Nantikan Kisah Para Pengelana dari Asia, dalam Teater Kolaborasi Seniman Asia dan Flores Timur
para seniman dari Jepang, Sri Lanka dan seniman- seniman Teater Garasi Yogakarta, tinggal selama 2 minggu di Larantuka untuk berkolaborasi
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Nantikan Kisah Para Pengelana dari Asia, dalam Teater Kolaborasi Seniman Asia dan Flores Timur
POS-KUPANG.COM-LARANTUKA--Teater Garasi/Garasi Performance Institute dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur mempersembahkan sebuah pertunjukan teater kolaborasi seniman Asia dan Flores Timur, berjudul Peer Gynts di Larantuka (Kisah Para Pengelana dari Asia), pada tanggal 6 Juli 2019, di Taman Kota sebelah barat Taman Doa Mater Dolorosa, Lohayong-Larantuka, Flores Timur, pukul 19.00 WITA.
Sesuai keterangan tertulis yang diterima Pos Kupang, Kamis (4/7/2019),
dari 24 Juni sampai 6 Juli 2019, para seniman dari Jepang, Sri Lanka dan seniman- seniman Teater Garasi Yogakarta, tinggal selama 2 minggu di Larantuka untuk berkolaborasi dengan 10 seniman dari Flores Timur untuk saling berbagi pengalaman dan menciptakan sebuah karya pertunjukan kolaborasi.
Selama rentang waktu itu mereka melakukan investigasi dan elaborasi dua isu, yaitu “ketakutan/kecemasan” dan “mobilitas/imobilitas”.
• Bayar Utang, Suami Jual Istri Rp 1,5Juta Juta Lewat Akun Twitter, Incaran Lelaki Hidung Belang
• Perusahaan Diduga Sekongkol Ikut Penawaran Proyek Air Minum Rp 1,9 Miliar di Sikka
• Takut Dihantui Arwah, Pembunuh Bocah 9 Tahun di Bogor Serahkan Diri, Ini Motif Pembunuhan
Masing-masing seniman juga telah melakukan pembacaan atas naskah kanon karya Henrik Ibsen, Peer Gynt (tanpa ‘s’), yang bercerita tentang petualangan Peer Gynt dalam memasuki dunia yang sedang berubah.
Sebuah “dunia baru” yang membuka mobilitas (pergerakan) dan keterhubunganketerhubungan baru, yang menciptakan reaksi penuh kecemasan dan rasa takut yang baru atas dunia yang terasa semakin kompleks.
Naskah Peer Gynt tidak lepas dari kenyataan-kenyataan sosial dan budaya di Flores Timur yang menunjukkan adanya kelindan rumit antara adat lama, budaya, negara modern, dan agama. Kait mengait itu terus membangun dialog yang membentuk kenyataan-kenyataan sosial, kultural, ekonomi, politik di Flores Timur hari ini.
Para seniman Teater Garasi yang terlibat ialah MN Qomaruddin, Arsita Iswardhani, Gunawan Maryanto, dan Ignatius Sugiarto; dari Flores Timur, Silvester Petara Hurit (Nara Teater), Inno Koten (Sutradara dan penulis naskah), Dominikus Dei (Sanggar Mura Lewo), Lidvina Lito Kellen (Sanggar Sasong Lureng).
Selain itu Aloysius Wadan Gawang (Sanggar Lodan Doro), Veronika Ratumakin (Sanggar Sina Riang), Stanley Tukan (Perupa), Philipus Tukan (Perupa), Magdalena Oa Eda Tukan (Nara Teater), Rusmin Kopong Hoda (Seniman Gambus), dan Beatrix Tukan (Perancang Kostum); seniman luar negeri, Takao Kawaguchi, Micari Fukui, Yasuhiro Morinaga (Jepang), Venuri Perera (Sri Lanka), dan Nguyen Manh Hung (Vietnam).
Pertunjukan ini disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin bersama Ugoran Prasad sebagai dramaturg—keduanya dari Teater Garasi.
Proses kolaborasi dan pertunjukan Peer Gynts di Larantuka ini juga didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, serta Shizuoka Performing Arts Center (SPAC).(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)