Hari Raya Imlek, Ini Pesan Anton Bele Kepada Warga Keturunan Tionghoa

Saat hari raya Imlek, ini pesan Anton Bele kepada warga keturunan Tionghoa

Hari Raya Imlek, Ini Pesan Anton Bele Kepada Warga Keturunan Tionghoa
POS-KUPANG.COM/VINSEN HULER
Dr. Anton Bele, M.Si, seusai diwawancarai oleh POS KUPANG.COM saat kegiatan Perayaan Imlek Yang diadakan CV.NAM, Sabtu (25/1/2020) di Oesapa, Kupang 

Saat hari raya Imlek, ini pesan Anton Bele kepada warga keturunan Tionghoa

POS-KUPANG.COM | KUPANG- Perayaan Imlek yang diselenggarakan CV NAM dengan melibatkan masyarakat luas merupakan kegiatan kemasyarakatan yang sangat bermakna karena dengan itu ada keterbukaan dalam pergaulan, tidak ada perbedaan antara warga keturunan Tionghoa dan masyarakat Flobamora.

Hal ini dikatakan Dr. Anton Bele. M.Si, kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu, ( 25/1) di Oesapa.

Lihat Jejak Orang Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Dikatakatan Anton, hal ini merupakan momen yang sangat baik karena makna dari Imlek adalah mensyukuri setiap jerih payah dan usaha yang telah dilakukan selama setahun dan kemudian mengharapkan keberhasilan pada usaha yang akan datang dan itu merupakan suatu kepercayaan.

lalu kemudian, ujar Anton, imlek pada hakikatnya berkaitan dengan soal berbagi kasih sehingga dengan ini CV. Nam, sebagai representasi masyarakat Tionghoa yang membuka kegiatan open house seperti ini perlu diapreasi sehingga dengan begitu sedikit demi sedikit menepis segala aggapan adanya keterpisahan antara masyarakat Tionghoa dan orang-orang pribumi yang ada di sini.

Jalan Nasipanaf Buruk, Ibu-ibu Bonceng Anak Sekolah Sering Jatuh

Menurut Anton, label keterpisahan yang dikenakan pada masyarakat pribumi pernah ada dan sampai sekarang ada. Akan tetapi, melalui kegiatan open house yang diadakan CV Nam, hal ini menunjukan, masyarakat etnis Tionghoa berkeinginan untuk menepis stigma tersebut secara perlahan-perlahan.

Lebih lanjut dikatakan Anton, kegiatan seperti ini bukan ajang untuk memamerkan kekayaan atau kebaikan. Tetapi mau menunjukan adanya tradisi positif yang diwariskan nenek moyang etnis Tionghoa, baik itu di Cina maupun di Indonesia. Dan di pulau Timor ini juga, ujar Anton, warisan tersebut meninggalkan kesan keterbukaan yang dilakukan oleh etnis Tionghoa.

Hal ini terbukti dengan antusiasme warga, ujar Anton, yang datang oleh karena rasa ketertarikan dengan aneka pertunjukan, atraksi barongsai, siapa pun yang datang diperbolehkan untuk menyantap hidangan yang disajikan dan paling utama adalah kesan masyarakat yang beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang dengan hati yang terbuka.

Sebagai seorang akademisi dan salah satu tokoh Katolik di NTT, tandas Anton, kegiatan seperti ini harus dibiasakan dan jangan hanya terbatas pada momen ini saja, tetapi juga pada momen-momen lainnya seperti tahun baru, natal, hari raya agama Islam. Dan masyarakat keturunan Tionghoa juga perlu membuka diri sehingga dengan itu aplikasi menjadi sahabat bagi semua orang dapat diwujudkan. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Vinsen Huler)

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved