Tak Diizinkan Bawa Ponsel Saat Dialog Bersama Kejati NTT, Perwakilan Massa Aksi PMII Walkout

Perwakilan massa aksi PMII Cabang Kupang akhirnya memutuskan walk out saat akan melakukan dialog bersama pimpinan Kejati NTT. Ini penyebabnya

Tak Diizinkan Bawa Ponsel Saat Dialog Bersama Kejati NTT, Perwakilan Massa Aksi PMII Walkout
POS-KUPANG.COM/ RYAN NONG
PMII Cabang Kupang menggelar Aksi Damai di depan Kantor Kejati NTT pada Rabu (372019). 

Tak Diizinkan Bawa Ponsel Saat Dialog Bersama Kejati NTT, Perwakilan Massa Aksi PMII Walkout

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Perwakilan massa aksi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kupang akhirnya memutuskan walk out saat akan melakukan dialog bersama pimpinan Kejati saat aksi unjuk rasa di Gedung Kejaksaan Tinggi Provinsi NTT, Rabu (3/7/2019) siang.

Perwakilan yang terdiri dari Ketua PMII Cabang Kupang Hasnu Ibrahim bersama empat orang pengurus organisasi mahasiswa tersebut tidak menyetujui dan menerima persyaratan yang diberikan pihak Kejati NTT untuk masuk ke dalam gedung dan melakukan dialog.

Saat itu, pihak Kejati sempat mengijinkan dialog bersama usai massa menyampaikan sikap dalam aksi damai di depan gedung yang berada di Jalan Adhyaksa Kecamatan Oebobo Kota Kupang tersebut. Namun karena pihak Kejati memberikan syarat untuk tidak membawa ponsel ke dalam ruang pertemuan maka perwakilan massa aksi menolak dialog tersebut.

5 Fakta yang Latar Belakang Cut Mini Pakai Hijab, Mantab Berhijab Usai Syuting Ikut Aku Ke Neraka

Sebelumnya, massa aksi melakukan demo di depan gedung Kejaksaan Tinggi NTT sejak sekira pukul 10.00 Wita.

Massa menuntut penyelesaian persoalan mega korupsi yang sedang ditangani Kejati NTT yakni kasus korupsi pembangunan NTT Fair di kawasan Bimoku Kota Kupang dan kasus korupsi Pembangunan Monumen Pancasila di Desa Nitneo Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang.

Selain itu, masa juga menuntut pengusutan indikasi korupsi dan tindakan penyengsaraan masyarakat dalam pembangunan gelanggang pacuan kuda di Babau Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang, serta indikasi "permainan" dalam mutasi jabatan Kepala Kejati NTT dr Febrie Adriansyah.

Kejati NTT Berkomitmen Selesaikan Penanganan Kasus Mega Korupsi di NTT

Ketua PMII Cabang Kupang Hasnu Ibrahim mengatakan Kejaksaan Tinggi Provinsi NTT harus bertindak tegas untuk memeriksa dan menangkap koruptor yang diindikasikan bermain dalam kasus kasus korupsi di NTT.

"Apa yang dilakukan PMII Kupang pada hari ini bukan cuma retorika, bukan cuma agitasi dan bukan cuma propaganda belaka. Kapasitas kami bukan untuk mengadili akan tetapi sebagai kontrol sosial sebagai pihak yang senantiasa peka terhadap hajat hidup masyarakat di Provinsi NTT," ucap Hasnu Ibrahim di depan kantor kejaksaan Tinggi Provinsi NTT.

Beberapa hal yang menjadi dasar sehingga PMII Kupang tidak pernah bosan menggelar aksi, jelas Hasnu, yakni PMII menilai belum ada langkah dan upaya nyata untuk menindaklanjuti tuntutan yang disuarakan oleh Jaringan Anti Korupsi dan Peduli Keadilan (AJAK-PK) Provinsi NTT pada pekan sebelumnya.

Persoalkan Lahan Pacuan Kuda, Mahasiswa PMII NTT Gelar Aksi Damai

"Belum ada tindakan yang lebih nyata, belum ada progresivitas yang lebih mengarah kepada kedua skandal  maha besar yang telah merampok, melucuti serta menyengsarakan rakyat NTT," katanya.

Hasnu menilai, Kejati NTT terkesan lamban dalam menangani persoalan Monumen Pancasila. Demikian pula persoalan NTT Fair, hingga saat ini pihak Kejati tidak pernah memberikan SPDP kepada publik NTT.

"Logikanya adalah telah ditetapkan tersangka atas skandal NTT fair tetapi surat perintah penyelidikan tidak pernah diberikan kepada publik. Seandainya Kejati NTT dalam hal menangani persoalan NTT Fair dan Monumen Pancasila tidak mampu, ambigu, bimbang, bingung entah siapa yang harus dilindungi dan siapa yang tepat dan cocok untuk menjadi tersangka maka silahkan lakukan supervisi agar Komisi Pemberantasan Korupsi melanjutkan proses pemeriksaan terhadap dua skandal ini," beber Hasnu. (*)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Adiana Ahmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved