Renungan Harian Kristen Protestan, Kamis,7 November 2020 : Double suffering: Korban dijadikan korban

tetapi bukannya pembelaan yang mereka dapat justru kata-kata hinaan dan bullyan yang mereka terima bertubi-tubi.

Renungan Harian Kristen Protestan, Kamis,7 November 2020 : Double suffering: Korban dijadikan korban
istimewa
Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh MA 

Renungan Harian Kristen Protestan, Kamis, 7 November 2020 : Double suffering: Korban dijadikan korban

Oleh : Pdt DR Mesakh A P Dethan MT

Rasa tidak adil dan tidak berperi kemanusiaan ketika para korban perkosaan diolok-olok dan dibully. Mereka telah menjadi korban kekerasan seksual atau pelecehan seksual, tetapi bukannya pembelaan yang mereka dapat justru kata-kata hinaan dan bullyan yang mereka terima bertubi-tubi.

Para korban yang sudah menderita secara fisik akan lagi menderita secara psikologis karena makian, cemohan dan olok-olok itu. Mereka akan mengalami stress, depresi dan akibat yang paling parah adalah mendorong kepada tindakan bunuh diri.

Adalah Rehtaeh Parsons salah satu contoh dari kisah pilu korban perkosaan yang akhirnya bunuh diri karena tidak tahan dibully oleh teman-temannya (lihat https://www.liputan6.com/ global/read/558034/malah-di-bully-teman-korban-pemerkosaan-bunuh-diri).

Cerita pilu lain tentang ada seorang mahasiswi yang diperkosa di bandung oleh seorang pria yang baru dikenalnya lewat aplikasi Tinder, bukannya ia mendapat simpati ketika ia telah diperlakukan tidak senonoh, akan tetapi ia justru semakin  dibully secara masiv oleh teman-temannya dan masyarakat sekitar yang mengenalnya. 

Mahasiswi ini telah menjadi korban perkosaan, tetapi sekarang ia menjadi korban olok-olokan lagi.  Menurut saya para korban akan mengalami apa yang disebut dengan “double suffering” (penderitaan ganda), pada satu sisi mereka telah mengalami penderitaan secara fisik oleh pelakunya yang kejam dan brutal dan dipihak lain mereka juga disiksa secara psikis oleh masyarakat tak bermoral dan juga kejam tak berperi kemanusiaan.

Mahasiswi berusia 22 tahun itu diperkosa meski dalam keadaan datang bulan di sebuah hotel di Bandung, tetapi ironisnya sejumlah warganet yang membaca berita tersebut justru menyudutkan si mahasiswi.

Mereka berpendapat peristiwa pemerkosaan itu tak akan terjadi bila mahasiswi tersebut menjaga dirinya dan menolak ajakan orang yang baru dikenal (lihat https://kumparan.com/kumparannews/psikolog-jangan-bully-mahasiswi-korban-pemerkosaan-27431110790540703.)

Menurut Pakar psikologi forensik Reza Indragiri tindakan sejumlah warganet yang menyudutkan korban dapat diklasifikasikan sebagai viktimisasi sekunder.

Halaman
12
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved