Berita Puisi

Puisi-Puisi Pos Kupang Mingu Ini, Kepoin Yuk!

Puisi-Puisi Agust Gunadin: Tali Menjadi Takdir Penggantung Diri Tidakkah sedikit menggugah.

Puisi-Puisi Pos Kupang Mingu Ini, Kepoin Yuk!
ilustrasi kompas.com
My Sweet Leprechaun 

Puisi-Puisi Agust Gunadin
Tali Menjadi Takdir Penggantung Diri

Tidakkah sedikit menggugah,
Enigma seseorang ingin mempertahankan hidup
Kata kematian pun menjadi haram
Sebab memang hidup ini sebuah titipan untuk perlu dijaga dan dirawat
Lantas, bau kematian menjadi agak getir
Seseorang cuma menitipkan surat wasiat
"Maafkan aku, sebab dengan cara ini
Kamu merasakan kehilangan"
Kini, riwayat hidupnya dititipkan dalam surat kabar
Namun, bukan sebuah kebanggaan melainkan cacat arti kehidupan
Tuhan belum memanggil
Tetapi keburuan mendapat tiket
Mungkin, kita bertanya
Adakah tempat bagi mereka yang mengusung diri
Untuk dikemas dalam tali yang masih rentang?
(San Camiillo, 14072019: Gnd)

Menanak Tanah untuk Menghidupkan

Mumpung sebuah kata masih diperhitungkan
Sebab kata tidak akan pernah punah, di kala manusia berhuyung
Pada dunia seberang sana
Dengan kata yang sama manusia pun perlu digiring pada
Persoalan yang suram lagi seram
Sebab ini menyangkut kehidupan sekarang dan akan
Kita pun menyoalkan "Nasib Rakyat" terus dikebiri para penambang
Sedang pemerintah tahu, namun pura-pura tidak mau tahu
Lalu melegalkan! Yang terpenting "Bagi Rejeki"
Jika rakyat mengibaratkan tanah sebagai asah dan asih untuk hidup
Lagi pesan kakek dan nenek pun sama pada cucunya
Kata merawat tanah seperti halnya "menanak nasi"
Sehingga di kala penambang berlagak menyusup
Antara rakyat dan pemerintah harus "Bersatu"
Menyindir penambang sebagai penghisap kehidupan
Pengotor rindu
Sekaligus peniada angan untuk terus "menghidupkan"
Bila perlu mengusir adalah cara untuk menjaga keselarasan
Antara manusia dan tanah
Hidup dalam kedaimaian, keadailan dan keutuhan ciptaaan
(San Camillo:Gnd 140709)

Sebuah Mimesis Kotak Sampah

Berhentilah hidup hanya dengan akal dan himbauan
Sebab kadangkala "institusi" hanya hebat menghimbau sehingga
Tubuhnya diperintah oleh akal saja
Dia pun tak memaknai akalnya sendiri
Sebab dia hanya mencoba mengeluarkan huruf dalam "spanduk"
Jangan buang sampah di sembarangan tempat!
Memang, perlu diapresiasi sebuah kinerja itu
Namun, apa gunanya himbauan ditempelkan
Jika tidak dimulai dari "penghimbau" itu sendiri
Mungkin kalimat menyindir
Potret kesadaran buang sampah sembarangan tempat
Masih hidup pada wadah institusi
Belum lagi rumah dinas, nafiri kotak sampah pun
Ditiadakan atau diremehkan
Sebab ini bukan rumah kami!
Hanya hidup untuk sesaat, lalu berceloteh
Sampah urusan mereka bukan urusan kami dan kita
(Maumere, Gnd 160709, Ketua Kelompok Sastra "Salib Merah"-Maumere)

Puisi-Puisi Akuilina Yunita Sidin
Diam-diam

Diam-diam,
Di halaman demi halaman
Di bait demi bait
Pada kata demi kata
Pada Puisi tempat kediaman
Aku membicangkanmu...
Kaupun begitu
Di caramu membuka lembar
Di halaman terakhir
Puisi selesai.
Kau mengasingkanku
Diam-diam.

Pada Hujan

Pada Hujan,
Tempat terbaik menyimpan luka
Saat yg ditunggu mengelabui tawa
Dan Singgah paling tepat setelah mengarungi duka
Pada Hujan,
Menemukan cara bahagia paling kelam
Memdapatkan cara kehadiran paling tentram
DitengaH sakitnya kata pisah menghujam
Pada Hujan,
Ada yang diam-diam menyeka perih
Yang sekuat tenaga membasuh sayatan pedih
Dan yang masih terus berjalan meski letih
Pada Hujan,
Bagaimana aku menemukanmu
Sebagai cara mencintai sakit tanpa memberi tahu
Bagaimana aku menemuimu
Setelah benar-benar pulih -selepas reda
Pada Hujan,
Pada kehilangan yang masih saja dikenang

Siapa Aku

Siapa aku dihadapan pelangi?
Dihadapan secercah harap setelah sempat kalap
Siapa aku dihadapan semesta?
Dihadapan cinta selepas duka nestapa.
Aku debu,
Menempel pada alas bumi mengikut kemanapun semesta berjalan
Aku luka,
Membutuh balutan berharap sembuh setelah lembutnya basuh
Siapa aku dihadapan-Mu?
Dihadapan tentang-Mu, terantuk tak harus jatuh
Namun kembali berdiri tuk terus berjalan
Yah,
Siapa aku dihadapan-Mu Tuhan?
Yang selalu butuh-Mu dalam apapun adaku.

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved