Renungan Harian
Renungan Harian Kristen Protestan Senin 3 Juni 2019, "Air Mata Cinta"
Renungan Harian Kristen Protestan Senin 3 Juni 2019, "Air Mata Cinta" oleh Pdt Dina Dethan Penpada MTh
Meratap: tidak sekedar tetesan air mata, tetapi cucuran air mata yang disertai tangisan dan jeritan yang histeris sebagai ungkapan kesedihan tetapi juga penghormatan terhadap Sara istrinya.
Alkitab tidak menceriterakan secara detail bagaimana perasaan Ishak pada saat Sara meninggal, tetapi dapat dipastikan bahwa Ishak sangat kehilangan mamanya.
Pada saat itu Ishak berusia 37 tahun dan ia belum menikah.
Abraham meratapi istrinya, oleh karena Sara istrinya telah menghabiskan sebagian hidupnya bersamanya.
Sara mengikuti Abraham dari Ur-Kasdim sampai ke Haran, kemudian ketanah Kanaan.
Karena bencana kelaparan di Kanaan, Sara mengikuti Abraham meninggalkan Kanaan menuju Mesir.
Dari Mesir, mereka kembali lagi ketanah Kanaan.
Suka dan duka silih berganti dialami Sara dalam menyertai suaminya sepanjang ribuan kilometer (Kejadian 11:l31; Kejadian 12:4-6; Kejadian 12:10-11; Kejadian 13:1-3).
Ketika berpindah-pindah, Sara mesti membantu suaminya membereskan kemah, membawa ternak dan mendirikan kemah lagi.
Sara juga bersama Abaraham bergumul menanti janji Allah, dan dalam penantian itu ia pernah meragukan janji Allah.
Namun melalui pengalaman-pengalaman itu, ia bukan saja makin mencintai Sara, tetapi ia terus belajar berjalan setia pada Tuhan.
Hal itu terbukti ketika Tuhan Allah meminta Abaraham mempersembahkan Ishak, tidak ada catatan sama sekali tentang protes yang diajukan mereka berdua sebagai orangtua kandung Ishak.
Sudah sebagai ibu, tentu mengalami pergumulan batin yang sangat berat ketika Ishak dibawa oleh Abaraham ke Moria.
Namun ia diam membisu demi memenuhi panggilan Allah.
Sara sendiri meninggal dunia pada usia 127 tahun atau 37 tahun setelah melahirkan Ishak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pdt-dina-dethan-penpada-mth.jpg)