Salam Pos Kupang

Sadar Demam Berdarah

Mari membaca dan simak isi Salam Pos Kupang berjudul: Sadar Demam Berdarah

Sadar Demam Berdarah
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca dan simak isi Salam Pos Kupang berjudul: Sadar Demam Berdarah

POS-KUPANG.COM - WARTA terbaru dari Maumere, Kabupaten Sikka, 30 orang balita dan anak penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dirawat di RSUD TC Hillers Maumere hingga Rabu 8 Januari 2020.

Masyarakat Kabupaten Sikka, terutama keluarga para pasien, tentu dalam kondisi waswas terhadap kondisi anak-anak mereka.

Bagaimana tidak, sehari sebelumnya, Selasa (7/1), seorang balita berusia satu tahun, Elisabeth Marsela, meregang nyawa di RSUD dr TC Hillers karena ganasnya serangan DBD. Ironisnya, Elisabeth Marsela adalah anak seorang petugas kesehatan di Puskesmas Watubain, Kecamatan Talibura.

Jalan Menuju Bandara Haliwen Rusak, Ini Penjelasan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Belu

Ya, DBD bukan penyakit baru di wilayah NTT. Hampir setiap saat, terutama setiap kali memasuki musim hujan, penyakit ini pasti muncul. DPD pun tidak pandang bulu. DBD adalah penyakit menular yang disebabkan virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti.

Menurut Direktris RSUD dr TC Hillers Maumere, dr Clara Francis, kasus DBD biasanya meningkat saat cuaca hujan, panas, hujan dan panas.

Kapan DBD bisa terjadi tampaknya kita sudah mafhum. Saat ini seluruh wilayah NTT sedang memasuki musim hujan. Genangan air terdapat di mana-mana, tempat nyamuk Aedes Aegypti sangat mudah berkembang.

Manusia: Not For Sale! ( Mengawasi Modus Operandi Agen Human Trafficking di NTT)

Karena media berkembangnya genangan air, maka sudah sering diimbau dan disosialisasikan kepada masyarakat untuk mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Agyti dengan melakukan kegiatan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur).

Kegiatan 3M sebetulnya bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Tetapi, nyatanya masih banyak yang belum melakukannya. Hal ini disebabkan masih rendahnya kesadaran dan kepedulian kita akan bahaya DBD.

Kita baru gopoh-gapah kalau sudah terjadi korban. Sayangnya, yang sering menjadi korban justru balita dan anak-anak, yang belum mengerti apa-apa tentang pentingnya menjaga kesehatan, termasuk mencegah terjadinya DBD.

Kita sebagai orang dewasa, terutama sebagai orangtua, harus sadar dan bertanggung jawab atas hal ini. Daripada kita menangis atas jatuhnya korban, lebih baik kita mencegah serangan DBD.

Kebetulan kasus pertama pada tahun 2020 terjadi wilayah Kabupaten Sikka. Tetapi peluang terjadinya DBD ada di seluruh wilayah NTT, termasuk di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT.

Karena itu, sebagai masyarakat kita jangan menunggu apalagi menonton. Ayo kita cegah terjadinya DBD di tempat kita masing-masing dengan menggalakkan gerakan 3M. Kita juga wajib tahu gejala-gejala seseorang terserang DBD agar bisa mengambil tindakan cepat dengan membawa penderita ke fasilitas-fasilitas kesehatan terdekat.

Hanya dengan cara itu kita bisa menekan bahaya DBD. Sebab, sampai sekarang katanya virus penyebab DBD belum ada vaksinnya. Semoga Elisabeth Marsela menjadi korban pertama dan terakhir ganasnya serangan DBD pada tahun 2020 ini. Selanjutnya tidak ada lagi korban.*

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved