Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi Sebut Damyan Godho Pantas Mendapatkan Mahkota
Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, menyebut pendiri Pos Kupang, Damyan Godho pantas mendapatkan mahkota kehidupan
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Agustinus Sape
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, menyebut pendiri Pos Kupang, Damyan Godho yang telah berpulang pantas mendapatkan mahkota kehidupan atas semua hal yang telah ia perbuat selama hidup.
"Dia pantas mendapatkan mahkota di surga dan dunia," katanya saat memberi testimoni di hadapan para pelayat usai misa requiem di Gereja Paroki St Fransiskus Asisi BTN Kolhua Kota Kupang, Rabu (31/1/2019) malam.
Ia pun membuka testimoninya dengan pepatah kuno 'Siapa yang Berjuang Secara Sah dan Tidak Putus Asa Pantas Mendapatkan Mahkota.' Pepatah ini pun ia sematkan kepada Damyan Godho.
"Saya kenal baik Om Damy sejak tahun 1978. Dia sangat tegas, tidak pernah putus asa dan sangat luar biasa.
Pada tahun 1978, saya datang sebagai mahasiswa untuk KKN di NTT. Dia bilang kamu sekolah tinggi tapi tidak berbuat sesuatu untuk NTT, kamu bukan apa-apa," ujarnya menirukan ucapan Om Damy.
Menurutnya, pada tahun 1978 orang tidak pernah dengar kata 'literasi' tetapi Damyan Godho mempraktekkan apa itu literasi melalui pers.
Mans Mandaru, perwakilan keluarga, mengungkapkan perasaan kehilangan yang sangat mendalam dari keluarga.
Misa requiem dipimpin Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, dan 12 imam konselebrantes diantaranya Romo Gerardus Duka, Romo Simon Tamelab, Romo Dus Bone, Romo Sipri Senda, Romo Rudi Tjung Lake, Romo Ambrosius Ladjar, dan Pater Dagobertus Sotaringgi.
Hadir juga para tokoh pers NTT, tokoh umat katolik dan ratusan pelayat lainnya.
Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Dion DB Putra memberikan testimoni mengharukan Damyan Godho.
Di hadapan keluarga dan ratusan pelayat yang memenuhi gereja, ia mengatakan, Om Damy adalah Pos Kupang. Pos Kupang adalah Om Damy.
Seluruh hidupnya, kata Dion, dibaktikan untuk surat kabar Pos Kupang. Bahkan, sampai saat terakhir yang dia pikirkan hanyalah Pos Kupang. Bagi Dion, sosok Om Damy adalah pemimpin, guru, dan orangtua bagi semua karyawan Pos Kupang.
Sebagai pemimpin, dijelaskannya, jurnalis senior harian Kompas ini adalah pemimpin yang sangat keras dalam kata-kata, tetapi lembut dalam tindakan.
"Om Pius Rengka pernah tanya kepada saya, 'Dion kau bisa tahan kerja juga dengan om Damy?" Prinsipnya itu, apa yang dia omong dengar saja. Tetapi yang tidak berkenan jangan ikut-ikut saja. Saat itu dia akan beri respek kepada kita," jelas Dion.
Menurutnya, Om Damy pelit memuji prestasi seseorang secara langsung. Akan tetapi dia punya trik yang sangat bagus dalam hal memberi apresiasi.
"Dia memuji lewat orang lain. Respek akan sampai ke kita lewat orang lain."
Sebagai guru, kenang Dion, Om Damy adalah guru kehidupan. Dijelaskannya, kadang-kadang sulit dimengerti karena bapak empat orang anak itu mendidik para karyawannya melalui tahapan-tahapan yang pada suatu waktu baru dimengerti.
"Om Damy juga mendidik semua hal bukan hanya sebagai wartawan. Sebagai orangtua, dia urus sampai hal yang kecil. Bukan hanya urus Pos Kupang. Dia selalu tanya, gaji yang kau terima itu untuk apa?" imbuhnya.
Dia mengatakan, Damyan Godho adalah putra terbaik Indonesia yang lahir di NTT. (*)