Peran Maria Lopez, Peavita Pearce Belajar Bahasa Belu, Baru Tahu Ternyata Orang Timor itu Halus

ahkan, agar perannya lebih mendalam, wanita blasteran Banjarmasin-Wales ini harus bersusah payah memperlajari bahsa lokal Belu atau Tetun.

Peran Maria Lopez, Peavita Pearce Belajar Bahasa Belu, Baru Tahu Ternyata Orang Timor itu Halus
POS-KUPANG.COM/EFLIN ROTE
Artis Yama Carlos (kanan) saat konferensi pers gala premier film Rumah Merah Putih bersama Pevita Pearce dan Ari Sihasale di Lippo Plaza Kupang, Sabtu (15/6/2019) 

Peran Maria Lopez, Peavita Pearce Belajar Bahasa Belu, Baru Orang Timor Ternyata Halus

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Artis perang berparas cantik Peavita Pearce memiliki kesan tersendiri saat menjalani pengambilan gambar untuk film Rumah Merah Putih.

Dalam akun youtue citraselebriti com, Peavita Pearce bercerita tentang pengalamannya mulai dari lawan mainnya hingga para kru lokal.

Bahkan, agar perannya lebih mendalam, wanita blasteran Banjarmasin-Wales ini harus bersusah payah memperlajari bahsa lokal Belu atau Tetun.

Peavita Pearce yang menikmati suasana di Belu ini mengisahkan menjadi tantangan tersendiri berperan sebagai Maria Lopez, apalagi pengambilamn gambar berlangsung di wilayah perbatsan.

Red Velvet Teaser Terbaru MV Zimzalabim, Penggemar Dibuat Penasaran

Emak-Emak Peserta Aksi di MK Pakai Masker Bertanda X, Ini Maksudnya!

Dewan Pers Sebut Pemberitaan Tim Mawar Tempo adalah Karya Jurnalistik, Kesimpulan Sementara!

Pevita Pearce
Pevita Pearce (Tribunnews)

"Ini upaya aye opening bahwa di Indonesia masih banyak tempat-tempat yang unik, untuk itu Rumah Merah Putih mengangkat NTT , seperti tadi yang Mba Nia jelaskan bahwa NTT ini dibawa ke Jakarta dan mudah-mudah-mudahan bisa terefelksikan kehangatan NTT di film Rumah Merah Putih," jelas Peavita.

Untuk urusan bahasa, Peavita mengaku mendapat bantuan seorang guru, Kaka Nato untuk bisa berbahsa Belu. "Kita tahu bahasa di Indonesia kaya sekali akan culture, jadi setiap kota walaupun di satu daerah beda kota pun itu bahsa sudah berbeda lagi," ujar Peavita.

Selain pengambilan gambar untuk film, Peavita juga menceritakna pengalamannya selama di NTT. Aktivitasnya antara lain hunting bahan tenun ikat, ia juga menjajal aneka kuliner khas NTT. " Di sana selain hunting bahan kain-kain tenun, juga makanan. Di sana ada se'i, itu daging asap. Jadi seru banget," kisahnya.

Selama lebih dari sebulan di Belu, Peavita juga mengakui alam di wilayah ini yang Indah bahkan ia hampir tidak menyadari bahwa ini adalah bagian wilayah Indonesia.

"Belum tentu aku bisa shoting Rumah Merah Putih, aku bisa melihat spot-spot yang sangat cantik. Dan, beberapa tempat di NTT itu ketika ketika shoting untuk Rumah Merah Putih ini aku negara tidak lagi di Indonesia, karena cantik sekali dan aku berharap kita Indonesia mengetahui bahwa kita punya kekayaan alam seperti itu," jelasnya.

Peavita juga terkejut dengan bahasa yang digunakan warga lokal. Awalnya ia mengira ada orang lagu barentam, belakangan kalau bahasa yang digunakan merupakan kebiasaan.

"Ada beberapa kru yang orang sana, kalau kita lihat seperti galak banget, tetapi pas sudah kenal, mereka baik sekali dan mereka benar-benar mengutamakan kekeluargaan. Aku sampai nanya ke mereka, kaka, kanapa kaka seperti galak sekali. Oh, tidak kami hanya kepanasan sa. Karena kalau kita tidak pahak yang mereka bicarakan, itu seperti barentam, padahal mereka lagi bicara halus," jelasnya. *

Penulis: Alfred Dama
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved