Diskusi Pancasila, Mery Kolimon: Tidak ada Mayoritas Minoritas

Makin dekat ke tanggal 17 April, makin bahaya situasi ini. Ada orang tidak mau dimakamkan karena pilihan politik.

Diskusi Pancasila, Mery Kolimon: Tidak ada Mayoritas Minoritas
POS KUPANG/AMBUGA LAMAWURAN
Marianus Kleden (berdiri), Dekan FISIP Unwira Kupang, sewaktu membuka kegiatan diskusi publik 'Wawasan Pancasila: Menegaskan Pancasila sebagai Titik Temu Bersama' di Auditorium Lantai 2 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Kamis (21/3/2019). 

Diskusi Pancasila, Mery Kolimon: Tidak ada Mayoritas Minoritas

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Ketua Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon, mengatakan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, istilah mayoritas dan minoritas perlu dihilangkan.

"Kita mesti bertobat dari pemikiran bahwa kita mayoritas dan mereka minoritas. Atau sebaliknya. Perlu ada pertobatan. Untuk membangun bangsa ini, hal-hal itu perlu dihilangkan," kata Mery Kolimon dalam acara Diskusi Publik 'Wawasan Pancasila: Menegaskan Pancasila sebagai Titik Temu Bersama'.

Acara itu digelar di Auditorium Lantai 2 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Kamis (21/3/2019).

Dikatakan, persoalan bangsa ini makin hari makin kompleks.

"Makin dekat ke tanggal 17 April, makin bahaya situasi ini. Ada orang tidak mau dimakamkan karena pilihan politik. NTT juga tidak kebal terhadap radikalisme. Masih ada pemikiran mayoritas dan minoritas," ujarnya.

Dari perspektif Kristen, imbuhnya, ada pula pandangan PGI tentang Pancasila.

"Bagi PGI, Pancasila adalah jawaban terhadap tantangan di awal berdirinya bangsa ini. Pancasila memberikan kita bayangan bangsa macam apa yang akan kita bangun. Bagi Kristen, tidak ada masalah tentang pemahaman Pancasila. Karena, lima sila Pancasila tidak menentang Alkitab," ungkapnya.

Bupati Don Ingatkan Generasi Muda Tidak Boleh Usang

Penahanan Terhadap Tersangka Kasus Korupsi Embung Erwan Bitin Bere Ditangguhkan. Ini Alasannya

Alasan Jungkook Dijuluki Golden Maknae, Member BTS Ungkap Pendapat Mereka

Marianus Kleden, Dekan FISIP Unwira Kupang, sewaktu diberikan kesempatan memberikan sambutan mengatakan, ideologi Pancasila pernah dijauhi orang-orang pada masa Orde Baru.

"Masa Orde Baru, Pancasila menjadi bahan doktrin, maka orang perlahan-lahan menjauhi Pancasila. Padahal pancasila ini penting," katanya.

Karena itu, katanya, diskusi ini merupakan kesempatan emas agar semua orang bisa berdiskusi tentang Pancasila.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran)

Penulis: Lamawuran
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved