Sengit Sidang Pemakzulan Trump, Presiden AS Ini Disebut Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Sengit sidang pemakzulan Donald Trump, Presiden AS ini disebut menipu guna menangi Pilpres AS 2020

KOMPAS.com/AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/SCOTT OLSON
Presiden AS Donald Trump memberikan pidato dalam kampanye di Battle Creek, Michigan, pada 18 Desember 2019. Kampanye tersebut terjadi setelah DPR AS menyetujui pasal pemakzulan, dan menjadi presiden ketiga dalam sejarah AS yang dimakzulkan. 

Sengit sidang pemakzulan Donald Trump, Presiden AS ini disebut menipu guna menangi Pilpres AS 2020

POS-KUPANG.COM | WASHINGTON DC - Sidang pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump di level Senat AS berlangsung sengit dan panas sejak Selasa (21/1/2020).

Ketua manajer yang ditunjuk DPR AS, Adam Schiff, dengan berapi-api menerangkan bahwa presiden ke-45 AS itu menipu agar bisa kembali terpilih pada Pilpres AS 2020 mendatang.

Pemkab Malaka Hibahkan Dana Rp 2,5 M ke Polres Malaka untuk Pengamanan Pilkada Malaka

Dilaporkan The New York Times, Rabu (22/1/2020), Schiff membacakan argumentasi mengapa Trump layak dimakzulkan oleh Senat AS.

"Presiden Trump meminta negara asing mengintervensi proses pemilu kita yang demokratis, menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengamankan kemenangan di pilpres mendatang," dakwanya.

Ketua Komite Intelijen DPR AS itu melanjutkan, Trump menekan Ukraina menggunakan bantuan militer senilai 391 juta dollar AS, atau Rp 5,3 triliun.

Menjelang Testing CPNS di Manggarai Barat, Petugas BKN Pantau Persiapan di Labuan Bajo

Schiff mengklaim, presiden 73 tahun itu jelas menahan bantuan militer guna mendapatkan bantuan untuk periode keduanya. "Dalam kata lain, ini sama saja dengan menipu," kecamnya.

Selain Schiff, enam manajer pemakzulan lain yang semuanya adalah anggota House of Representatives dari Partai Demokrat ikut mendakwa Trump.

Schiff, yang dikenal sebagai pengkritik keras presiden dari Partai Republik itu, menghabiskan lebih dari empat jam membeberkan "dosa-dosa" sang presiden kenapa dia layak dimakzulkan.

"Jika Senat menolak menyatakan bersalah dan melengserkan Presiden Trump, perbuatan kriminalnya akan menjadi preseden buruk bagi presiden-presiden ke depannya yang dapat berbuat seenaknya tanpa akuntabilitas dan pengawasan dari Kongres serta aparat hukum."

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved