Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Selasa 11 Juni 2019 ''Keberhasilan Orangtua yang Terkubur dalam Makam''

Renungan Harian Kristen Selasa 11 Juni 2019 ''Keberhasilan Orangtua yang Terkubur dalam Makam''

Renungan Harian Kristen Selasa 11 Juni 2019 ''Keberhasilan Orangtua yang Terkubur dalam Makam''
dokumentasi pribadi
Renungan Harian Kristen Selasa 11 Juni 2019 ''Keberhasilan Orangtua yang Terkubur dalam Makam'' 

Lalu pertanyaannya: Siapa yang salah?

Pertama: Sebagai orangtua. Hizkia melewatkan begitu banyak waktu tanpa mendidik Manasye menjadi anak yang baik.

Hizkia membawa segala kebaikan kebaikan dan keberhasilannya sebagai seorang pemimpin ke dalam liang kubur dan membiarkan anaknya memporak-porandakan generasi selanjutnya.

Kedua: Manasye melakukan segala hal menurut keinginannya sendiri.

Teladan ayahnya, tidak membuat Manasye tertarik.

la malah menghancurkan banyak hal yang telah diletakkan ayahnya Hizkia.

Beberapa hal dapat direnungkan:

Pertama: Banyak orang membawa pergi kesuksesan mereka dan membiarkan anak-anak mereka menghancurkan apa yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Kedua: Waktu kita bersama anak-anak terbatas karena itu pakai sebaik mungkin untuk mendidik mereka, sebab waktu yang berlalu tidak akan kembali.

Memang tantangan saat ini, ialah; Keluarga-keluarga Kristen sedang terancam  oleh perkembangan dunia yang sangat cepat.

Di jaman sekarang, membesarkan anak-anak dan menanamkan iman Kristiani dalam diri mereka menjadi lebih sulit, karena kondisi dunia sekarang memang sering bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani.

Bahkan dinamika kehidupan di dalam rumah kita sendiri sering menambah sulitnya penerapan nilai- nilai Kristiani.

Kesibukan masing-masing anggota keluarga (baik orangtua maupun anak),  pengaruh media, pola hidup konsumtif, mental ‘tidak mau repot’, adalah beberapa contohnya, mengapa orang tua menghadapi tantangan yang besar untuk melaksanakan peran mereka sebagai pendidik utama bagi anak- anak dalam keluarga, terutama dalam hal iman.

Dewasa ini rumah hanya sebagai tempat transit untuk melanjutkan lagi berbagai aktivitas karena tiap-tiap anggota keluarga sangat sibuk dengan urusan mereka masing- masing sehingga tidak ada waktu yang cukup untuk saling berkomunikasi, berdoa bersama dan mendalami Firman Tuhan.

Kurangnya perhatian dari orang tua mengakibatkan anak- anak mencari kesenangannya sendiri, asyik dengan dunia mereka sendiri, dan mencari pemenuhan kebutuhan mereka untuk diperhatikan dan dikasihi dengan cara mereka sendiri.

Seiring dengan perkembangan jaman, ruang dialog dalam keluarga kita justru dipenuhi dengan hal-hal lain.

Bukan lagi orangtua yang bercerita kepada anak, namun televisi, gadget yang sekarang menjadi pencerita.

Ketiga: Keluarga harus menjadi sekolah pertama untuk menanamkan kebajikan Kristiani.

Dalam suasana kasih inilah, keluarga harus menjadi sekolah yang pertama untuk menanamkan nilai- nilai dan kebajikan Kristiani, seperti: memaafkan kesalahan orang lain, belajar meminta maaf jika berbuat salah, saling menghormati, saling berbagi, saling menolong, saling menghibur jika ada yang kesusahan, saling memperhatikan terutama kepada yang lemah, sakit, dan miskin, saling mengakui kelebihan dan kekurangan tiap- tiap anggota keluarga, rela berkorban demi kebaikan orang lain, dan seterusnya.

Orang tua selayaknya memberikan teladan dalam nilai- nilai Kristiani tersebut, dan bukan hanya dengan perkataan, tetapi terlebih dengan perbuatan.

Anak- anak akan dengan lebih cepat belajar melalui teladan perbuatan orang tua daripada dari apa yang diajarkannya melalui perkataan saja.

Orang tua tidak boleh enggan untuk memberi koreksi jika anak melakukan kesalahan, namun tentu saja koreksi itu diberikan dengan motivasi kasih.

Jadi dalam penerapannya adalah, orang tua boleh tegas, tetapi jangan sampai kehilangan pengendalian diri pada waktu menegur anak kita.

Selanjutnya, setelah memberikan koreksi, dan anak telah menyadari kesalahannya; penting sekali anak itu kembali dirangkul dan menerima peneguhan bahwa kita sebagai orang tua tetap mengasihinya.

Maka tujuan koreksi tersebut adalah pertama-tama bukan supaya mereka takut kepada kita orang tuanya, tetapi supaya anak- anak dapat mengetahui bahwa  perbuatan salahnya itu mendukakan hati Tuhan. Amin.

Editor: maria anitoda
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved