Pagi-Pagi Gubernur NTT Viktor Laiskodat Pungut Sampah, Jengkel Kota Kupang Terkotor se Indonesia
Sepulang dari gereja, Gubernur NTT Viktor Laiskodat melihat sampah berceceran di Jl Thamrin, Ia pun turun mobil dan memungut sampah-sampah itu.
Penulis: Bebet I Hidayat | Editor: Bebet I Hidayat
Pagi-Pagi Gubernur NTT Viktor Laiskodat Pungut Sampah, Jengkel Kota Kupang Terkotor se Indonesia
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pagi-Pagi Gubernur NTT Viktor Laiskodat Pungut Sampah, Jengkel Kota Kupang Terkotor se Indonesia.
Pagi itu, Gubernut NTT (Nusa Tenggara Timur) Viktor Laiskodat sedang melaju di Jalan Thamrin, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.
Melihat sampah berceceran di Jalan Thamrin ini, Gubernur NTT Viktor Laiskodat pun turun dari mobil.
Gubernur NTT Viktor Laiskodat lalu memungut sampah yang berceceran di sekitar bak TPS atau Tempat Pembuangan Sampah di Oebufu tersebut.
Saat itu Gubernur NTT Viktor Laiskodat sedang bersama putranya pulang dari gereja, Minggu (27/1/2019). Melihat ada tumpukan sampah yang berceceran, maka dia pun memungut sampah-sampah itu.
Sebagian besar sampah yang ditemukan Gubernur Laiskodat merupakan sampa sisa makanan.
• Cucu Wapres Kalla Juga Kena Demam Berdarah, Ini Imbauannya untuk Masyarakat Indonesia Saat Ini
• Terungkap Ahmad Dhani Idap Penyakit Ini Sehingga Tak Bisa Ditahan Bersama Tahanan Lain
• Jika Air Keluar dari Gua Bolmuni, Diyakini Akan Ada Peristiwa Besar Termasuk Pilpres
Gubernur NTT Viktor Laiskodat pun langsung menelpon Walikota Kupang, Jefry Riwu Koreh, dan Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang. Ia meminta untuk didatangkan truk pengangkut sampah.
"Sampah yang dipungut itu merupakan sisa-sisa makanan yang menumpuk," ujar Sem, seorang warga Oeboi, Kelurahan Oebufu, Kota Kupang.
Melihat aksi Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan putranya, Leon ini, ia bersama sejumlah warga lainnya pun turut memungut sampah-sampah tersebut.
Bak sampah di Jalan Thamrin ini berukuran 1x1,5 meter. Berada di pinggir trotoar yang berhadapan langsung dengan Kantor UPT Pelatihan Tenaga Kerja Provinsi NTT.
Di sekitar bak sampah itu ada papan RT yang bertuliskan RT 42 /RW 11 .

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat mengingatkan agar petugas kebersihan sesegera mungkin mengangkut sampah yang ada di setiap bak sampah.
Menurut Viktor Laiskodat, setidaknya dua kali dalam sehari sampah-sampah itu harus diangkut dari bak-bak sampah.
Jika tidak maka akan menumpuk dan ada peluang berceceran.
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan pesan itu kepada petugas kebersihan saat mengangkut sampah di RT 42/RW 11, Kelurahan Oebufu,Kota Kupang, Minggu (27/1/2019).
Menurut Sekretaris RW 11, Kelurahan Oebufu, Kota Kupang, Noldy Panie, bak sampah itu merupakan swadaya masyarakat.
"Ini adalah bak sampah swadaya warga RT 42/RW 11. Memang sampahnya itu kalau kita lihat kebanyakan sampah basah berupa sisa-sisa makanan dari rumah makan atau warung, karena banyak sampah basah, sehingga kami duga kebanyakan sampah itu dari luar wilayah RT 42/RW 11," katanya.
Dia menjelaskan, di Jalan Thamrin itu hampir setiap hari ada truk sampah yang melewati dan mengangkat sampah di bak sampah.
Namun, pada hari Minggu itu kemungkinan petugas tidak masuk dan pergi beribadah sehingga ada tumpukan sampah.
"Kalau sampah itu ,kita lihat tadi sampah yang sudah ditumpuk sejak hari Sabtu, karena tidak diangkut tambah sampah Hari Minggu akhirnya tercecer," katanya.

Kota Terkotor di Indonesia
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengumumkan 10 kota terkotor dalam penilaian Adipura 2018.
Kota-kota ini memiliki capaian nilai terendah di antara ratusan kabupaten/kota di antaranya terkait pengelolaan tempat pemrosesan akhir atau TPA dan kebersihan fisik.
Pengumuman kota terkotor ini atas instruksi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Senin (14/1/2019), saat memberikan sambutan dalam pemberian penghargaan Adipura di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.
"Tadi saya diperlihatkan daftar (kota) yang paling tidak bersih. Saya minta itu diumumkan saja. Indonesia itu kadang-kadang baru kerja keras kalau ada rasa malu. Kalau tidak ada rasa malu, kadang membiarkan saja, menyerahkan pada orang lain," kata Kalla.
Menanggapi instruksi ini, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan nama-nama kota terkotor tersebut kepada wartawan.
"Kota terkotor itu kota metropolitan yaitu Kota Medan; kota besar itu Bandar Lampung dan Manado. Kota sedang Sorong, Kupang, dan Palu. Kota kecil kebetulan berada di wilayah timur semua, yaitu Waykabubak (Sumba Barat), Waisai (Raja Ampat, Papua Barat), Buol (Sulawesi Tengah), dan Bajawa (Ngada, NTT)," kata dia.
Rosa Vivien mengatakan, kota-kota ini memiliki nilai terendah dalam penilaian Adipura.
Di tahun ini, terdapat 369 kabupaten/kota yang dinilai KLHK dan Dewan Pertimbangan Adipura.
Penilaian penting ada pada pengelolaan tempat pemrosesan akhir (TPA) yang masih menjalankan sistem open dumping atau pembuangan terbuka.
"Undang-undang kan memandatkan (TPA) sanitary landfill, tapi kami masih melangkah dengan controlled landfill. Kalau TPA masih open dumping tidak kami berikan Adipura," kata dia.
Penilaian kedua pada kepatuhan penyelesaian dokumen Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga seperti amanat Perpres 97/2017.
Dalam Perpres tersebut pemerintah daerah diminta menyusun Jakstrada paling lambat Oktober 2018.
Namun hingga kini, menurut Novrizal Thahar, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK baru 300 kabupaten/kota dan 16 provinsi yang selesai menyusun Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada).
"Dokumen ini penting sebagai acuan daerah untuk melakukan pengurangan dan pengelolaan sampah sehingga tercapai 100 persen sampah kita terkelola dengan baik," kata dia.
Terkait risiko pengumuman kota terkotor ini bisa menimbulkan reaksi dari pemerintah daerah, Rosa Vivien mengatakan pihaknya memiliki kriteria yang jelas.
Selain itu, pihaknya juga mengecek ke lapangan sehingga penilaian berdasarkan fakta dan temuan.
Reaksi Walikota Kupang
Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore melakukan tatap muka langsung dengan seluruh Petugas Kebersihan baik sopir, pengangkut sampah dan penyapu jalan di Kota Kupang.
Menurut Jefri Riwu Kore pada pertemuan yang digelar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Selasa (29/1/2019) ini, perjuangan petugas kebersihan untuk kota ini begitu luar biasa. Para petugas sudah bekerja dengan masikmal.
Tetapi masih saja ada warga yang membuang sampah di luar jadwal yang ditentukan.
Selain itu juga masih banyak warga yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, Jefri Riwu Kore melakukan diskusi dengan para petugas kebersihan untuk mengatasi masalah sampah di Kota Kupang.
Jefri Riwu Kore mengaku miris melihat petugas kebersihan yang sudah harus beraktifitas saat semua warga masih tertidur pulas. Mereka telah membantu kota ini.
"Saya tidak menyalahkan para awak (petugas kebersihan), karena mereka sudah berjuang sungguh-sungguh untuk melayani kota ini. Pekerjaan kebersihan sangat mulia, jadi jangan berpikir ini tempat pembuangan. Kalian kebanggaan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kebersihan di kota ini. Karena tidak gampang dan tidak banyak orang yang mau bekerja di sini," terang Jefri Riwu Kore.
Jefri Riwu Kore berjanji bila para petugas bisa bekerja dengan baik maka dirinya tidak akan mengabaikan kesejahteraan para petugas kebersihan yang saat ini masih berpenghasilan kecil. Nominal gaji di Dinas Kebersihan akan diupayakan untuk diubah.
Ia juga ingatkan para petugas kebersihan di Dinas Kebersihan jangan mencoba untuk melakukan korupsi. Karena Pemerintah akan berikan perhatian khusus di Dinas Kebersihan. Bila kedapatan maka semuanya akan diganti semua.
Untuk menjadikan kota lebih bersih, maka akan diubah sistem kerja. Ia menyebutkan kekuatan di Dinas Kebersihan ada 400-an. Namun 90 orang ada di sekretariat.
Sedangkan Sopir dan penyapu jalan hanya 72 orang. Jadi nanti yang ada di sekretariat akan turun lapangan. Petugas pengawas pun akan ditambah. Begitu juga dengan perlengkapan berupa pakaian dan peralatannya.
Pemkot Kupang akan terus berupaya untuk menata kebersihan di kota ini, di antaranya memerintahkan seluruh ASN untuk turun memilih sampah.
Kemudian Dinas Kebersihan akan mengirim petugas sekitar empat orang ke setiap kelurahan untuk membantu kebersihan.
"Kita juga akan mengatur pembagian jalan kendaraan. Karena jumlah armada masih sedikit maka akan dilakukan pengadaan. Mudah-mudahan bisa 20 mobil lagi. Begitu juga kita akan siapkan mobil penyapu jalan untuk membantu petugas yang menyapu jalan," ujar Jefri Riwu Kore.
Rencananya, kata Jefri Riwu Kore, Pemkot akan miliki tiga mobil sapu jalan.
34 Truk Sampah
Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Yeri Padji Kana menyebutkan, untuk mengangkut sampah baru terdapat 34 armada truk sampah.
Kalau dibagi pada 340-an TPS baik yang masih berfungsi atau tidak berfungsi maka bila dibagi satu armada menangani 10 TPS sehingga tidak semua terangkut, oleh karena iru diatasi dengan trip kedua. Tapi semua sampaj pun belum bisa diangkut.
"Bisa dibayangkan kalau waktu pembuangan sampah tidak tepat jam maka akan tetap menumpuk. Oleh karena itu penanganan sampah tidak secara parsial tapi secara menyeluruh. Maka akan disiapkan fasilitas seperti semua toko menyiapkan tong sampah, begitu juga warga harus menyediakan tong sampah," tuturnya.
Tapi, menurutnya, hal itu saja tidak cukup. Tapi kembali pada perilaku jika jadwal pembuangan sampah tidak ditaati masyarakat maka sampah akan tetap menumpuk. (POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru/Yeni Rachmawati)
Pagi-Pagi Gubernur NTT Viktor Laiskodat Pungut Sampah, Jengkel Kota Kupang Terkotor se Indonesia