Berita Pendidikan
Kuliah Umum Prodi Linguistik PPs Undana, Kumoro Beber Keluarga Bahasa Austronesia
Program Studi ( Prodi) Pasca Sarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar kuliah umum, Rabu (4/12/2019).
Penulis: Apolonia M Dhiu | Editor: Apolonia Matilde
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu
POS-KUPANG.COM|KUPANG - Program Studi ( Prodi) Pasca Sarjana ( PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar kuliah umum, Rabu (4/12/2019).
Kuliah umum tersebut merupakan inisiatif Ketua Prodi Linguistik, Prof. Drs. Feliks Tans, M.Pd, Ph.D.
Kegiatan tersebut juga mendapat respon dari kalangan mahasiswa dan alumni Linguistik Undana.
• Pengakuan Pramugari, Gara-Gara Tolak Ajakan Tidur Dengan Direktur Harus Alami Ini, Hotman Teriak Ini
Kuliah umun mengusung tema 'Keluarga Bahasa Austronesia dan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia' tersebut menghadirkan pembicara tunggal Dosen Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hendro Kumoro.
Dalam paparan materinya, ia memusatkan pembicaraannya pada hasil penelitian tiga linguist, yakni Dempwolff, Dyen dan PS Bellwood.
Kumoro menjelaskan, berbicara Bahasa Austronesia, Otto Dempwolff pada abad 19 telah mengumpulkan Bahasa Austronesia yang disebut Proto Melayu-Polonesia. Dempwolff kemudian memperkenalkan hukum Grimm untuk
merekonstruksi bunyi.
• UPDATE Klasemen SEA Games 2019, Filipina di Puncak, Indonesia Naik ke Peringkat 2, Lampaui Vietnam
"Hukum ini mengatakan bahasa secara tidak kita sadari mengalami perubahan bunyi yang disebabkan oleh kekeliruannya anak-anak mengamati dan menangkap bunyi-bunyi yang terpakai oleh generasi orangtua mereka," paparnya.
Ia menambahkan, dari anak-anak salah menangkap bunyi, kemudian menjadi fonem, bunyi berubah menjadi dialek, lalu menjadi bahasa, dan terjadi kontak bahasa kemudian ada inovasi (ada kata pungut), kata-kata kognates sampai menjadikan sebagai bahasa serumpun.
Menurut Kumoro, antara bahasa serumpun terdapat hal-hal yang mirip atau sama.
Dalam karyanya, Dempwollf menentukan dan menggunakan 11 bahasa, yaitu Tagalog, Batak-Toba, Jawa, Melayu (sekarang menjadi bahasa Indonesia), Dayak-Ngaju, Hova (Malagasy) di Madagaskar, Fiji, Sa'an dari Kepulauan Melanesia, Tonga, Fatuna dan Samoa dari Kepulauan Polynesia sebagai bahasa yang diperbandingkan.
Ia melakukan penelitian berdasarkan literatur saat itu, yakni bahasa Jawa yang ditemukannya dan satu-satunya bahasa yang berkesinambungan dapat dilacak ke masa-masa yang lebih tua.
• FAKTA TERBARU! Hotman Paris Ungkap Pramugari Tak Dijatah Terbang Kalau Tolak Diajak Ngamar Direktur
"Dalam buku pertama Dempwolff pada tahun 1934 awalnya menggunakan tiga bahasa, yakni Tagalok, Toba Batak dan Jawa.
Buku keduanya tahun 1937 menghasilkan bahasa Proto Austronesia (PAN), hal ini menarik para sarjana, terutama Dyen yang menjadi muridnya kemudian menelaah kembali dan merevisinya. Semantara buku ke tiga tahun 1938 melahirkan kamus PAN sampai sekarang digunakan untuk menganalisis bahasa Austronesia," paparnya.
Dikatakannya, Dempwolff membagi rumpun bahasa Austronesia menjadi tiga bagian, yaitu bagian Indonesia, bagian Melanesia, dan bagian Polynesia.
Bahasa yang diambil sebagai contoh dari bagian Indonesia adalah Tagalok, Toba-Batak, Jawa, Melayu, Ngaju-Dayak, dan Hova (malagasi).
Bahasa yang diambil sebagai contoh dari bagian Melanesia ialah bahasa Fiji, dan bahasa Sa'a, sedangkan bahasa yang dipakai sebagai contoh dari bagian Polynesia ialah bahasa Tonga, Futuna dan bahasa Samoa.
Ia mengatakan, alasan diambilnya bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa yang diperbandingkan haruslah diambil dari bahasa- bahasa yang berbeda, letaknya berjauhan, dan dari anggota sub-sub rumpun yang berlainan agar rekonstruksinya betul-betul mewakili semua bahasa-bahasa yang tergabung dalam rumpun itu.
• Kapolri Angkat Pejabat Sementara Kapolres untuk Lima Polres Baru Wilayah Polda NTT
Sementara papar Kumuro, Dyen secara genetis mengelompokan bahasa Austronesia. Dari 500 bahasa yang digarapnya, ia mampu meneliti 303 bahasa saja dari perkiraan 4000 bahasa di dunia.
Hasil penelitiannya, 58 dianggap sebagai dialek dan 245 sebagai bahasa.
Dalam penelitiannya menggunakan 200 kosa kata dasar selanjutnya disebut kosa kata Swadesh.
"Jika antara dua bahasa punya persamaan 70 persen lebih sama, dianggap dialek dari bahasa yang sama.
Namun jika sebaliknya dianggap dua bahasa yang berbeda. Hal ini bersifat sementara saja," ungkapnya.
Hasil perbandingan itu oleh Dyen digunakan sebagai pengelompokan bahasa serumpun.
Dari hasil perbandingan dan perhitungan semacam itu, Dyen menempatkan bahasa-bahasa yang ia periksa itu ke dalam tingkat-tingkat sub grup yang ia beri nama subfamily, genus, cluster, hesion dan linkage.
Hal itu, katanya, agar klasisifikasi bahasa dapat dibaca dengan mudah, maka dibuatlah diagramnya.
• Kabar Duka Disampaikan Cinta Laura, Pemain Cinderella, Orang yang Dicintainya Meninggal Dunia
Ia menyebut, Austronesia memiliki banyak bahasa, karena para petani berpindah-pindah, menjelajah dari satu wilayah ke wilayah lain lalu terjadi tebang bakar.
Dikatakannya, sekitar 6000-5000 tahun lalu orang Austronesia sudah mulai menjelajah ke utara dan ke barat.
3000 tahun yang lalu sampai Pasifik dan Selandia Baru.
"Kita dapat mengambil kesimpulan dari gejala ini bahwa semakin sulit komunikasi antara daerah satu dengan yang lain, semakin besarlah kemungkinannya untuk timbul bahasa baru," ungkapnya.
Dyen menyebut asal-usul orang Ausronesia ditentukan oleh perbedaan-perbedaan Bahasa-bahasa. Asal-usul ialah daerah di mana terdapat banyak Bahasa dengan pebedaan yang besar.
Kelompok Bahasa yang berbeda-beda tidak akan bermigrasi Bersama-sama ke daerah yang sama. Kiranya yang terjadi ialah bahwa Bahasa-bahasa itu sedikit demi sedikit menjadi berbeda di tanah asalnya.
Sementara, papar dia, menurut P. S Bellwood, yang menggabungkan penemuan dan pemikiran dari cabang Lingustik, Anthropologi dan Arkeologi menyebutkan bahwa Formosa telah didiami orang Austronesia 6000 tahun yang lalu.
Mereka bercocok tanam dan kesukaannya ialah menanam padi serta biji-bijian lain. Sistem pertaniannya ialah tebang bakar.
• BREAKING NEWS 6 Anak di TTS Keracunan Biskuit, Dilarikan ke Puskesmas
Asdir I PPs Undana, Dr. Korolus Kopong Medan, ketika membuka kuliah umum tersebut mengapresiasi kehadiran Dr. Hendro ke PPs Undana.
Menurutnya, kuliah umum tentang Keluarga Bahasa Austronesia dan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia sangat urgen, karena perkembangan Bahasa Austronesia kini mengalami persoalan.
Kopong Medan mengatakan, ada banyak bahasa yang terancam punah karena kehabisan penutur.
Dari sekitar 742 bahasa di Indonesia, ujarnya, ada sekitar 169 yang terancam punah, karena penuturnya semakin berkurang dari waktu ke waktu.
Di Alor, NTT misalnya, ada salah satu Bahasa (Belilel) yang menyisahkan satu penutur saja.
"Karena itu, kuliah umum ini sangat penting dalam arti memberi kontribusi dan pemikiran bagaimana Bahasa daerah ke depan terutama bahasa daerah di Indonesia, menjadi alaram bagaimana pemikiran kedepan untuk pengembangan Bahasa daerah," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/asisten-diektur-dr-karolus-kopong-medan-mengenakan-cinderamata.jpg)