Produksi Sophia Harus Beri Nilai Tambah Ekonomi

Daerah lain seperti di Manado, DKI Jakarta dan lainnya, ada produk minuman beralkohol lokal yang sudah dipasarkan secara bebas. Karena itu, di NTT jug

Produksi Sophia Harus Beri Nilai Tambah Ekonomi
POS-KUPANG.COM/GECIO VIANA
Suasana peluncuran Sophia di samping Gedung UPT Laboratorium Riset Terpadu Biosain Undana Jln Adisucipto Penfui, Kupang, Rabu (19/6/2019) sore. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM/KUPANG - Anggota DPRD NTT mengatakan, produksi minuman tradisional beralkohol atau sopi yang akan disebut Sophia harus bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat NTT.

Pasalnya, sopi selama ini merupakan salah satu aset masyarakat NTT.
Hal ini disampaikan Anggota DPRD NTT, Boni Jebarus, Rabu (26/6/2019).
Menurut Bonjer, sapaan Boni Jebarus,

Daerah lain seperti di Manado, DKI Jakarta dan lainnya, ada produk minuman beralkohol lokal yang sudah dipasarkan secara bebas. Karena itu, di NTT juga bisa dijadikan produk khas.

BREAKING NEWS: Serangan Belalang Kumbara Kuasai 10 Hektar Padang Tandening, di Sumba Timur

Dia mengatakan, kebijakan bapak gubernur NTT untuk mengembangkan minuman beralkohol tradisional NTT patut didukung. Alasannya, minuman beralkohol di NTT sudah menjadi aset yang apabila dikelola secara profesional maka akan berdampak ekonomi.

Kapolres Belu Berharap Penonton El Tari Cup di Malaka Saling Jaga Situasi

"Saya katakan ini, karena saya melihat di provinsi lain ada minuman beralkohol dengan ciri khas tersendiri, bahkan katika orang masuk di daerah itu sudah tahu bahwa ada produk minuman beralkohol. Jadi saya kira NTT juga bisa produksi minuman alkohol yang baik, namun perlu diupayakan agar ada Perda," kata Bonjer.

Pengantim Perempuan Tewas saat Berhubungan Mesum Maraton 48 Jam dengan Suami, Ini Aksinya

Lebih lanjut , Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT ini mengatakan, beberapa provinsi sudah memasarkan minuman beralkohol lokal dan menjadi produk khas. Berkaca dari situ, berarti peredaran minuman beralkohol sebenarnya tidak dilarang, asalkan ada aturan untuk konsumsi maupun peredarannya. (*)

Anggota Komisi IV DPRD NTT, Boni Jebarus
Anggota Komisi IV DPRD NTT, Boni Jebarus (POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru)
Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved