Minggu, 26 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 21 Juli 2019 ''Menjadi Pemimpin Itu Enak?''

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 21 Juli 2019 ''Menjadi Pemimpin Itu Enak?''

Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 21 Juli 2019 ''Menjadi Pemimpin Itu Enak?''. 

Renungan Harian Kristen Protestan

Minggu 21 Juli 2019

Oleh Pdt. Elizabeth Ratu, STh

''Menjadi Pemimpin Itu Enak?''

 "Menjadi pemimpin itu enak, karena ada "hak-hak istimewa' dan 'kekuasaan" yang dilekatkan padanya dan ada "ketaatan dan rasa hormat yang 'diwajibkan" kepada para pengikutnya atau orang-orang yang dipimpinnya.

Dan karena itu semua orang akan senang dan bangga jika menjadi pemimpin atau "dipilih" untuk suatu jabatan tertentu.

Bahkan terkadang orang atau tim suksesnya "terpaksa" berdarah-darah untuknya dengan cara apapun,  akan tetapi orang lupa bahwa untuk menjadi pemimpin orang juga punya kewajiban yang dilekatkan padanya maupun yang dituntut darinya", demikian Mesakh Dethan pada suatu kesempatan.

Namun menurut  Surat Ibrani 13: 7 para pemimpin memang harus ditaati dan berhak mendapatkan "ketaatan dan kehormatan", namun mereka juga memiliki kewajiban  untuk  berjaga-jaga dan bertanggung jawab atas jiwa-jiwa pengikutnya .

Yang terakhir inilah yang menjadi pusat perhatian dari penulis Victor P.H. Nikijuluw dan Aristarchus Sukartodalam buku mereka berjudul "Kepemimpinan di Bumi Baru yang diterbitkan oleh Literatur Perkantas tahun 2014 stebal 352 halaman.

Buku ini terbagi atas 13 Bab, menguraikan kepemimpinan dari sudut pandang analisis kepemimpinan iman kristiani. Beberapa konsep atau pendekatan yang dihasilkan dari kepemimpinan kristiani yaitu: pemimpin yang melayani, pemimpin yang visioner dan misioner, pemimpin yang heroik, pemimpin yang rendah hati, kepemimpinan ilahi dan tema-tema serupa yang terinspirasi dari ajaran kristiani (hal.16). Tantangan dalam kepemimpinan semakin hari semakin besar, kompleks dan multiaspek seiring perubahan zaman (hal.16).

Adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan organisasi dan dunia luar organisasi menuntut kualitas yang lebih tinggi dalam memimpin.

Ketika dunia atau lingkungan mengalami perubahan, maka seorang pemimpin tidak saja  harus dapat memimpin di dunia yang terus berubah itu, tetapi juga memahami penyebab perubahan itu dengan tetap setia berpegang pada prinsip dan kebenaran Alkitab.

Oleh karena itu, pemimpin harus terus belajar untuk berubah, mengadaptasikan dirinya dengan pelbagai perubahan yang terjadi (hal.17).

Dua alasan utama mengapa buku diberi judul Kepemimpinan di Bumi Baru, yaitu yang pertama, adanya kenyataan bahwa dunia mengalami perubahan terus-menerus sebagai akibat perubahan faktor-faktor yang memengaruhinya, yang memunculkan suasanakehidupan baru atau berbeda dengan suasana kehidupan sebelumnya.

Istilah “Bumi Baru” dan bukan “Dunia Baru” digunakan untuk menggambarkan suatu kehidupan nyata, bukan abstrak.Kedua, sesuatu yang lebih prinsipil secara iman kristiani, kita sebagai manusia dijanjikan akan mengalami, berhadapan ataupun hidup di suatu bumi yang baru baik secara fisik berdasarkan karakter-karakter lainnya ataupun baru seperti yang diwahyukan Allah kepada Yohanes dalam Kitab Wahyu 21 (hal.18).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved