Rabu, 29 April 2026

Kisah Maestro Basoeki Abdullah Dibunuh Perampok, Jejak Karyanya dan Museum yang Ramai Dikunjungi

Kematian pelukis Basoeki Abdullah mungkin menjadi salah satu peristiwa yang mengejutkan publik di penghujung tahun 1993.

Editor: Agustinus Sape
Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo
Ruang memorial di Museum Basoeki Abdullah memamerkan koleksi barang-barang seperti tempat tidur, peralatan beribadah, lemari, meja, hingga alat-alat mandi yang masih tersusun seperti asli, Rabu (18/02/2015). 

Kisah Maestro Basoeki Abdullah Dibunuh Perampok, Jejak Karyanya dan Museum yang Ramai Dikunjungi

POS-KUPANG.COM -  Kematian pelukis Basoeki Abdullah mungkin menjadi salah satu peristiwa yang mengejutkan publik di penghujung tahun 1993.

Maestro legendaris itu ditemukan tewas di kediamannya di Pondok Labu, Jakarta Selatan pada 5 November 1993.

Akibat pembunuhan ini, lukisan BJ Habibie tak pernah rampung, bahkan baru selesai 50 persen. 

Pelakunya adalah seorang pria berinisial AMD (23). Dia bekerja sama dengan tukang kebun Basoeki berinisial WHY, ABD, serta TS. Bersama, mereka merencanakan perampokan di rumah pelukis legendaris tersebut.

Namun naas, AMD yang kala itu sedang melaksanakan aksinya tepergok oleh Basoeki Abdullah. AMD lalu langsung memukul kepala Basoeki Abdullah sampai meninggal.

Setelah itu, AMD melanjutkan aksinya dan mengambil 43 arloji, sebuah kamera, walkman, jaket, uang sebesar Rp 200.000, dan segepok mata uang asing.

Selang empat hari setelah kejadian, polisi berhasil meringkus para pelaku perampokan dan pembunuhan. Harian Kompas, 10 November 1993 mewartakan, penangkapan itu dilaporkan kepada Presiden Soeharto.

AMD yang terbukti membunuh sang maestro dihukum penjara 15 tahun, sementara WHY dan ABD dihukum penjara selama 12 dan 10 tahun.

Tentang Basoeki Abdullah

Pelukis yang terkenal dengan aliran naturalis ini dilahirkan dengan nama Raden Basoeki Abdullah pada 27 Januari 1915 di Solo.

Basoeki Abdullah telah malang melintang di dunia seni lukis. Bahkan sejak usia empat tahun, ia gemar melukis tokoh-tokoh terkenal seperti Mahatma Gandhi, Rabindrath Tagore, hingga Krisnamurti.

Anak kedua dari pelukis R Abdullah Suryosubroto ini pernah mengenyam pendidikan di Royal Academy of Fine Art lalu melanjutkan studinya di The Hagues, Gravenshage, serta Free Academy of Fine Arts. Setelah itu, ia menetap selama 15 tahun di Thailand dan menjadi pelukis istana.

Menurut pemberitaan Harian Kompas, 6 November 1993, Basoeki pernah menikah dengan wanita Belanda bernama Josephine pada tahun 1937 di Den Haag.

Pernikahan itu bertahan selama tiga tahun. Dari pernikahan ini, cucu pahlawan Kebangkitan Nasional Dr Wahidin Sudirohusodo tersebut memiliki seorang putri bernama Saraswati.

Setelah bercerai dari istri pertamanya, Basoeki Abdullah melabuhkan hatinya pada penyanyi seriosa Belanda bernama Maria Michele yang akrab dipanggil Maya.

Kemudian pada tahun 1962, ketika ia bekerja sebagai pelukis istana kerajaan, Basoeki Abdullah menikahi seorang wanita Thailand bernama Noi. Namun, perkawinan tersebut hanya berumur setahun dan tidak membuahkan anak.

Kemudian ia kembali menikahi wanita Thailand yang saat itu merupakan peserta lomba ratu kecantikan Miss Thailand bernama Nattaya Nareerat.

Karya Basoeki Abdullah

Sosok Basoeki Abdullah tenar lantaran ia kerap melukis sejumlah potret kepala negara dan berbagai orang penting. Ia dianggap sebagai tokoh duta budaya.

Basoeki Abdullah melukis potret raja dan ratu Thailand sejak tahun 1960. Ia kemudian kembali melukis keduanya pada tahun 1963.

Mantan sekretaris pribadi Basoeki Abdullah, Greta Luntungan, menjelaskan, Basoeki Abdullah adalah pelukis yang dekat dengan Raja Thailand Bhumibol dan Ratu Sirikit.

"Pak Bas malah memiliki kantor sendiri di istana. Dan bahkan sering mengajar Raja melukis," ucap Greta seperti dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 6 November 1993.

Bukan hanya para pembesar Kerajaan Thailand saja, Basoeki juga pernah melukis potret Ferdinand Marcos beserta istrinya, Imelda pada tahun 1977. Bahkan potret tercantik Imelda, ia lukis pada tahun 1981. Begitu pula lukisan suaminya, Ferdinand Marcos.

Selain itu, Basoeki Abdullah pun juga pernah melukis paras pemimpin tertinggi Brunei Darussalam, Sultan Hasaanal Bolkiah. Ketiga lukisan tokoh terkenal itu pun hanya menggambarkan wajah dan tidak menghadirkan garis anatomi tubuh.

Karya lain yang hadir lewat goresan tangannya adalah potret Soekarno. Ia menggambar sisi kiri wajah Soekarno. Potret ini kemudian hari menjadi perangko ikonik Orde Lama.

Meski mendapat pujian atas karyanya, ia dikenal sebagai sosok kontroversial di tengah perkembangan seni rupa modern. Aliran seninya, Mooi Indie dikecam keras oleh para pelukis yang tergabung dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi).

Meski banyak menuai kecaman, tetapi karyanya tetap lekat di ingatan. Sebut saja Joko Tarub, Pangeran Diponegoro, Rahwana dan Jatayu memperebutkan Dewi Sinta, serta Nyai Loro Kidul yang banyak direproduksi oleh para pengagumnya. Kekaguman seperti ini tidak banyak dinikmati oleh para seniman lain.

Mengunjungi Museum Basoeki Abdullah

Jika kita berjalan dari Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati menuju kawasan Blok M, Jakarta Selatan, kita akan melihat sebuah mural bergambarkan wajah dengan ukuran besar terpampang di tiang jalur MRT.

Mural wajah berukuran besar tersebut bertuliskan " Museum Basoeki Abdullah" dengan tanda panah merujuk sebuah jalan.

Ternyata, tanda panah tersebut merujuk rumah Sang Maestro pelukis Indonesia, Basoeki Abdullah.

Rumah tersebut disulap jadi dua museum yang memamerkan lukisan Basoeki Abdullah yang telah dibuat semasa hidupnya.

Rumah yang terletak di Jalan Keuangan Raya No 19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, ini telah diresmikan jadi museum sejak 25 September 2001 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, I Gede Ardika.

Beberapa tahun berselang, Mendikbud saat ini Muhadjir Effendy kembali meresmikan gedung kedua museum tersebut, tepatnya di sebelah museum pertama Basoeki Abdullah.

Museum tersebut memiliki luas kurang lebih 900 meter persegi dengan kapasitas gedung sebanyak tiga lantai.

Suasana sepi dirasakan Kompas.com saat memasuki museum pukul 10.00, Jumat (5/7/2019).

Ternyata tidak begitu banyak pengunjung yang datang pada hari kerja seperti sekarang.

"Biasanya kalau hari kerja minimal 10 orang per hari yang datang. Kalau weekend bisa sampai 50 atau 70 orang yang datang," kata Humas Museum Basoeki Abdullah, Septian Tito, saat ditemui di lokasi.

Namun harus diakui, jumlah pengunjung museum tahun ini rata-rata naik mencapai angka 700 per bulan. Untuk tahun lalu, angka pengunjung museum mencapai 16.327.

Dari awal 2019 hingga Mei 2019, pihaknya mencatat 4.752 pengunjung telah menyambangi museum.
Kamar mandi milik Basoeki Abdullah yang berada dalam Ruang Memorial.
Kamar mandi milik Basoeki Abdullah yang berada dalam Ruang Memorial. (KOMPAS.com/WALDA MARISON)

Rampungnya proyek MRT dan mudahnya akses transportasi online menjadi salah satu faktor meningkatkannya jumlah pengunjung museum.

"Mungkin karena tempat ini bisa ditemukan dengan mudah jika dengan transportasi online, jadi akses lebih gampang. Selesai proyek MRT juga berpengaruh baik bagi penambahan jumlah pengunjung di sini," kata dia.

Dari anak-anak sekolah, orangtua, para duta besar, hingga rombongan keluarga kerap mengunjungi museum ini hanya untuk melihat karya Sang Maestro.

Mereka menikmati 50 lukisan karya Basoeki Abdullah yang terpajang di setiap lemari kaca.

"Sebenarnya terdapat sekitar 123 lukisan karya Basuki Abdullah yang kami punya, tetapi kami hanya memamerkan 50 lukisan. Nanti lukisan tersebut akan dipamerkan secara bergantian agar pengunjung tidak bosan," ucap dia.

Lukisan "termuda" Basoeki Abdullah

Di sela perbincangannya, Septian mengajak Kompas.com naik ke lantai dua, tempat dipajangnya puluhan lukisan karya Basoeki Abdullah.

Beberapa lukisan karya Basoeki Abdullah serasa menyambut kedatangan Kompas.com saat menaiki lantai dua.

Lantai tersebut terbagi menjadi beberapa sekat ruangan yang berisi lukisan topeng milik Basoeki. Dari lukisan bertema pemandangan, abstrak, potret, atau realis menghiasi setiap dinding.

Tidak lupa lampu kecil di setiap tembok dibiarkan menyala untuk memberikan cahaya yang cukup bagi warna lukisan.

Banyak lukisan yang dijelaskan Septian saat itu. Namun, ada satu lukisan yang cukup menyita perhatian Kompas.com.

Lukisan itu merupakan karya terbaru milik Basuki Abdullah yang terpajang di museum.

Lukisan tersebut dibuat pada 1993 beberapa bulan sebelum Basoeki meninggal. Goresan pertama lukisan tersebut dibuat oleh tangan sang Istri presiden ke-2 RI, Tien Soeharto.

"Jadi ini goresan pertamanya dari Bu Tien, nah untuk selanjutnya diselesaikan oleh Pak Basoeki Abdullah," ucap dia.

Ruang Memorial, tempat Basoeki Abdullah meregang nyawa

Lanjut dari ruang koleksi lukisan dan topeng milik Basoeki Abdullah, Septian mengajak Kompas.com ke lantai 1, tepatnya bekas ruang tamu Basuki Abdullah.

Tidak banyak lukisan yang dipamerkan di ruang tamu. Pengunjung hanya disajikan koleksi buku milik Basoeki Abdullah, meja, dan kursi ruang tamu yang tidak boleh diduduki serta beberapa koleksi senjata dan barang antik milik Basoeki.

Dari kanan merupakan senjata laras panjang yang digunakan perampok untuk menghabisi Basoeki Abdullah, kaca mata yang dipakai Basoeki Abdullah di hari terakhir nya (tengah) dan baju piayam terakhir yang dipakai Basoeki Abdullah (kanan).
Dari kanan merupakan senjata laras panjang yang digunakan perampok untuk menghabisi Basoeki Abdullah, kaca mata yang dipakai Basoeki Abdullah di hari terakhir nya (tengah) dan baju piayam terakhir yang dipakai Basoeki Abdullah (kanan). (KOMPAS.com/Walda Marison)

Namun, ada satu ruang yang menyulut perhatian Kompas.com yakni Ruang Memorial.

Di ruangan ini, Sang Maestro ditemukan tewas bersimbah darah karena dipukul oleh perampok yang ingin merampas harta bendanya. Peristiwa itu terjadi pada 5 November 1993.

"Ya, jadi di sini tempat kejadian almarhum meninggal. Ruangan ini bisa dimasuki cuma dibatasi. Isi ruangan ini masih orisinal, tidak ada yang diubah-ubah," ujar dia.

Ruangan terasa sangat hangat dan tenang saat Kompas.com masuk ke dalam. Semua barang pribadi milik Basoeki tertata dengan rapi di dalam.

Dari pantauan Kompas.com, ruangan tersebut berisi satu tempat tidur dengan sprei merah jambu berikut dua bantal kepala dan satu bantal guling. Tidak lupa selimut kuning bermotif bunga ikut melapis bagian atas kasur dengan rapi.

Di atas kasur juga terdapat hiasan berupa ukiran patung dan beberapa ornamen lain. Hampir di setiap dinding dihiasi foto sosok yang diyakini sebagai Yesus Kristus.

Di samping kasur, terdapat satu meja kecil yang di atasnya terdapat lima tumpuk buku berukuran kantong baju. Satu dari lima buku tersebut merupakan Alkitab.

Menoleh ke arah samping, terlihat ada kamar mandi milik sang maestro. Di sana masih terdapat sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi, dan beberapa peralatan mandi milik Basuki.

Bathtub warna hijau dan lantai keramik berwarna putih dalam kamar mandi tersebut menambah kesan era 1990-an. Benar-benar tidak ada yang diubah pascakepergian Basoeki Abdullah.

Ironis, justru di ruangan yang tenang itu nyawa Basoeki dihabisi.

"Semasa hidup, ruangan ini kerap dipakai beliau sebagai ruang doa dan tempat melukis. Di sini ruang pribadi beliau," ujar Septian.

Di seberang kamar, terpajang pakaian terakhir yang dipakai Basoeki saat pembunuhan itu. Baju piama putih, kacamata, jam tangan, dan senapan laras panjang yang dipakai perampok untuk memukul kepala Basuki terpajang di sebuah lemari kaca.

"Kalau dilihat ini masih ada noda di kacamata, nah ini bekas darah Pak Basuki. Di gagang senapan juga terlihat ada bekas. Itu dipakai perampok untuk melukai Pak Basuki," kata dia.

Tidak terasa, ruang doa Basoeki Abdullah jadi tempat terakhir Kompas.com saat mengunjungi museum. Semua kisah kejayaan dan akhirnya hidup Sang Maestro sangat tergambar dalam gedung ini.

Septian berharap para pengunjung juga bisa merasakan pengalaman yang sama agar dapat lebih mengenal sosok sang legenda lukis Indonesia yang karyanya telah mendunia itu.

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved