Trend Gizi Buruk di TTU Menurun Drastis
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, dr. Zakarias Fernandes mengatakan, trend berkaitan dengan kasus Gizi Buruk di Kabupaten TTU menurun drastis
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, dr. Zakarias Fernandes mengatakan, trend berkaitan dengan kasus gizi buruk di Kabupaten TTU menurun drastis dari tahun ke tahun.
Dijelaskannya, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, kasus gizi buruk pada tahun 2017 sebanyak 49 kasus, tahun 2018 sebanyak 33 kasus, dan tahun 2019 ini sebanyak 7 kasus.
"Jadi tren kasus gizi buruk di Kabupaten TTU untuk tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan," kata dr. Zakarias kepada POS- KUPANG.COM melalui sambungan telepon, Selasa (19/3/2019).
• PDAM Tirta Komodo Tanda Tangan MOU dengan Kejari Manggarai,Ini Tujuannya
dr. Zakarias mengatakan, tujuh penderita kasus gizi buruk tersebut diantaranya satu pasien berada di Puskesmas Eban, dan satu pasien berada di Puskesmas Haikto.
"Dua pasien itu sudah dirawat di dua puskesmas itu dan saat ini sudah sembuh. Karena berat badan mereka sudah stabil," ungkapnya.
• Uskup Larantuka Tak Keberatan Bangun Gedung DPRD, Asalkan Lakukan Ini
Lanjut dr. Zakarias, lima pasien gizi buruk yang lainnya telah dirawat di Panti Rawat Gizi yang berada di Puskemas Sasi. Lima pasien gizi buruk itu juga sudah dalam kondisi sembuh.
"Semua mereka lima orang pasien gizi buruk, dua dari Bijaepasu, satu dari Inbate, satu dari Sasi, satu dari Ponu semua sudah sembuh dan mereka sudah di pulangkan," jelasnya.
dr. Zakarias menambahkan, jika nantinya ada pasien yang dirujuk karena terdaapt penyakit penyerta, maka pasien tersebut harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten TTU.
"Kalau penyakit penyerta sudah sembuh maka perawatan untuk gizi buruknya akan dilakukan langsung di Panti Gusi Buruk di Puskesmas Sasi," jelasnya.
dr. Zakarias mengatakan, perawatan di Panti Gizi Buruk tersebut dilakukan agar pasien gizi buruk dapat diberi makanan tambahan sesuai dengan yang ada agar berat badan pasien normal kembali.
"Jadi di Panti Rawat Gizi itu gratis, mereka dijemput, dan disana juga dibiayai makan minum orang yang menjaga pasien itu. Jadi kalau ada ibunya yang menunggu berarti nanti dibiayai makan minum ibunyai itu," terangnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi)