Berita Kabupaten Lembata

Jembatan Waima Itu Wewenang Propinsi

jembatan itu mestinya dibangun pemerintah propinsi. Namun karena sampai saat ini jembatan itu tidak dibangun, maka kami terpaksa bangun jembatan

Jembatan Waima Itu Wewenang Propinsi
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
DI KALI WAIMA -- Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur saat berada di kali Waima, Kamis (29/11/2018) petang. 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Jembatan yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata di kali Waima itu, sejatinya untuk memperlancar arus transportasi masyarakat dari dan ke Loang serta desa-desa lainnya di wilayah Kecamatan Nagawutun. Jadi pembangunannya bersifat darurat karena jembatan itu berada pada ruas jalan propinsi.

"Jalur jalan ke Loang itu berstatus jalan propinsi dan jembatan yang dibangun itu, ada di ruas jalan tersebut. Jadi, jembatan itu mestinya dibangun pemerintah propinsi. Namun karena sampai saat ini jembatan itu tidak dibangun, maka kami terpaksa membangun darurat jembatan itu. Tujuannya untuk memperlancar arus transportasi."

Pengaduan Warga ke DPRD Nagekeo terkait Hasil Pilkades Itu Wajar

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur menguraikan hal tersebut ketika ditemui Pos Kupang.Com di Lewoleba, Jumat (30/11/2018). Ia mengungkapkan itu menyusul oprit pada jembatan di kali Waima, rusak diterjang banjir besar, baru-baru ini.

Dikatakannya, pembangunan jembatan itu semata-mata untuk pelayanan publik.
Pasalnya, sebelum jembatan darurat itu dibangun, masyarakat Kecamatan Nagawutun terutama yang bermukim di wilayah pantai, tak bisa bepergian selama musim hujan. Pasalnya kali Waima tak bisa dilalui karena selalu diterjang banjir besar.

Bila hujan lebat di wilayah pegunungan, misalnya, maka banjir besar pasti mengalir melalui kali tersebut. Saat banjir itulah masyarakat Nagawutun otomatis tidak bisa melewati tempat tersebut.

Mengingat kondisi ini selalu terjadi saban tahun, lanjut dia, maka pihaknya meminta instansi teknis dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umun, Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPR) Kabupaten Lembata untuk merencanakan pembangunan jembatan darurat di kali tersebut.

Tujuannya, untuk memudahkan transportasi masyarakat. Maksudnya, masyarakat tak perlu resah untuk bepergian selama musim hujan bila melewati kali Waima. Karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata telah membangun jembatan di tempat tersebut walau masih bersifat darurat.

Jembatannya masih darurat, lanjut Bupati Sunur, karena anggaran milik Pemerintah Kabupaten Lembata demikian terbatas. Hanya sekitar Rp 1,6 miliar saja. Padahal kali Waima itu sangat lebar lagi pula cukup dalam. Jadi jembatan yang dibangun dengan dana itu, relatif kecil dan berada di tengah kali yang cukup lebar.

Dengan demikian, katanya, untuk menghubungkan jembatan itu, dibuatlah oprit pada dua sisi jembatan. Oprit merupakan istilah teknis, yang artinya bangunan (jalan) penghubung yang dibangun dari sisi kali (badan jalan) ke arah jembatan di tengah kali. Jadi oprit itu untuk menghubungkan badan jalan dari sisi kali dengan jembatan di tengah kali.

Bupati Sunur mengatakan, jembatan itu dibangun untuk membantu masyarakat melewati jembatan Waima selama musim hujan. "Kalau selama ini mereka (masyarakat) melewati tengah kali dengan berbagai risiko, maka pemerintah kabupaten membuat jembatan itu. Maksudnya memudahkan masyarakat yang hendak bepergian," ujarnya.

Hanya saja, lanjut dia, saat banjir besar baru-baru ini, oprit pada sisi timur jembatan tak kuat menahan terjangan banjir. Akibatnya oprit rusak. Jadi kerusakan itu bukan pada jembatan. Jembatannya tetap kokoh sementara opritnya rusak. Tapi kerusakannya sedang diatasi sehingga diharapkan segera rampung. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved