Kamis, 23 April 2026

Opini Pos Kupang

Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)

Mari membaca dan simak Opini Pos Kupang berjudul Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)

Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Mari membaca dan simak Opini Pos Kupang berjudul Surat Buat Gus Dur (10 tahun in memoriam)

Oleh: Theodorus Widodo, Wakil ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK)-NTT

POS-KUPANG.COM - Selamat pagi Gus. Tak terasa, sepuluh tahun sudah panjenengan meninggalkan kami. Pergi untuk selamanya menghadap sang Khalik, pemilik kehidupan ini. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang singkat.

Aku masih ingat sore itu. Tepatnya tanggal 30 Desember 2009 atau sehari jelang tutup tahun. Jarum jam di tangan menunjukkan angka 06.45. Hujan baru saja turun. Aroma tanah basah dan bunga flamboyan kota Kupang di bulan Desember mengingatkan bahwa Natal sudah dekat. Dan aku sedang bersiap-siap berangkat menuju luar kota untuk suatu urusan. Aku lupa itu urusan apa.

Korban Penganiayaan Sempat Dirawat di Puskesmas Weoe

Tiba tiba saja tayangan televisi disela breaking news. Gus Dur, budayawan, humanis, mantan presiden, tokoh dunia, bapak pluraris dan multikulturalis sejati dipanggil pulang untuk selamanya. Gusti Allah, sang pemilik kehidupan ini memanggil pulang panjenengan. Sosok perkasa. Tokoh besar. Pelindung siapa saja yang tertindas.
Kami kaget Gus.

Kami tahu, waktumu mestinya memang tidak lama lagi. Panjenengan sakit-sakitan. Tapi kami masih mengharapkan pengertian baik dari Gusti Allah. Membiarkan panjenengan tetap bersama kami. Paling tidak untuk beberapa waktu lagi. Melewati hari-hari yang berat itu Gus. Sungguh. Kami masih sangat membutuhkanmu. Kami berharap semoga Gusti Allah masih lama memilih-milih waktu yang tepat untuk memanggilmu pulang. Dan harapan kami, waktumu itu belum tiba.

Tapi astaghfirullah. Rupanya waktu bagi kami tidak sama dengan waktu bagi Gusti Allah. Sang pemilik kehidupan ini punya pertimbangan lain. Apa mau dikata. Panjenengan harus pulang.

Sejumlah Perwira dan Bintara Polres Ngada Naik Pangkat, Upacara Dipimpin Kapolres Ngada

Langit terasa runtuh. Dada ini sesak. Lorong-lorong RS Cipto Mangunkusumo jadi saksi betapa semua orang berduka. Indonesia berduka. Dunia berduka. Semua pencinta damai berduka. Mereka yang mendorongmu dalam keranda itu bagi kami terlihat seperti malaekat pencabut nyawa yang kejam. Sungguh Gus. Walau kami tahu, wajah mereka juga tidak bisa menyembunyikan duka.

Hari ini, dihaulmu yang kesepuluh, disaat banyak orang mulai lupa, aku coba membolak-balik lagi buku kehidupanmu. Bagiku buku itu selalu bertuliskan tinta emas. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk mengingat-ingat kembali semua cerita tentang panjenengan. Terutama nasehat-nasehatmu.

Sampai sekarang bagi kami panjenengan masih tetap satu-satunya guru besar bangsa yang belum ada duanya.

Salah satu pesanmu yang aku ingat. Jaga persatuan ini baik-baik. Bangsa ini terlalu ber-ragam. Terlalu banyak suku, budaya, golongan dan agamanya. Hidup di ribuan pulau. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Rote sampai Mianggas. Semuanya punya ciri khas masing-masing yang beda satu dengan lainnya. Kita harus kelola perbedaan itu baik baik. Keberagaman adalah nikmat Allah yang harus disyukuri. Bukan untuk disesali. Kebhinekaan adalah aset Indonesia yang harus jadi kekuatan. Bukan liabilitas yang jadi beban dan bisa memecah belah bangsa.

Khusus untuk urusan agama yang beragam ini, negara jangan banyak ikut campur.
Sekarang ini sayangnya Gus, semua urusan rasa-rasanya mau dibawa ke agama melulu. Agama jadi yang pertama dan utama. Akibatnya orang jadi semakin fanatik. Hidup dalam kotak-kotak agama berbatas sekat yang semakin tebal dan mengeras. Padahal panjenengan tahu kan? Fanatisme berlebihan pasti melahirkan intoleransi. Intoleransi berlebihan pasti melahirkan radikalisme.

Radikalisme ini pasti akan melahirkan kebencian. Masing masing klaim dirinya sendiri paling benar, orang lain salah melulu. Dan kebencian bisa berujung teror jika orang sudah tidak bisa lagi menemukan saluran untuk melampiaskan kebenciannya dengan cara lain. Hidup sekarang semakin susah karena perbedaan yang salah kelola itu Gus.
Contoh kecil betapa agama jadi segala-segalanya akibat salah kelola. Perhatikan saja tanggalan merah pada kalender 2020.

Tanggal merah untuk urusan agama sampai lima belas. Berapa untuk perayaan kebangsaan? Cuma dua. 17 Agustus sebagai hari jadi bangsa dan 1 Juni hari lahir Pancasila. Bayangkan Gus. Lima belas banding dua. Ini menurut aku sangat tidak seimbang. Bukti salah kelola. Betapa tidak pentingnya nasionalisme dan betapa pentingnya agama bagi bangsa ini.

Contoh lain lagi. Tunjangan hari raya (THR) yang diberikan saat jelang hari besar keagamaan yang kita sebut hari raya itu. Di saat jelang hari raya Idul Fitri yang Muslim saja yang terima. Di saat jelang hari raya Natal yang Kristiani saja yang terima. Begitu pula dengan agama-agama resmi lain yang diakui negara. Yang tidak sedang berhari raya ya jadi penonton saja. Akibatnya kita semakin sadar. Bahwa kita memang beda.

Kenapa THR ini tidak diberikan disaat jelang tujuh belas Agustus saja Gus?. Biar semuanya dapat, tidak peduli Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Chu bahkan agama-agama suku yang masih belum diakui negara sekalipun. Semuanya dapat THR. Untuk apa? Untuk rayakan pesta besar milik bersama. Toh ini hari ulang tahun bangsa. Ini hari jadi kita semua. Seluruh anak bangsa, tidak peduli siapapun dia dan dari mana asalnya.

O iya Gus. Omong soal agama-agama suku yang asli Nusantara ini kapan mereka bisa diakui negara jadi agama sih Gus?. Negara sebagai wujud nyata kontrak sosial kita ini lahirnya kan jauh setelah agama-agama itu ada. Dalam kontrak sosial itu betul kita menyerahkan hak-hak kita kepada negara. Tapi kan hanya sebagian.

Tidak seluruhnya. Masih ada hak- hak pribadi yang tidak bisa diganggu gugat. Contohnya hak asasi manusia (HAM) itu. Kebebasan beragama dan beribadah adalah sebagian dari HAM. Lagi pula agama adalah entitas suci yang kebenarannya adalah kebenaran subyektif. Ini urusan yang bersangkutan sendiri dengan sesuatu yang transedental. Yang maha kuasa. Negara tidak punya otoritas untuk bikin definisi yang mana boleh disebut agama yang mana yang tidak boleh. Benarkan Gus?

Kembali ke soal hari libur. Baru baru ini iseng-iseng aku coba caritahu berapa hari libur di China untuk hari nasional mereka yang konon disebut juga hari kemerdekaan. Aku kaget Gus. Ternyata libur hari kemerdekaan yang tidak jelas merdeka dari siapa ini lamanya paling tidak satu minggu. Satu minggu yang mereka sebut golden days itu diisi dengan pesta nasional besar-besaran tiap hari.

Bayangkan Gus. Kita yang merdeka setelah dijajah selama 350 tahun liburnya cuma sehari. Padahal kemerdekaan kita diraih dengan korban harta, darah dan jiwa ribuan pejuang bangsa. Libur sehari ini mau bikin apa?

Contoh lain. Soal nikah beda agama. Kenapa sih negara harus ikut campur soal nikah yang mestinya hak pribadi ini? Soalnya syaratnya macam-macam. Di antaranya harus lebih dulu sah menurut agama. Padahal negara bukan subordinasi dari agama. Padahal syarat nikah beda agama ini menurut agama-agama yang diakui negara tidak mudah. Sampai-sampai ada yang pilih nikah di luar negeri. Sudah itu pulang ke tanah air untuk mencatatkan pernikahannya.. Yang punya duit sih gampang. Bagi yang tidak punya duit?

Kenapa agama mesti mempersulit hidup yang cuma sekali ini Gus? Agama membuat kita hidup dalam kotak-kotak dan bikin tambah jauh jarak di antara kita sesama anak bangsa.

Maaf Gus. Kata orang negara ini bukan negara agama. Negara ini negara hukum (rechtsstaat) yang sekuler. Faktanya sekarang ini lain. Aku jadi kuatir. Pelan pelan kita sedang bergerak menuju negara agama karena sekali lagi negara sudah terlalu jauh campur urusan agama yang nota bene adalah wilayah privasi warganya.

Contoh. Aturan pembangunan rumah ibadat, Tap MPR no 4/1978, Undang Undang No 23 thn 2006 tentang Administrasi Kependudukan pasal 61, pasal penodaan agama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dan masih banyak aturan lain.

Hidup sekarang sudah semakin terpola. Mengelompok dalam komunitas komunitas tertutup berbasis agama. Rentang relasi sosial semakin jauh diantara kami. Akibatnya kami jadi semakin sensitif atas perbedaan agama. Sedikit saja letupan kecil bisa jadi pemicu terjadinya konflik besar atas nama agama.

Baik Gus. Rasanya sudah waktunya aku harus pamit. Lain kali aku akan kirim surat yang lebih panjang lagi ya. Semoga panjenengan tetap ingat kami yang masih berjuang di bumi yang fana ini.

Jangan lupa sampaikan salam hangat kami buat Gusti Allah dan orang orang kudus disamping panjenengan. Jagalah kami agar selalu setia merajut tenun kebangsaan ini. Selamat tahun baru 1 Januari 2020. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved