Breaking News:

Stunting di NTT Masih Tinggi, - 42,46 Persen di Tahun 2018

Angka stunting atau balita yang memiliki tinggi badan kurang di NTT masih cukup tinggi. Pada tahun 2018, stunting di NTT sebanyak 52.46 persen.

Pos kupang.com/oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan pidato radio memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI Tahun 2019 yang berlangsung di Aula Fernandez,Kantor Gubernur NTT, Jumat (16/8/2019) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM/KUPANG - Angka stunting atau balita yang memiliki tinggi badan kurang di NTT masih cukup tinggi. Pada tahun 2018, stunting di NTT sebanyak 52.46 persen.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada Pidato Radio memperingati HUT ke -74 kemerdekaan RI. Pidato ini berlangsung di Aula Fernandez,Kantor Gubernur NTT, Jumat (16/8/2019).
Dalam pidatonya, Viktor mengatakan, pada bidang kesehatan, pemerintah masih menitikberatkan pada penekanan jumlah balita stunting atau balita yang mengalami tinggi badan kurang. Selain stunting, juga soal penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Menurut Viktor, penanganan stunting merupakan titik awal pengembangan SDM NTT yang bermutu dan kompetitif.

"Memang kita sadari bahwa prevalensi balita stunting di daerah ini masih cukup tinggi, yaitu pada tahun 2018 sebesar 42,46 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 30,8 persen, " kata Viktor.

Dijelaskan, kondisi itu menjadi prioritas utama dan sementara diperangi secara bersama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota se-NTT serta stake holder terkait lainnya.

Lebih lanjut, dikatakan, penanganan balita stunting dilakukan dengan melibatkan berbagai sektor seperti kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sektor terkait lainnya.

Dikatakan, upaya lain dilakukan melalui intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu pada masa kehamilan sampai dengan anak berumur 2 tahun.

"Salah satu upaya yang saat ini gencar dilakukan pemerintah dalam mengatasi kekurangan gizi dan stunting, yaitu melalui pemberian makanan tambahan yang tinggi nilai gizi dan nutrisi yang berbahan marungga kepada ibu hamil dan balita di fasilitas-fasilitas kesehatan masyarakat sampai dengan posyandu," ujarnya.

Selain itu,lanjutnya, parameter-parameter kesehatan lainnya, yaitu Angka Kematian Ibu dan Jumlah Kematian Bayi. Angka Kematian Ibu pada tahun 2018 sebesar 158 kasus, lebih rendah 5 kasus di bandingkan tahun 2017. Pada semester pertama tahun 2019 tercatat sebanyak 54 kasus.

HUT ke 74 Kemerdekaan RI - Unit Pelaksana Teknis Kementerian PUPR  di NTT Gelar Aneka Lomba

"Sedangkan kasus kematian bayi pada tahun 2018 sebesar 1.265 kasus dan pada semester pertama tahun 2019 tercatat sebanyak 450 kasus. Penyebab kasus kematian bayi didominasi oleh permasalahan infeksi dan perdarahan.

Kabupaten TTS- Cinta Terlarang Nenek 70 Tahun,Tendangan Maut Cucu Habisi Nyawa Selingkuhan Nenek

Kita berharap di tahun ini dan di masa mendatang realita kehidupan Ibu dan anak semakin baik dan sejahtera melalui berbagai intervensi pemerintah, yaitu, Penguatan Strategi Revolusi KIA, Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), pemenuhan ketersediaan sarana/prasarana kesehatan serta paramedis dan tenaga kesehatan lainnya," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Viktor juga mengajak kepada semua elemen masyarakat di Provinsi NTT untuk mendukung Gerakan NTT Bersih, dengan menjaga kebersihan mulai dari diri kita sendiri dan tempat dimana kita tinggal dan beraktivitas untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asri.

"Perlu kita sadari bahwa kepedulian dan aksi nyata kita semua untuk memerangi sampah, untuk mewujudkan lingkungan yang bersih menjadi salah satu faktor penting gerak langkah dan aksi kita dalam mendukung Pariwisata sebagai Prime Mover pembangunan ekonomi di NTT," ujarnya. (*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved