Warga Desa Lanaus Alami Kelaparan, Begini Cerita Adelberta Kolo Mendapatkan Makanan

Warga Desa Lanaus Alami kelaparan, Begini Cerita Adelberta Kolo Mendapatkan Makanan

Warga Desa Lanaus Alami Kelaparan, Begini Cerita Adelberta Kolo Mendapatkan Makanan
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Adelberta Kolo saat berada di kebun miliknya di Desa Lanaus, Sabtu (27/7/2019). 

Warga Desa Lanaus Alami kelaparan, Begini Cerita Adelberta Kolo Mendapatkan Makanan

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU - Adelberta Kolo, warga Desa Lanaus, Kecmaatan Insana Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pasrah dengan keadaan. Bancana banjir badang pada Februari 2019 lalu masih melekat dalam ingatannya.

Kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu (27/7/2019) di kebun miliknya, Adelberta menceritakan betapa kagetnya ketika banjir badang menyeret semua jagung di kebun miliknya. Padahal, jagung sudah mulai berbunga, tinggal menunggu waktu yang tidak terlalu lama lagi untuk memanen.

Usut Kematian Siswa SMA Taruna, Polresta Palembang Kembali Periksa 22 Saksi

Namun apa daya, jagung yang ditanam didalam lahan seluas satu hektar lebih terseret banjir tanpa sisah. Bukan hanya jagung saja, banjir bahkan juga membawa semua ternak miliknya.

"Saat tahu bahwa banjir bawa semua jagung, dan ternak, saya pasrah. Saya berpikir bahwa, pasti kami kelaparan sepanjang tahun ini. Dan ternyata benar, tidak ada lagi persediaan jagung sebagai makanan utama kami," kisah Aldelbeta sambil menunjukan hamparan kebun miliknya.

Gubernur NTT Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

Adelberta mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya bersama suami tercinta Dominikus Nesi, harus menjadi buruh bagi masyarakat yang lebih berkecukupan.

"Kadang-kadang, saya harus membantu suami untuk membuat pagar kebun orang punya. Dapat uang baru bisa beli beras. Kalau sudah tidak ada kerja, kita tidak bisa makan lagi," ungkapnya.

Bahkan, kata Adelberta, jika bantuan beras dari pemerintah tidak segera diberikan, dirinya akan mencari ubi hutan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi anggota keluarganya.

"Itu jalan terakhir, kalau misalnya susah tidka ada kerja serabutan yang bisa menghasilkan uang. Jadi kami harus mencari ubi di hutan. Tapi kalau orang yang tidak biasa makan bisa mabuk," ungkapnya.

Tidak sampai disitu saja penderitaan yang dialami oleh Adelberta. Karena kesulitan yang dialaminya, ibu tiga anak itu harus menunda untuk menyekolahkan putra bungsunya.

"Anak saya ada tiga orang, dua orang sudah menikah, satu lagi baru saja tamat SMP. Masih belum bisa lanjut sekolah karena belum ada uang. Mungkin tahun depan baru bisa sekolah," ucapnya.

Adelberta meminta kepada pemerintah Kabupaten TTU agar segera memberi bantuan berupa beras kepada semua warga yang mengalami gagal panen di Desa Lanaus, karena masyarakat sudah mengalami kelaparan.

"Kami minta supaya segera membantu kami, karena kami sudah kelaparan. Tahun 2019 ini banjirnya lebih besar dari tahun yang lalu. Sehingga kami tidak bisa panen. Jagung sudah tidak ada lagi," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved