Selasa, 21 April 2026

TERUNGKAP! Dokter Eksekutor yang Diduga Memutilasi Wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi Arabia

TERUNGKAP! Dokter Eksekutor yang Diduga Memutilasi Wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi Arabia

kompas.com
Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi Sempat Melawan, ini Transkrip Detik-detik Pembunuhannya 

TERUNGKAP! Dokter Eksekutor yang Diduga Memutilasi Wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi Arabia

POS-KUPANG.COM - 

TERUNGKAP! Dokter Eksekutor yang Diduga Memutilasi Wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi Arabia

Kematian wartawan Jamal Khashoggi usai memasuki Konsulat Saudi Arabia pada 2 Oktober 2018 lalu, mulai terungkap.

Kasus itu dimulai dari Jamal Khashoggi masuk ke Konsulat Saudi Arabia 2 Okotber 2018, lalu kemudian hilang dan tak pernah diketahui lagi keberadaannya.

Diduga kuat, ia dihabisi di dalam konsulat.

Dugaan ini diperkuat dengan rekaman dari arloji apple smartwatch yang dipakai Kashoggi. Ia ternyata mengalami penyiksaan yang sangat sadis dan kemudian dibunuh dan dimutilasi.

Adapun penyelidikan terbaru dari aparat kepolisian Turki mengindikasikan pemimpin eksekusi wartawan Washington Post, Jamal Khashoggi, adalah dr Salah al-Tubaigy.

Dia kini dijuliki "dokter maut" atas perannya di operasi kejam pasukan Saudi itu. Salah al-Tubaigy bukan sosok sembarangan.

dr Salah al-Tubaigy, dokter maut yang diduga memutilasi wartawan Jamal Khashoggi di Arab
dr Salah al-Tubaigy, dokter maut yang diduga memutilasi wartawan Jamal Khashoggi di Arab (ist)

Dia adalah pejabat di Departemen Forensik Kementerian Keamanan Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia. Pendidikan spesialisnya di bidang patologi forensik didapat di Universirty of Glasgow, Inggris.

Selama tiga bulan ia juga mendalami kursus forensik di Victorian Institute of Forensic Medicine di Melbourne, Australia pada 2015. Pendidikan spesialis di luar negeri itu diperoleh Tubaigy atas sponsor pemerintah Riyadh.

Dalam kaitan kasus pembunuhan Jamal Khashoggi di kantor Konsulat Saudi di Istanbul, penyelidik mendapatkan bukti pasti foto dan rekaman video kehadiran Tubaigy dan 14 orang lain ke kota tersebut, dan di komplek konsulat.

Tim eksekutor yang sebagian besar merupakan lingkaran inti pengawal putra mahkota Pangeran Mohammad bin Salman, tiba menggunakan dua jet pribadi. Mereka menginap di sebuah hotel tak jauh dari kantor konsulat.

Setelah Jamal Khashoggi melewati pintu utama konsulat, ia langsung disergap dan digebuki. Ia kemudian dibawa ke sebuah ruangan untuk interogasi cepat penuh aksi penyiksaan. Termasuk memotong jari-jari Jamal.

Para aktivis HAM berdemonstrasi menuntut pembebasan Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Turki (IST)
Semua proses itu diawasi dan dipimpin Tubaigy. Hingga kemudian Jamal dibawa ke sebuah ruangan lain, ditidurkan di sebuah meja dan diikat. Ia kemudian disuntik narkoba hingga tak sadarkan diri.

Konsul Jenderal Saudi di Istanbul, Mohammaed al Otaibi menyaksikan keseluruhan kejadian itu, dan sempat memperingatkan agar penyiksaan tak dilakukan di komplek konsulat. Namun Otaibi diancam untuk tidak bertindak aneh-aneh.

Saat Jamal pingsan itu, Tubaigy dibantu sejumlah eksekutor memutilasi tubuh Jamal untuk menghilangkan jejak keberadaan kritikus tajam rezim Raja Salman dan Putra Mahkota yang bermukim di AS itu.

Tubaigy sempat meminta para eksekutor bekerja cepat, memasang headphone di telinga dan menyalakan musik saat bekerja. Cerita ini disitir Daily Mail, Kamis (18/10/2018), mengutip laporan Middle East Eye dan media pro-pemerintah di Turki.

Dua hari lalu, pejabat Turki yang enggan disebutkan jati dirinya menyatakan, bukti pasti wartawan Jamal Khasoghi dibunuh di Konsulat Saudi Arabia, telah didapatkan para penyelidik.

Namun demikian bukti apa yang ditemukan, pejabat itu enggan mengungkapkannya. Bukti didapat dari penyelidilan forensik selama 9 jam di dalam komplek Konsulat Saudi di Istanbul, Selasa (16/10/2018) WIB.

Presiden Turki Tayyip Erdogan sebelumnya mengemukakan ada jejak nyata beberapa lokasi yang diduga kuat tempat Khadoggi disiksa dan dibunuh di dalam konsulat, telah dicat ulang belum lama ini.

Penyelidik Turki telah memeriksa rumah tinggal konsul Saudi. Hasil penyelidikan awal menyebutkan, ada dua kendaraan mencurigakan keluar dari konsulat, dua jam setelah Khasoghi masuk ke konsulat tersebut.

Kedua kendaraan jenis van berkaca gelap itu bergerak menuju rumah tinggal konsul dan parkir cukup lama di lokasi tersebut. Diduga kendaraan itu membawa jasad Khasoggi yang telah dimutilasi.

Konsul Saudi Mohammed Al Otaibi telah meninggalkan Istanbul, beberapa jam sebelum penyelidik Turki memasuki rumah dinasnya. Otaibi naik pesawat komersial, konon pulang ke Riyadh.

Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. (KOMPAS.com/AFP/MOHAMMED AL-SHAIKH)

Menlu AS Mike Pompeo telah bertemu Raja Salman dan Pangeran Mohammad bin Salman di Riyadh. Pompeo khusus datang ke Saudi guna membahas perkembangan kasus Khasoggi. Ia juga mampir di Ankara, bertemu Presiden Erdogan dan Menlu Mesut Cavosuglu.

Washington sejauh ini berusaha keras menjaga sikap dan keputusannya terhadap Saudi, sekutu terdekat AS di jazirah Arab. Presiden Trump sebelumnya mengancam AS bisa menjatuhkan sanksi keras ke Saudi jika terlibat pembunuhan tersebut.

Ancaman Trump direspon keras pejabat tinggi kerajaan di Riyadh. Saudi siap menyambut sanksi AS dan akan membalas dengan berbagai kejutan yang bisa mengguncang Washington.

Terkait kasus Jamal Khasoggi, pihak Riyadh masih terus menyangkal terlibat. Mereka menyatakan, tuduhan keterlibatan Saudi dalam hilangnya Khasoggi tidak berdasar. Namun kedatangan Pompeo disebut telah mengubah sikap Riyadh.

Pemerintah Saudi menyiapkan laporan yang akan mengonfirmasi peristiwa yang menimpa Jamal Khashoggi sebagai sebuah kekeliruan di lapangan, dan tidak ada perintah maupun sangkutpaut dengan kebijakan penguasa Riyadh.

Kesalahan akan ditimpakan ke sejumlah orang yang tidak mungkin lagi menghindari bukti-bukti yang telah didapatkan penyelidik Turki. Jamal akan diumumkan memang meninggal di komplek konsulat Saudi di Istanbul.

Laporan middleeasteye.com pekan lalu, menyebutkan Jamal Khasoggi memang telah dibunuh. Laporan penelusuran itu ditulis jurnalis David Hearst, diperoleh dari sumbernya di Turki.

Pembunuhan Jamal Khasoggi dilakukan sebuah tim yang khusus didatangkan dari Arab Saudi, dan jejak pembunuhan langsung dilenyapkan, termasuk jasad Jamal.

"Kami tahu kapan Jamal terbunuh, di ruang mana ia dibunuh, lalu di ruang mana jasadnya dilenyapkan. Jika tim forensik diizinkan masuk, mereka tahu ke mana harus mencari," kata sumber yang dikutip Hearst.

Sedangkan media Daily Sabah, menyebutkan ada 15 sosok yang terdeteksi masuk ke Istanbul sebelum Jamal hilang. Salah seorang intel itu bernama Maher Abdulaziz M Mutreb. Ia dikenali sebagai salah seorang pejabat intelijen di bawah kontrol Pangeran Mohammed.

Masih menurut Daily Sabah, otoritas Turki menyelidiki dua pesawat jet pribadi yang mendarat di Istanbul sebelum Jamal hilang.

Pesawat itu membawa 15 orang, yang diduga terkait dengan hilangnya Jamal Khasoggi. Ada dugaan Jamal dibawa keluar Istanbul menggunakan pesawat itu juga.

Rombongan itu check-in ke sebuah hotel, diduga Movenpick Hotel, di dekat konsulat sebelum memasuki gedung konsulat saat Jamal Khasoogi ada di dalam bangunan tersebut.

 
Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Inilah Sang 'Dokter Maut', yang Diduga Memutilasi Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi Arabia

Alasan Jamal Khashoggi Dibunuh

Surat kabar The Washington Post mengindikasikan bahwa Khashoggi, yang merupakan salah satu kontributor seniornya untuk isu kawasan Timur Tengah, dipersekusi lantaran kritik kerasnya terhadap Arab Saudi, terkhusus, pemerintahan Raja Salman dan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS).

Di samping itu, The Post juga menyebut bahwa Khashoggi, "sejak lama merupakan mantan orang dalam di struktur kemapanan pemerintahan Arab Saudi" dan "dekat dengan lingkaran kekuasaan monarki Arab Saudi".

Ia juga pernah bekerja sebagai redaktur media Saudi yang terafiliasi dekat dengan Riyadh dan pernah menjadi penasihat bagi Badan Intelijen Saudi "guna membujuk Osama bin Laden untuk menyelaraskan diri dengan monarki" pada tahun 1980-1990-an. Meski begitu, ia menolak paham Wahabisme, yang kental terasosiasi di media Negeri Petrodollar dan pada Bin Laden.

Oleh karenanya, The Post menilai bahwa kritik yang datang dari Khashoggi terhadap Arab Saudi dianggap "membahayakan" oleh para petinggi monarki, karena, ia dipandang bak pembelot yang buka suara soal aib di dalam negaranya sendiri.

Khashoggi sendiri telah mengasingkan diri ke AS sejak akhir 2017--bertepatan ketika Pangeran MBS memulai persekusi massal terhadap figur top di lingkungan monarki yang berseberangan dengan kebijakannya.

Sejak akhir 2017, ia mulai aktif menulis kolom untuk The Washington Post, yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintahan Pangeran MBS--yang kini menjadi pemimpin de facto Arab Saudi.

Dalam berbagai kolom opininya itu, Khashoggi mengecam kebijakan domestik Negeri Petrodollar dan kebijakan luar negerinya terhadap Qatar dan Kanada, perang di Yaman, dan penindasan terhadap perbedaan pendapat dan media di kerajaan.

Misalnya, kolom opini terakhir yang ditulis oleh Jamal Khashoggi untuk The Washington Post dengan judul "What the Arab world needs most is free expression" mengkritik terbendungnya kebebasan berekspresi di Negeri Petrodollar dan 'Negara Arab' lain yang bertetangga.

kunci pembunuhan jamal khasoggi
kunci pembunuhan jamal khasoggi (iasbh.tmgrup.com.tr)

Kemudian, pada 11 September 2018, Khashoggi menulis kolom untuk The Washington Post berjudul "Saudi Arabia’s crown prince must restore dignity to his country — by ending Yemen’s cruel war", sebagai bentuk kritik dan desakannya terhadap Pangeran MBS agar segera menghentikan Perang di Yaman--yang disulut oleh sang putra mahkota pada 2014.

Sementara itu, pada 20 Maret 2018, Khashoggi menulis kolom berjudul "Why Saudi Arabia’s crown prince should visit Detroit", di mana ia mengkritik Pangeran MBS karena melakukan penelantaran pembangunan dalam negeri dan membuat kota-kota di Saudi yang tak bertumbuh alias mandeg.

Kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch juga berpendapat sama dengan The Post terkait alasan mengapa Khashoggi dipersekusi oleh Saudi.

"Ini merupakan eskalasi lain dari pemerintahan Pangeran Muhammad bin Salman yang menindas para pembangkang dan pengkritik yang bersikap damai," kata Sarah Leah Whiteson, direktur Human Rights Watch Timur Tengah.

Sedangkan, tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, mengatakan bahwa calon suaminya itu "tidak disukai oleh negaranya sendiri."

"(Sebelum masuk ke konsulat) ia sempat khawatir untuk masuk. Bagaimana bisa nyaman apabila ia tidak disukai oleh negaranya?" kata Cengiz kepada The Post.

Di sisi lain, Mohammed Yehia, produser BBC Arabic, mengatakan bahwa klaim tentang 'ketidaksukaan Saudi terhadap Khashoggi' dan 'tuduhan bahwa Khashoggi dibunuh oleh Saudi' merupakan plot konspirasi yang dirancang oleh "negara-negara yang tak suka dengan Arab Saudi."

* Kasus Pembunuhan Jurnalis Arab Jamal Khashoggi, Tim Pembunuh Sempat Berdiskusi Cara Membawa jenazah

Sesaat sebelum jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi datang, Maher Abdulaziz al-Mutreb sempat bertanya kepada dokter forensik Salah Mohammed Tubaigy.

Dalam transkrip rekaman yang dipaparkan oleh pakar PBB Agnes Callamard, Mutreb bertanya kepada Tubaigy bagaimana caranya membawa jenazah Khashoggi.

"Sendinya bisa dipisahkan. Itu bukan masalah besar," kata Tubaigy dikutip Al Jazeera Kamis (20/6/2019). Tubaigy menjelaskan, tubuh Khashoggi berat.

"Pertama, saya akan memotongnya. Jika kita membawa kantong plastik dan memotongnya jadi beberapa bagian, kita membungkus dan membawanya," ujar Tubaigy dalam laporan itu.

Dalam laporan itu, pukul 13.15, Khashoggi pun sampai di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.

Dia kemudian dibawa ke ruang Konsul Jenderal di lantai dua.

Di sanalah, terjadi percakapan di mana Khashoggi sempat ditanyakan apakah dia berniat kembali ke Saudi, yang kemudian dijawab dia bakal melakukannya di masa depan.

Dia kemudian diberi tahu dia bakal kembali pulang.

"Kami datang untuk membawa Anda," ujar sebuah suara. Mutreb kemudian Khashoggi untuk mengirim pesan kepada anaknya.

"Anak yang mana? Apa juga yang harus saya bilang kepada anak saya? Sampai bertemu kembali? Saya tentu tak bisa berkata saya diculik, bukan?" jawab Khashoggi.

Jurnalis Washington Post itu kemudian diminta melepas jaketnya.

"Bagaimana mungkin ini terjadi di kedutaan? Saya tidak akan menulis apapun," ujarnya.

Kemudian salah seorang dalam tim pembunuh itu mendesak Khashoggi supaya mengirim pesan kepada putranya. Jika tidak, Khashoggi bakal tahu bagaimana nasibnya.

Lalu pada pukul 13.33, jurnalis 59 tahun itu menyadari adanya handuk.

"Apakah kalian akan memberi obat?" tanyanya.

"Kami akan membius engkau," jawab tim itu. Kemudian selama tujuh menit, terdapat suara pergumulan yang ditafsirkan oleh para pakar intelijen sebagai Khashoggi mengalami sesak napas menggunakan tas.

Berdasarkan penilaian pada rekaman itu, intelijen memprediksi Khashoggi disuntik menggunakan obat penenang. Kemudian dia dicekik menggunakan kantong plastik. (Kompas.com/Ardi Priyatno Utomo)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved