Kasus DBD di Kota Kupang

Warga Kota Kupang Harus Waspada, DBD Naik Dua Kali Lipat

Hanya dalam seminggu, kasus demam berdarah denque(DBD)di Kota Kupang melonjak tajam.

Warga Kota Kupang Harus Waspada, DBD Naik Dua Kali Lipat
Aetra
ilustrasi demam berdarah 

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Yenny Rahmawati

POS-KUPANG.COM, KUPANG-Terus meningkatnya kasus Demam Berdarah Denque (DBD) sehingga mendorong 11 Puskesmas di Kota Kupang untuk siaga selama 24 jam.

Apalagi hingga 21 Januari 2019, jumlah kasus DBD di Kota Kupang melejit dua kali lipat, dimana saat ini sudah mencapai 114 kasus. Padahal pekan lalu baru mencapai 53 kasus DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Ari Wijana, kepada wartawan, di Balai Kota Kupang, Selasa (22/1/2019) mengatakan, dari jumlah kasus tersebut belum ada yang meninggal sehingga Kota Kupang belum masuk dalam Kejadian Luar Biasa.

Namun demikian tambahnya, dari lonjakan data tersebut, maka akan dikaji mulai dari 2016-2018. Bila kurva menunjukkan telah mencapai batas maksimal maka akan dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa.

Ia menyebutkan, tahun lalu di periode yang sama jumlah kasus DBD yaitu 66 kasus. Sedangkan tahun ini sudah 114 kasus. Hal ini berarti jumlah kasus tahun ini naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

"Kami sedang mengkaji data untuk dilaporkan ke Walikota apakah masuk KLB atau tidak. Kalau ada kematian satu, maka masuk KLB," tuturnya.

Ia menyampaikan, kasus tertinggi DBD terjadi di Kecamatan Kelapa Lima dengan 32 kasus, dimana Kelurahan Oesapa terbanyak ada 16 kasus. Oleh karena itu Dinas Kesehatan telah melakukan fogging beberapa kali di kelurahan tersebut.

Kata dr Ari, fogging dilakukan untuk membunuh nyamuk dewasa, sedangkan pencegahan dapat dilakukan masyarakat melalui 3M Plus.

Jajaran Dinas Kesehatan juga, lanjutnya, sudah membuka poskos di Puskesmas untuk stand by 24 jam minimal untuk melakukan diagnosa awal DBD. Sedangkan penanganannya bisa dilakukan di Puskesmas atau dirujuk ke Rumah Sakit agar menjaga jangan ada yang meninggal.

"Saat ini ada satu kasus yang tengah dirawat di ICU RSUD dengan stadium III tapi sudah mulai membaik," ujarnya.

Berdasarkan data lanjutnya, dari 114 kasus tersebut ada 86 kasus masuk dalam grade 1 dan 2. Dimana penanganan pada grade tersebut lebih mudah dibandingkan grande 3 dan 4 yang membutuhkan penanganan kompleks.

Ia menyampaikan, penetapan KLB bukanlah berkaitan dengan pelayanan kesehatan karena pelayanan kesehatan dilakukan secara sporadis tapi untuk DBD dilaksanakan gebrak DBD sampai lini pustu dan Jumat Bersih. Tapi jika tetap meningkat itu bagian dari fenomena.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsih mengatakan, posko DBD di 11 Puskesmas itu mulai dilakukan, Rabu (23/1/2019). Saat ini, wilayah Oesapa memiliki jumlah kasus DBD tertinggi di Kota Kupang. (*)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved