Kamis, 9 April 2026

Ini Isu yang Dibahas, Radikalisme, Intoleran, SARA dan Hoax Jelang Pemilu 2019

Tiga pembicara akan dihadirkan guna berbicara soal isu radikalisme, intoleran, SARA dan hoax jelang Pemilu 2019.

Penulis: Aris Ninu | Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/DOK
Ketua GMNI Manggarai 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu

POS-KUPANG-COM-RUTENG-Tiga pembicara akan dihadirkan guna berbicara soal isu radikalisme, intoleran, SARA dan hoax jelang Pemilu 2019.

Ketiga pembicara itu yakni Kapolres Manggarai, AKBP Cliffry Steiny Lapian, SIK, Dandim 1612 Manggarai, Letkol Inf. Rudi Markiano Simangunsong, S.Sos dan Kepala Kesbangpol Manggarai, Heri Ngabut.

Ketiga pembicara ini akan berdiskusi dengan publik di Kantor RSPD Manggarai, Jumat (15/2/2019) mendatang.

Demikian Rikardus Joman, Ketua GMNI Cabang Manggarai dalam relese kepada POS-KUPANG.COM di Ruteng, Rabu (13/2/2019) sore.

Ia menjelaskan, dialog interaktif tema “Meredusir Isu Radikalisme, Intoleran, SARA dan Hoax Jelang Pemilu 2019 Di Kabupaten Manggarai didasari Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kurang dari 500 suku bangsa lebih dari 300 macam budaya, lebih dari 700 bahasa dan juga keragamana agama/kepercayaan.

"Ini semua merupakan aset aset kekayaan Bangsa Indonesia. Namun, dibalik perbedaan yang ada seperti suku, agama, ras, etnis, dan antar golongan tersebut, isu agama seringkali dimanfaatkan oleh oknum/kelompok yang tidak bertanggung jawab dalam memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," kata Rikardus.

Ia mengungkapkan, paham radikalisme merupakan suatu aliran yang mengejawantahkan prilaku intoleran dan aliran garis keras yang menantang Ideologi Negara Pancasila.

Limbah RPH Oeba : Jefri Riwu Kore Tegaskan Sudah Lapor Polisi untuk Proses Hukum

"Ideologi Pancasila yang merupakan asas tunggal ideologi yang digunakan oleh bangsa Indonesia saat ini mengalami maraknya ancaman dari aliran-aliran represif dan radikalis.

Hal tersebut sungguh membutuhkan upaya-upaya konkret dari pemerintah terkait maupun para aktivis baik dari kalangan mahasiswa maupun pemuda umumnya untuk menangkal adanya gerakan-gerakan anti pancasilais tersebut," ujar Rikardus.

Sebagaimana diketahui, adanya aliran radikal ini muncul dari luar Indonesia akibat kurangnya penyaringan dari seluruh stakeholders dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa pada umumnya.

Disamping itu, tutur Rikardus, budaya bebas yang merupakan akulturasi budaya lokal dan buaya luar saat ini terlihat jelas dapat mengancam keaslian budaya lokal Indonesia.

"Ancaman-ancaman tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja mengingat bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang berbeda, maka harus ada upaya-upaya yang dapat mempersatukan agar dapat menangkal ancaman-ancaman tersebut terutama paham-paham radikalisme dan budaya bebas di Era Globalisasi.

Kabupaten Manggarai sebagai bagian dari bangsa Indonesia tidak luput dari paham yang dapat memecah belah persatuan bangsa," papar Rikardus.

Ia menegaskan, fakta di atas yang melatarbelakangi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai mengadakan dialog interaktif.

"Tujuan dialog ingin memberi pemahaman terhadap masyarakat tentang bahaya paham Radikalisme, Intoleran, Sara, dan Hoax di wilayah Kabupaten Manggarai. Dan bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menangkal paham radikalisme, Intoleran, Sara, dan Hoax umumnya di Indonesia dan khususnya di Manggarai," papar Rikardus.(*s)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved