Australia, Nyawa Jadi Taruhan, Segini Bayarannya
Hilarius berpasrah. "Kami hanya pasrah saja. Karena memang ini kehendak Tuhan. Tapi kami juga berharap supaya masih ada hujan supaya tanaman jagung kami bisa subur," ucapnya.
Gagal panen berdampak terjadinya kelaparan membanyangi Hilarius. Dia berharap pemerintah daerah menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan strategis bila ancaman gagal panen benar-banar terjadi. "Sehingga warga yang terkena dampak tidak sampai mengalami kelaparan," katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten TTU, Kris Nggadas mengatakan, pihaknya telah menyurati camat dan kepala desa untuk mendata daerah yang berpotensi gagal panen.
• Listrik Padam, Siswa Batal Try Out, UKM Menjerit Omzet Melorot
Menurut Kris, setelah melakukan pendataan, pihak kecamatan akan mengirim data tersebut ke Dinas Ketahanan Pangan setiap tanggal 10 dalam bulan sesuai dengan kesepakatan bersama.
Kris mengatakan, secara kasat mata, hampir seluruh desa di TTU berpotensi mengalami gagal panen.
"Kalau secara sepintas kami memonitoring dengan curah hujan yang ada saat ini, rata-rata tanaman jagung setinggi lutut ke bawah. Nah...ini kalau hujan tidak turun lagi maka akan terjadi gagal panen," ujarnya.
Di Kabupaten Nagekeo, petani mengeluh karena hujan kurang. Sejumlah petani Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa mengaku terancam gagal panen.
• Ayah dan Anak Rebutan Janda Cantik, Nyawa jadi Taruhannya
Menurut mereka, musim ini tidak bisa menikmati hasil karena jagung tidak bisa tumbuh normal. Sebagian mengering dan menjurus mati.
Petani mengaku pasrah. "Kami tidak bisa berbuat apa, hujan tidak pernah datang, tanaman jagung kami sudah mulai layu dan rusak akibat cuaca panas," ujar Siprianus Go'o, Jumat kemarin.
"Jika dalam waktu dekat ini tidak hujan, maka saya memastikan puluhan hektar lahan jagung akan mengalami gagal panen di tahun 2020 ini. Kalau tahun sebelumnya bulan Januari seperti ini jagung sudah berbunga, namun tahun ini terlambat jauh sekali. Bahkan ada warga lahannya belum di tanam jagung," sambung siprianus.
Dia berharap agar Pemerintah Kabupaten Nagekeo segera memperhatikan kondisi yang dialami petani.
• Rebut Anaknya dari Mulut Buaya, Begini Cara Daud Nenoharan Taklukkan Buaya
Kondisi yang sama terjadi di Kabupaten Sumba Timur. Petani Desa Kadumbul, Kecamatan Pandawai dan petani Desa Wanga, Kecamatan Umalulu mulai cemas karena hujan tidak turun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petani-trovina-paraba-77-sedang-bera.jpg)