Tony Memprediksi Peluang Rawan Pangan di NTT Sangat Besar
Peneliti Sumberdaya Pertanian, pada BPTP NTT, Dr. Tony Basuki, memprediksi peluang rawan pangan di NTT sangat besar
Penulis: Edy Hayong | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | NAIBONAT - Peneliti Sumberdaya Pertanian, pada BPTP NTT, Dr. Tony Basuki, memprediksi peluang rawan pangan di NTT sangat besar.
Hal ini dengan asumsi, akan terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah penurunan produksi bisa mencapai 60 persen dan kemungkinan kedua adalah, Puso atau Gagal Panen.
Tony Basuki kepada Pos Kupang di Naibonat, Jumat (31/1) mengungkapkan, fakta menunjukkan bahwa Musim Tanam (MT) saat ini telah mengalami pergeseran waktu tanam lebih dari sebulan.
• Dijemput Tim Buser Polres Kupang Kota, Pelaku Pencurian Motor Langsung Diperiksa Penyidik
Jika kondisi normal, waktu tanam biasanya antara akhir November sampai pertengahan Desember.
Tetapi kali ini, jelas Tony, sebagian besar wilayah di NTT waktu tanam komoditas lahan kering jatuh pertengahan Januari, bahkan masih ada petani di wilayah tertentu di Timor dan Sumba belum menanam. Semua ini merupakan konsekuensi dari ganguan curah hujan yang minus.
Terhadap kondisi ini, Tony memprediksi peluang rawan pangan di NTT sangat besar. Hal ini dengan asumsi, akan terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah penurunan produksi bisa mencapai 60 persen dan kemungkinan kedua adalah, Puso atau Gagal Panen.
• Direktur RSUD Waikabubak Mengaku Januari 2020 Merawat Pasien DBD Dibawah 10 Orang
Dikatakannya, kemungkinan ini didasarkan atas gangguan hujan tersebut tetapi akhir musim hujan berhenti seperti biasa, yaitu jatuh akhir Maret.
Jika musim hujan stoping pada akhir Maret atau awal April maka pertanaman yang ditanam pada Tengah atau akhir Januari akan beresiko terhadap kekeringan.
Konsekuensi lain akibat gangguan iklim adalah munculnya ledakan hama dan penyakit tertentu atau yang disebut sebagai _secondary effect._ Effek ini, terbukti dengan munculnya hama ulat Fall Army Worm/FAW (Spodoptera frugiperda), hama antar benua yang sedang menyerang hampir semua daerah di NTT.
" Hama ini pertama kali ditemukan di desa di SBD akhir Desember lalu dan posisi di Januari akhir telah ada hampir semua kabupaten NTT," katanya.
Menyikapi hal ini, kata Tony, petani segera mendapat pendampingan dari petugas lapangan mengenai situasi ini. Sehingga mereka legowo mau memahami kondisi dan secara rasional bisa menerima rekomendasi atau saran teknis.
Petani, lanjut Tony, perlu memanfaatkan komoditas umur pendek dan tahan kering seperti kacang hijau. Selain itu, petani memanfaatkan sumber air dengan usahatani Aneka sayuran.
Ditanya apa yang harus dilakukan pemerintah, Tony mengusulkan agar segera berkoordinasi lintas sektoral yang dipimpin oleh kepala daerah untuk menghasilkan Kebijakan Strategi Ketahanan Pangan.
Rumusan strategi ketahanan pangan yang sudah ada dimiliki Pemerintah melalui pendekatan teknis. Pendekatan yang dimaksudkan, Pertama), Sektoral. Petani dapat dibantu lewat pemerintah atau donor lain melalui pemberian benih kacang hijau atau benih sayuran. Kedua), mengoptimalkan sumber air yang tersedia serta bantuan pompa.
Ketiga), membentuk Gerakan Pengendalian Mandiri oleh petani terhadap hama FAW dengan pendekatan PENGENDALIAN MEKANIS (mengumpul dan memusnakan secara manual). Keempat), Crash program (bukan sektoral) yang biasanya juga sudah ada mekanisme internal pemerintah (contoh, kegiatan padat karya, beras murah, dll)
Soal beberapa daerah di NTT sudah terserang hama belalang dan gerayak mulai bermunculan, kata Tony,
salah satu konsekuensi dinamika iklim seperti ini memang memungkinkan terjadinya Ledakan Hama dan Penyakit. Dengan fakta yang ada sekarang, maka NTT sedang terjadi serangan hama FAW pada pertanaman jagung. Hama inipun juga bisa menyerang Padi dan sorghum. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Edi Hayong)