Renungan Harian Kristen Protestan
Renungan Harian Kristen Protestan, Rabu 17 Juli 2019: Menuju "Rumah Bersama" Bagi Semua Orang
Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan dari pada-Ku, dan keadilan-Ku dinyatakan
Renungan Harian Kristen Protestan, Rabu 17 Juli 2019
Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Menuju "Rumah Bersama" Bagi Semua Orang Tanpa Sentimen Diskriminatif
PERNAHKAH pembaca yang budiman mengalami bahwa penghargaan dan penerimaan yang diberikan kepada saudara-saudari hanya karena berasal dari suku A, atau B, atau anak dari bapak A atau Bapak B,
atau karena gelar, atau karena jabatan yang ada, (sebagai ketua RT, Lurah, Camat, Walikota atau dalam jabatan lain? Dan bukan karena keberadaan sebagai manusia?
Alkisah ada seorang pendeta yang menceriterakan pengalamannya ketika menghadiri suatu pesta, penerima tamu tidak mengenal sang pendeta. Ia dipersilahkan duduk di kursi belakang.
Tetapi ketika tuan pesta melihatnya berada di belakang sana, ia segera menyuruh orang itu menjemput sang pendeta ke kursi paling depan. Orang itu meminta maaf karena dia tidak mengetahui kalau dia adalah seorang pendeta.
Orang itu kemudian menjadi begitu ramah kepada sang pendeta dan tidak seperti ketika tadi dia pertama kali menyalami sang pendeta.
Itu hanya sebagian kecil dari cerita kehidupan dimana seseorang dihargai karena jabatan atau profesi dan bukan karena ia adalah seorang manusia.
Sikap dan penerimaan kita terhadap orang lain juga banyak kali ditentukan karena statusnya, jabatannya, asalnya dan bukan terutama karena dia adalah manusia ciptaan Tuhan.
Bagian Alkitab kita hari ini dari Yesaya 56:1-8 menceriterakan tentang pengalaman hidup bangsa Israel di negeri asing. Mereka sedang berada dalam pembuangan di Babilonia.
Sebagai akibat dari kekalahan perang melawan Bangsa Babilonia banyak orang Israel yang ditawan dan dibawa ke dalam pembuangan di Babilonia.
Sejak kekalahan perang itu banyak orang Israel yang bahkan sampai dengan generasi ketiga telah tinggal di Babilonia. Mereka juga ada yang sudah kawin mawin dengan orang-orang Babilonia.
Saat itu mereka sedang mengalami banyak kesukaran sebagai orang yang berada di pembuangan,
dan bagaimana mereka harus tetap berjuang untuk mempertahan iman mereka kepada Allah (beberapa penafsir seperti Kathrin Koppe Baumer, Marry C. Barth, dan Gail Sanders, menyoroti aspek ini, Derek Kidner, etc.).
Dalam situasi seperti itulah nabi Yesaya memperdengarkan sebuah berita sukacita berupa pengharapan dalam Iman, bahwa Allah tetap menyertai umatnya dalam setiap situasi apapun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)