Berita Kabupaten Manggarai Barat
Harga Cengkeh Terus Menurun, Petani Mengeluh
Salah satunya terjadi di Desa Momol, Kecamatan Ndoso. Momol merupakan salah satu desa yang cukup menonjol komoditi cengkehnya.
Penulis: Servan Mammilianus | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS--KUPANG.COM, Servatinus Mammilianus
POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO--Harga komoditi cengkeh di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) saat ini terus menurun, membuat para petani mengeluh karena angka turunnya cukup signifikan.
Pada musim panen tahun 2018 ini, harga cengkeh sempat berada di angka Rp 90 ribu per kilogram. Namun bukannya naik, ternyata harganya semakin menurun dan saat ini anjlok ke angka Rp 85 ribu per kilo.
Baca: Kaum Ibu Desa Mata Air Gembira Dapat Bantuan Dana Desa
Baca: Inggrid Senang Menari saat Jemput Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos di Gurusina
Baca: Pimpinan dan Staf Bank NTT Mbay Baksos Di Pasar Danga
Baca: Passing Grade CPNS 2018 Tidak Diturunkan Tapi Khusus Profesi ini, Pemerintah Pakai Sistem Ranking
Salah satunya terjadi di Desa Momol, Kecamatan Ndoso. Momol merupakan salah satu desa yang cukup menonjol komoditi cengkehnya.
"Hari ini saya belum update harga terbarunya tetapi belakangan ini harga cengkeh setiap kilonya Rp 85 ribu. Padahal sebelumnya sempat Rp 90 ribu per kilo," kata Kepala Desa Momol, Yuvensius Maldi kepada POS--KUPANG.COM, Sabtu (17/11/2018).
Para petani kata dia, mengeluh dengan harga yang terus menurun itu.
"Tahun 2017 lalu kami tidak bisa panen karena gagal. Sehingga kami tidak ada data pembanding antara cengkeh tahun lalu dengan sekarang. Namun untuk musim panen tahun ini, hasilnya cukup memuaskan," kaya Yuvensius.
Selain cengkeh, harga komoditi lainnya juga ikut menurun.
Seperti diberitakan sebelumnya, harga kemiri di Desa Tiwu Riwung, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), turun drastis dari Rp 35 ribu menjadi Rp 27 ribu per kilogram.
Baca: Simak Baik Baik! Ternyata Cowok Pengin Dengar Hal Ini dari Kita
Baca: Satgas Pamtas RI-RDTL Musnahkan Barang Bukti Penyelundupan
Baca: Bukan Hanya Jumlah, Lihat Juga Deretan Aksi Tagana di NTT
Baca: Wabup Mabar Pesan Biji Kelor Dari Maumere Untuk Pengembangan
Menurunnya harga tersebut terjadi mulai Bulan September 2018. "Bulan lalu harga kemiri masih Rp 35 ribu tetapi saat ini sudah turun menjadi Rp 27 ribu per kilogram," kata salah satu tokoh muda asal Tiwu Riwung, Agustinus Canterbury Tobing, kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (19/9/2018) saat ditemui di Labuan Bajo.
Dikatakannya, kemiri merupakan salah satu komoditi unggulan di desa tersebut.
Hampir setiap kepala keluarga (KK) memiliki tanaman itu. Warga biasanya menjual kemiri kepada pembeli yang ada di desa itu.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pohon-cengkeh_20180313_173814.jpg)