Marak Bom Ikan, Warga Banitobo Lembata Siap Busur Panah dan Senapan Angin Jaga Laut

Marak Bom Ikan, warga Banitobo Lembata siap busur panah dan senapan angin jaga laut

Marak Bom Ikan, Warga Banitobo Lembata Siap Busur Panah dan Senapan Angin Jaga Laut
Net
Ilustrasi Bom Ikan

Marak Bom Ikan, warga Banitobo Lembata siap busur panah dan senapan angin jaga laut

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Warga Desa Banitobo, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata mulai resah dan kesal dengan maraknya aksi bom ikan oleh oknum tak dikenal di sepanjang wilayah perairan Waiteba dan Pantai Bobu.

Informasi yang dihimpun Pos-Kupang.Com, apabila Pemerintah Provinsi NTT dan pihak kepolisian tak segera bertindak, warga siap menjaga wilayah perairan tersebut dari oknum yang setiap hari melakukan pengeboman ikan di sana dengan busur panah dan senapan angin.

Warga Desa Banitobo, Ignas Koda, ketika dikonfirmasi mengatakan warga di desanya sudah sangat marah dengan tindakan pengeboman ikan di wilayah laut selatan yang merusak biota laut.

Kabar Gembira, Siswa SMA di Kalimantan Tengah Ini Juara Dunia Penyembuh Kanker, Simak Ceritanya

Menurut Ignas, hari ini (12/8/2019) masyarakat mulai berjaga-jaga di pesisir pantai Dulipue dengan senjata yang ada guna menjaga wilayah laut dari aksi bom ikan oleh oknum tak bertanggungjawab.

"Satu hari bisa empat sampai lima kali (bom ikan). Setelah kita tinggalkan lokasi pantai, kita juga tidak tahu sudah berapa kali. Kami juga tidak tahu mereka darimana," sebut Ignas dengan kesal ketika dihubungi via telepon selular, Senin (12/8/2019).

"Kita tidak bisa buat apa-apa karena masyarakat juga takut."

Ignas menyebutkan para pelaku bom ikan itu biasa menggunakan empat sampai lima kapal motor kecil. Lokasi pengeboman juga dilakukan di beberapa titik berbeda.

Selama Sebulan Operasi, Polda Metro Jaya Tetapkan 247 Tersangka Tindak Pidana

"Masyarakat sudah mau bawa busur anak panah untuk jaga secara mandiri.Mereka pakai kapal motor kecil. Jadi bisa 4-5 kapal motor yang lepas bom," pungkasnya.

Masalah pengeboman ikan ini, lanjut Ignas, sudah pernah dilaporkan ke pemerintah desa kemudian ke selanjutnya diteruskan ke pihak berwajib. Namun belum ada langkah tegas yang bisa mengatasi masalah ini.

Halaman
12
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved