Berita NTT Terkini
Perayaan Natal Bersama PUPR NTT! Natal Itu Sebuah Tuntunan
Dia memberikan kritikan pada setiap hal yang menurutnya kurang baik, kurang memihak kemanusiaan, dan kurang memihak kaum perempuan.
Penulis: Lamawuran | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Bunga Natal berbentuk pohon Cemara itu diletakkan tepat di samping kiri panggung ibadah.
Lampu hias berukuran mini padam menyala bergantian di sekujur pohon, memperindah bunga Natal itu. Di puncaknya, diletakkan sebuah bintang kecil yang juga selalu menyala.
Hari itu, Selasa (8/1/2019), ratusan staf Dinas PUPR Provinsi NTT menggelar acara Natal Bersama di gedung PUPR NTT lantai 1, Naikolan, Kota Kupang.
Sejak pukul 10.00 sampai pukul 13.00 Wita, keriangan tampak tak lepas dari wajah mereka. Ada nuansa kebahagiaan yang timbul dalam perayaan tersebut, dibarengi dengan nyanyian pujian kepada Tuhan.
Sebelum ibadah dimulai jelang siang itu, beberapa penyanyi mengalunkan melodi pujian, dan semua yang hadir terlihat menikmati suara dan momen itu. Jika kita melihat secara saksama suasana itu, terlihat seolah-olah tak ada beban di wajah mereka, walau beberapa pegawai dengan bulir-bulir keringat membasahi wajah mengatur teks-teks ibadah pada setiap kursi.
Keriangan makin memuncak sewaktu ibadah dimulai. Dengan gayanya yang khas, Pdt. Yandi Manobe hampir seperti menghipnotis para tetamu dan staf yang hadir.
Memimpin ibadah tersebut, Yandi, sapaan Pdt. Yandi Manobe, rupanya tidak ingin menjadikan suasana itu terlihat murung. Dengan gaya humoris, ibadah yang berlangsung hampir dua jam itu dilewati dengan suka cita, ditandai dengan tawa tiap kali Yandi menyebut beberapa hal yang lucu.
Tetapi, dalam nuansa ceria dan penuh tawa itu, Yandi memberikan kotbah yang menyentuh hati.
• Penyerahan SK Penyuluh Non PNS ! Penyuluh Agama Diingatkan Agar Bijak Gunakan Media Sosial
• Bandara Ende Kembalikan Dana Rp 6 Miliar ke Kas Negara! Ini Penjelasannya
Dia memberikan kritikan pada setiap hal yang menurutnya kurang baik, kurang memihak kemanusiaan, dan kurang memihak kaum perempuan.
Mengenai perempuan, Yandi mengatakan Yesus sulit lahir di hati orang-orang yang tidak menghargai perempuan.
Hal ini dikatakan Yandi, lantaran kebiasaan dan adat NTT yang kadang memosisikan perempuan lebih rendah di bawah laki-laki.
Pendeta itu menjelaskan, dalam keseharian, termasuk dalam acara adat, kadang terdapat kata-kata yang merendahkan martabat perempuan.
"Kata-kata adat yang tinggi filosofis, namun kadang mengandung pelecehan terhadap perempuan," ujarnya.
Dia memberi contoh. Kalau ada lelaki yang ingin melamar seorang gadis, maka juru bicara (jubir) sang lelaki akan datang ke rumah orang tua so gadis untuk melamar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/natal-bersama-dinas-pupr-ntt-2018-oleh-pendeta-manone.jpg)