News

Diduga Konsumsi Daging Sapi Mati, 60 Warga Biboki Selatan Diduga Keracunan, Ini Sikap Bupati TTU

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt menyebut peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan mengagendakan waktu untuk menjenguk para korban

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Benny Dasman
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes saat melihat warganya yang mengalami keracunan di Puskesmas Lurasik, Jumat (18/10/2019). 

 Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Tommy Mbenu

POS KUPANG, COM, KEFAMENANU - Jumlah warga Desa Biloe, Sapaen, Hauteas Barat, dan Desa Taunbaen Timur, Kecamatan Boboki Selatan yang diduga keracunan seusai menyantap daging sapi mati, Kamis (17/10/2019), bertambah dari 50 menjadi 60 orang. Para korban kini dirawat intensif di Puskesmas Lurasik.

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt menyebut peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan mengagendakan waktu untuk menjenguk para korban di Puskesmas Lurasik. "Ini sudah KLB ini karena jumlah korban banyak sekali," ujar Bupati Ray di ruang kerjannya, Jumat (18/10/2019).

Bupati Ray mengatakan, ketika mendengar informasi puluhan warganya mengalami keracunan, pihaknya langsung memerintah petugas untuk melayani dan mengobati korban dengan baik.

"Setelah itu kita teliti, mengapa daging sapi yang dikonsumsi itu bermasalah," terangnya.

Bupati Ray meminta masyarakat agar tidak mengonsumsi daging sapi yang sudah mati karena membahayakan kesehatan.
Kronologi kejadian bermula pada hari Kamis (18/10/2010), sekira pukul 07.40 Wita, sekitar 50 warga di Desa Biloe, Desa Sapaen, Desa Hauteas Barat, dan Desa Taunbaen Timur, Kecamatan Biboki Selatan mengonsumsi daging sapi yang sudah mati.

Sapi milik Edmundus Tnesi Ampolo mati hari Selasa (15/10/2019). Sapi itu disembelih, dagingnya dijual kepada warga, barter dengan padi. Pada saat daging tersebut dikonsumsi, sebagian warga mengalami pusing, mual, muntah, dan diare.

Informasi lain menyebutkan sebelum mati, sapi itu tersebut disuntik dua kali. Suntikan pertama bulan Agustus 2019.

Suntikan kedua tanggal 17 September 2019, sebelum sapi itu mati. Suntikan pertama dilakukan Frans Meo, suntikan kedua oleh Yoseph Lua.

Keduanya bukan pagawai dinas peternakan. Sampai Jumat (18/10/2019), jumlah warga yang keracunan bertambah dari 50 menjadi 60 orang dan dirawat intensif di Puskesmas Lurasik. Satu orang lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Marianum Halulik. *

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved