Berita Kabupaten Lembata

Masih Tinggi Kasus Perempuan dan Anak di Lembata

kasus yang menimpa perempuan dan anak, masih cukup tinggi di Kabupaten Lembata, NTT. Kekerasan yang mereka alami itu baik secara verbal maupun non ver

Masih Tinggi Kasus Perempuan dan Anak di Lembata
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Romo Deken Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka, Rm. Sinyo da Gomes, 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Sampai saat ini, kasus yang menimpa perempuan dan anak, masih cukup tinggi di Kabupaten Lembata, NTT. Kekerasan yang mereka alami itu baik secara verbal maupun non verbal.

Hal ini disampaikan Romo Deken Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka, Rm. Sinyo da Gomes, saat memimpin misa kudus di Gereja Sta. Maria Banneux Lewoleba, Minggu (25/11/2018). Ia mengatakan itu setelah terlebih dahulu mengumumkan bahwa pada hari Minggu (25/11/2018) merupakan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Se-Dunia.

Baca: Di Kabupaten TTU ! KKRC Eksplore Destinasi Wisata

Baca: Paman Lihat Perubahan Tubuh Gadis 17 Tahun ! Aksi Bejat Ayah Tiri Akhirnya Terungkap

"Para pejuang hak-hak perempuan dan anak di Kabupaten Lembata, sampai sekarang terus berjuang untuk menegakkan aturan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ini dilakukan karena sampai saat ini masih cukup tinggi kasus yang menimpa perempuan dan anak di daerah ini," ujar Romo Sinyo.

Baca: Diduga Hendak Mesum di Kamar Mandi Mesjid ! Ini Pasangan yang Dipergoki Warga

Dikatakannya, kasus yang terjadi itu baik secara verbal maupun non verbal. Kasus verbal itu misalnya, tutur kata atau pun kaliman yang senantiasa melukai hati dan perasaan perempuan dan anak-anak. Menghujat perempuan dan anak adalah salah satu contoh kekerasan verbal yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan dan anak.

Berikutnya, lanjut Romo Deken, adalah tindakan non verbal. Yang dimaksud dengan kekerasan non verbal, yaitu tindakan laki-laki yang menjahati perempuan dan anak-anak. Dan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), adalah salah satu contoh nyata yang terjadi di sekitar kita.

Contoh berikutnya adalah tindakan pelecehan dan lainnya terhadap perempuan dan anak. Kasus semacam ini mestinya tidak perlu terjadi, manakala semua orang memahami secara sungguh bahwa perempuan dan anak, sejatinya harus djaga dan dilindungi. Bukan sebaliknya diperlakukan secara tidak etis, tidak sopan bahkan tidak semonoh.

Untuk itu, pesan Romo Sinyo, berkenaan dengan momentum Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Se-dunia itu, pihaknya meminta semua kalangan untuk selalu dan senantiasa menghargai perempuan dan anak sebagaimana kita menghargai diri sendiri.

"Bila kita saling menghargai, menempatkan perempuan dan anak sebagai orang yang sangat kita cintai, maka dunia ini terasa sangat indah. Dunia ini akan terbebas dari pelbagai kasus yang sabam hari terjadi dan mendera kita. Untuk itu, mulai saat ini saya meminta kita semua yang hidup dalam komunitas, baik dalam keluarga, di tempat kerja maupun di masyarakat agar kita saling menjaga, saling mengayomi, saling melindungi demi kemuliaan Tuhan," ujar Romo Sinyo. (*)
Area lampiran

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved