Enam Kabupaten NTT Rawan Peredaran Narkoba

Enam kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) tergolong rawan terhadap peredaran narkoba

Enam Kabupaten NTT Rawan Peredaran Narkoba
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Kepala BNN Provinsi NTT, Brigjen Pol Teguh Imam Wahyudi SH MM 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Enam kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) tergolong rawan terhadap peredaran narkoba.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi ( BNNP) NTT Brigjen Pol Teguh Imam Wahyudi SH MM kepada POS-KUPANG.COM di kantornya pada Rabu (16/10/2019) petang.

Enam kabupaten tersebut, jelas Wahyudi, terdiri dari Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Sikka di Pulau Flores, Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya (SBD) di Pulau Sumba serta Kabupaten Belu dan Kota Kupang di Pulau Timor.

Polres Sikka Lanjutkan Bagi Helm dan Antar Anak Sekolah

Keenam kabupaten/kota tersebut digolongkan rawan karena selama ini menjadi pintu dari dan keluar wilayah NTT baik dari darat, laut maupun udara.

Meski demikian, Wahyudi mengatakan bahwa NTT bukanlah provinsi tujuan peredaran narkoba, tetapi hanya menjadi wilayah transit atau tempat perlintasan peredaran narkoba.

Tim Teknis Kasus Novel Baswedan Terkesan Tertutup, Ini Penjelasan Humas Polri

"Orang berduit pakainya bukan di sini, tetapi di luar (NTT) seperti di Bali, Surabaya atau Jakarta. Karena disana lebih mudah, lebih aman dan harganya lebih murah," katanya.

Ia bahkan membandingkan harga satuan narkoba jenis sabu yang berbeda. Di NTT katanya, jenis sabu biasa dijual dengan harga kisaran Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta per gram, namun di Jakarta, barang haram tersebut bisa didapat dengan harga Rp 1 juta per gram.

Terkait peredaran narkoba di NTT, kata Wahyudi, didominasi oleh ganja, inex dan sabu-sabu. Namun lagi lagi, ia menyatakan bahwa penyalahgunaannya relatif kecil. Dari beberapa penindakan yang dilakukan baik oleh polisi maupun BNN ditemukan barang bukti kecil, biasanya hanya berkisar nol koma dan tidak sampai satu gram.

"Di sini, barang buktinya (bb) kecil, hanya berkisar nol koma sekian gram sabu, itu pun belinya dari Surabaya, dan dibawa lewat kapal supaya lebih aman, karena lewat bandara lebih ketat," katanya.

Namun seringkali saat penindakan, jaringan peredaran terputus dan tidak dapat dikembangkan baik oleh BNN maupun oleh polisi.

Ia mengatakan, rata rata para pengguna yang terpapar biasanya telah menjadi pemakai saat berada di luar NTT baik sebagai mahasiswa maupun pekerja migran.

"Kita waspadai terutama yang punya anak yang kuliah atau bekerja di luar provinsi NTT, mereka sudah pake. Termasuk anaknya pejabat, sudah pakai atau jadi pecandu saat di kota besar," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved