Berita Puisi

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu, Kepoin Yuk, Siapa Tahu Karyamu Ada di Sini

Puisi-Puisi Yurgo Purab: Tak Akan Pernah/(Buat yang pernah ada)/Barangkali kepulangan adalah rasa sakit yang lebih tabah.

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu, Kepoin Yuk, Siapa Tahu Karyamu Ada di Sini
Hipwee
Merindukan Hujan Turun 

Puisi-Puisi Yurgo Purab
Tak Akan Pernah
(Buat yang pernah ada)

Barangkali kepulangan adalah rasa sakit yang lebih tabah
Selain air mata dan kehilangan yang sederhana
Dia telah memilih pergi untuk suatu rasa yang lelah
Tapi yang melukaimu tak akan pernah memilikimu untuk kedua kalinya!
(Maumere, 2019)

Tak Kebagian SK Pengangkatan Tenaga Kontrak, Sejumlah Guru di TTU Protes

Merindukan Hujan
(Air mata langit adalah surat cinta yang menggenangi wajah bumi)

Angin hanya menyampaikan rindu dari bumi kepada langit
Tentang bibir tanah yang keriput
Biji jagung yang tak berkecambah
Sedang panas lagi melumat retak sawah-sawah para petani
Dan pohon mahoni meluruhkan daun-daunnya
Merindukanmu
Seperti merindukan kekasih yang pergi setahun lalu
Dan tak pernah kembali !

Memanas! Hubungan Rumah Tangga Syahrini Reino Barack Disindir Bukan Luna Maya Tapi Artis Seksi Ini

Doa Pagi

Kepada Kau yang memetik gerimis
Beri kami secangkir embun
Sampai nikmat kami renggut
Di dasar hidup yang paling dalam
Kepada Kau pelabuhan matahari
Tempat bersandar hati yang remuk
Beri kami segenggam cahaya
Dan kami nyalakan pada lorong gelap
Kepada Kau yang hening dalam kabut
Biarkan kami menyuluh dalam doa
Agar berjumpa Engkau pada seluruh hari
Kepada Kau Tuhan, Penjaga pagi
Kami merunduk rendah, menunduk takzim
(Yurgo Purab, Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero, Tinggal di Ritapiret-Maumere).

Ruben Onsu Ungkap Kelakuan Betrand Peto Saat ke Sekolah, Mulai Manja, Minta Diantar ke Luar Rumah

Puisi-Puisi Veran Making
Di Bawah Kaki Langit Negeriku

Di suatu hari yang cerah,
Aku lagi menggambar wajah Negeriku, dengan jemari yang tak lupa
Mengenggam janji bukan kepalsuan
/1/
Setiap perjuangan menyuarakan damai bagi negeri tercinta
Di penghujung hari yang tak pernah terlewati dengan berbagai pesan
Mengenai anak-anak bangsa, memetik bulan-bulan kebahagiaan
Melantunkan lagu Indonesia Raya
Dalam balutan Merah Putih....
"Inilah cara kami bertopang pada keadilan, menyuarakan tangis-tangis
di lorong-lorong kota bagi saudara-saudari kami yang kekeringan kesejahteraan"

/2/
Jejak-jejak hari semakin mempertontonkan hujan-hujan
penyubur janji, "akan kami persatukan setiap kaum,
dengan mendirikan berbagai menara megah, di sana kau akan
temukan wajah-wajah senyuman, yang sudah terpoles dengan aneka manisan."

Sungguh untuk kesekian kalinya khayalan
Menjadi permainan mata-mata
yang haus akan kemakmuran

/3/
Di bawah kaki langit Negeri ini....
Seorang bocah yang sedang beradu
dengan bayangannya sendiri
berkeringatkan setiap usaha untuk memeluk
keberadaan
melantukan sajak-sajak ibu pertiwi
"Ibu adalah negeriku tercinta, aku dibesarkan dengan kebanggaan
Akan perjuangan, darah pahlawanku, tertumpah untuk mimpi-mimpi
Jadilah kenyataan perjalanan untuk mencintai kebersamaan.....
"Negeriku, makmurlah, abadi untuk setiap cita-cita luhur
Tanpa pernah menyerah untuk memerdekakan kaum-kaum pinggiran.....

Untuk itulah bekas-bekas dari setiap perjumpaan
telah melebur dalam kata-kata,
Bagimu Negeriku, Indonesia....
Jayalah selalu!
(Kupang, Sabtu 30 Maret 2019)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved