Seminar Bahas Stunting di NTT
KMKT Sebut NTT Stunting Tertinggi di Indonesia, Mengapa?
Mmahasiswa di NTT harus mengembangkan kualitas SDM dan memperhatikan pola makan dengan asupan gizi yang tepat untuk mencegah stunting
Penulis: Ferry Jahang | Editor: Ferry Jahang
KMKT Sebut NTT Stunting Tertinggi di Indonesia, Mengapa?
Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Ferry Jahang
POS-KUPANG.COM, KUPANG--Komunitas Muda Kaera Tani (KMKT) menggelar Seminar Nasional pertamanya yang bertemakan "Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dan Pola Konsumsi Gizi Seimbang untuk Mencegah Stunting".
Dalam seminar ini juga, komunitas yang masih terbilang baru ini melakukan deklarasi pertamanya dan mengukuhkan secara resmi komunitas tersebut Sabtu, 19 Oktober 2019 dengan menghadirkan peserta 1.200 orang.
Menurut rilis dari Ruth Junita Lasmaria mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undana yang dikirim kepada POS-KUPANG.COM, kegiatan tersebut dibuka Ketua Umum Komunitas Muda Kaera Tani, Yohanis P. Tang di Aula Rektorat Lama Universitas Nusa Cendana.
Pada kesempatan itu, Yohanis P. Tang mengatakan, KMKT ini dibentuk untuk membantu program pemerintah khususnya di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.
Dia menambahkan, masyarakat khususnya mahasiswa di NTT dituntut harus mengembangkan kualitas sumber daya manusia dan memperhatikan pola makan dengan asupan gizi yang tepat untuk mencegah terjadinya stunting.
Ketua Panitia Seminar Nasional ini, Darius Bane Pa menyebutkan, seminar dengan topik khusus stunting ini karena NTT darurat stunting dan juga kebutuhan akan pangan kita masih kurang.
"Stunting ini mempengaruhi kualitas sumber daya manusia," ujar Darius.
Seminar diawali pemaparan dua pembicara yaitu Dosen Fakultas Pertanian Undana, Roddialek Pollo, MSi dan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Dr. Intje Picauly, S.Pi, M.Si
"Jika ingin sehat makanan itu harus sesuai kebutuhan tubuh dengan mengikuti filosofi kesehatan dimana makan untuk hidup bukan hidup untuk makan," jelas Intje Picauly.
Dari hal tersebut lanjut Intje Picauly, kita dapat melihat gizi seimbang dari makanan yang masuk ke dalam tubuh kita.
Intje menambahkan bahwa NTT merupakan peringkat pertama stunting di Indonesia dan selama 12 tahun terakhir belum berubah.
Roddialek Pollo mengatakkan, ketika berbicara stunting itu sangat kompleks dan stunting sudah ada sejak kita berada dalam kandungan.
Dia menyebutkan, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting yaitu pangan, ekonomi, kemiskinan dan budaya. Khususnya kemiskinan yang membatasi masyarakat untuk memperoleh pangan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/komunitas-muda-kaera-tani-kmkt-menggelar-seminar-nasional.jpg)