SMA Arnoldus Janssen Kupang, Lahurus Baru Memulai Tahun Ajaran 2019-2020

Kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran 2019-2020 Sekolah Menengah Atas (SMA) Santo Arnoldus Janssen, Kupang, diawali dengan perayaam ekaristi di ged

SMA Arnoldus Janssen Kupang, Lahurus Baru Memulai Tahun Ajaran 2019-2020
POS-KUPANG.COM/PAULUS K. BURIN
PERAYAAN EKARISTI- Suasana saat pembukaan tahun ajaran baru 2019-2020 SMA Santo Arnoldus Janssen di Bruderan TDM, Kupang, Sabtu (20/7/2019). Diawali dengan perayaan ekaristi oleh imam konselebran. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran 2019-2020 Sekolah Menengah Atas (SMA) Santo Arnoldus Janssen, Kupang, diawali dengan perayaam ekaristi di gedung sekolah itu di Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM) Kupang, Sabtu (20/7/2019) siang.

Perayaan ekaristi itu dipimpin oleh Pater David Amfotis, SVD, bersama imam konselebran lainnya. Hadir, Ketua Yayasan Arios tempat bernaung SMA Santo Arnoldus Janssen, Pater Yustus Asa, SVD; Rektor Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, P. Dr. Philipus Tulle, SVD dan Kepsek SMA Santo Arnoldus Janssen, P. Drs. Petrus Salu, SVD, MA.

Hadir pula Bendahara Yapenkar, P. Didimus Aryanto, SVD; Pater Dagobertus Sotaringgi, SVD, Bruder Bominikus Doron Botoor, SVD, Pater Julius Bere, SVD, Pater John Salu, SVD, Pater Hendrik Rua, Anggota DPRD NTT, Dr. Anton Bele, para suster dan orang tua siswa.

Juga para pejabat Pemrov NTT, yakni Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda NTT, Drs. Sipri Kelen dan Kepala Bidang (Kabid) SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Drs. Pius Rasi.

Dalam homilinya, Pater David Amfotis yang juga anggota Dewan Provinsi SVD Timor, mengetengahkan banyak hal seputar pendidikan "nilai" atau pendidikan karakter yang masih jauh dari harapan.
Pater David menyebut, pendidikan belum membentuk karakter secara baik. Buktinya, korupsi masih dilakukan oleh kaum terdidik. "Korupsi masih dilakukan oleh mereka yang berpendidikan S3 sampai mereka yang drop out SD. Apalagi terjadi darurat kekerasan pada siswa. Anak merasa tak berdaya menghadapi kekerasan itu," katanya.

Ia juga mengatakan, pendidikan kebangsaan pun makin luntur. Orang semakin radikal dan tak mengenal lagi nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, Ketua Pengawas Yayasan Pendidikan Katolik Santo Arnoldus, yayasan yang mengelola Unwira Kupang, ini mengatakan, pendidikan harus membebaskan, memerdekakan secara lahir dan batin. Pendidikan wajib mengubah sikap dan karakter menjadi lebih baik.

Pendidikan kata Pater David, sesungguhnya suci dan mulia karena tak hanya berurusan dengan hal yang ilmiah saja, namun menyangkut hati nurani dan memberi cahaya bagi orang lain.
Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda NTT, Drs. Sipri Kelen yang membacakan sambutan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan proficiat kepada SVD yang ikut membangun pendidikan di daerah ini.

Begitu pula Kepala Bidang (Kabid) SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Drs. Pius Rasi, mengatakan, pendidikan memang penting untuk membangun karakter manusia menjadi baik. Pendidikan dapat membangun mental dan spiritual anak didik.

Anton Bele, anggota DPRD NTT mengatakan, dalam tataran ideal diharapkan sekolah ini memiliki segalanya. Selain guru yang berkompoten, setiap anak memiliki komputer di kelas sehingga mampu mewujutkan misi besar yang disampaikan kepala sekolah. Anton yakin di tangan SVD idealisme bisa tercapai.

Dari Lereng Lakaan
Ketua Yayasan Arios, Pater Yustus Asa, SVD, ketika memberikan sambutan mengatakan, SVD selalu memulai hal-hal yang kecil, namun sungguh bermartabat bagi umat maupun masyarakat.

Ketika 1 Maret 1913 atau 106 tahun lalu, SVD memulainya di lereng Gunung Lakaan, yakni di Lahurus, Keuskupan Atambua oleh Mgr. Petrus Noyen, misionaris pertama di Pulau Timor, yang juga perfect pertama Apostolik I Nusa Tenggara.

Setelah berjalan sekian lama, SVD hadir kembali untuk memulai etape baru, yakni menghadirkan "Lahurus Baru" di Kelurahan TDM, Kota Kupang, NTT ini.

Hadirnya SMA Santo Arnoldus Janssen, ini kata dia, patut menjadi tekanan bahwa SVD masih hadir dan akan terus membangun peradaban di NTT. Meski dengan berbagai kendala, Pater Yustus mengatakan, kendala atau hambatan itu patut diatasi oleh semua pihak.

Sedangkan Kepala SMA ini, Pater Petrus Salu terus mendorong 56 siswa/siswi angkatan pertama ini untuk belajar dengan tekun. Ilmu dapat diperoleh atau diraih bila dilakukan secara tekun dan terus-menerus. Menurut dia, lebih baik menjadi kutu buku daripada mati kutu.

Saat itu buku 100 tahun SVD di Pulau Timor (1 Maret 1913-1 Maret 2013) yang ditulis oleh Pater Hendrikus Saku Bouk, SVD, S.Fil, M.A, dibagikan penulisnya kepada anak-anak SMA Santo Arnoldus Janssen. (Laporan Wartawan POS- KUPANG.COM, Paulus K. Burin)

Penulis: Paul Burin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved