Apolonaris Geru, Hujan Buatan di NTT Perlu Dilakukan Pengkajian Terlebih Dahulu

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Apolinaris Geru, SP, MSi., menegaskan upaya mengatasi kekeringan ekstrim di wilayah Provinsi NTT perlu pengkajian

Apolonaris Geru, Hujan Buatan di NTT Perlu Dilakukan Pengkajian Terlebih Dahulu
ISTIMEWA
Ilustrasi 

Apolonaris Geru, Hujan Buatan di NTT Perlu Dilakukan Pengkajian Terlebih Dahulu

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Marku Goti

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Apolinaris Geru, SP, MSi., menegaskan upaya mengatasi kekeringan ekstrim di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan hujan buatan perlu dilakukan pengkajian terlebih dahulu.

"Sudah ada koordinasi dengan pemda menyangkut penetapan status daerah mengalami kekeringan oleh BPBD Provinsi. Soal hujan buatan perlu dikaji lagi potensi per-awanan, kelembaban udara, kecepatan angin lapisan atas dan lain-lain," ungkapnya.

Menurutnya, untuk membuat hujan buatan harus didukung dengan kondisi bahwa ada peluang terbentuknya awan. "Dan saat ini kita lakukan pengkajian dulu dan kita masih melihat peluangnya daerah mana yang punya kemungkinan atau punya potensi untuk itu," ungkapnya.

Hal itu Apolonaris saat dihubungi POS-KUPANG.COM, Rabu (23/7/2019). Beliau tengah mengikuti pertemuan dengan Presiden Jokowi di Istanan Negara yang dihadiri oleh unsur BKMG dari berbagai wilayah di Indonesia.

Disinggung soal pertemuan tersebut, Apolonaris menjelaskan, dalam pertemuan tersebut tidak membahas soal kekeringan ekstrim tapi mengenai lokasi potensi bencana dalam kaitannya dengan pembangunan infrastruktur.

"Jadi presiden meminta agar antara Pemda dan BMKG harus ada komunikasi dan koordinasi yang baik. Presiden juga meminta kita (BMKG) berbicara apa adanya kalau ada potensi bencana bukan untuk menakut-nakuti tapi supaya waspada," ungkap Apolonaris.

Pemerintah Provinsi NTT Perlu Lakukan Mitigasi Bencana Kekeringan

Sementara itu, Fera Adrianita, MSi., Kepala Seksi Observasi dan Informasi, Stasiun Klimatologi Kupang saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan, monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) Juli 2019 Provinsi NTT pada umumnya mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat panjang, yaitu 30 hingga 60 hari.

Sementara itu beberapa wilayah yang susah mengalami hari tanpa hujan dengan kategori kekeringan ekstrim (>60) yaitu Kabupaten Ende (sekitar Nanganio), Kab. Sikka (Sekitar Magepanda dan Waigete) Flores Timur (sekitar Larantuka dan Konga) Kab. Lembata (sekitar Wariang dan Wulandoni).

Sumba Barat (Sekitar Waikabubak), Sumba Timur (sekitar Waingapu, Wanga, Kanatang, Lambanapu, Rambangaru dan Kamanggih), Sabu Rai Jua (sekitar Daieko), Rote Ndao (Papela dan Busalangga).

34 Desa di TTS Terditeksi Alami Kekeringan

Di Kota Kupang (Stemet El Tari, Bakunase Oepoi dan Mapoli) Kabupaten Kupang (Oekabiti, Lelogama, Oenesu, Oelnasi dan Sulamu) serta Kab. Belu (Atambua, Umarese, Fatumetan, Fatulotu, Wedomu dan Haekesak).

Dan hari tanpa hujan terpanjang dialami di wilayah Rambangaru, Sumba Timur (126 hari), Wariang, Lembata (115 hari) dan Umarese, Belu (94 hari).(*)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved