Berita NTT Terkini

Gubernur NTT Minta Petani Manfaatkan Lahan Tidur

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, meminta para petani di daerah ini untuk memanfaatkan lahan tidur meskipun musim kering.

Penulis: Kanis Jehola | Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat melakukan panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Kabupaten Kupang, Jumat (12/10/2018) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kanis Jehola

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, meminta para petani di daerah ini untuk memanfaatkan lahan tidur meskipun musim kering. Soal ketersediaan air bisa dilakukan dengan rekayasa teknologi.

Permintaan Gubernur NTT ini disampaikan saat melakukan panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Kabupaten Kupang, Jumat (12/10/2018). Permintaan ini disampaikan lagi oleh Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Provinsi NTT, Ir. Yohanes Tay Ruba, MM kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (17/10/2018).

"Saat menghadiri panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Bapak Gubernur meminta kepada para petani untuk memanfaatkan lahan tidur disaat musim kering ini. Soal ketersediaan air itu bisa dilakukan dengan rekayasa teknologi," kata Yohanes.

Baca: Bakso Babi Broo, Bakso Prasmanan yang Manjakan Lidah

Selain memanfaatkan lahan kering, Gubernur NTT juga meminta kepada para petani untuk mengembangkan penangkaran benih jagung hibrida varietas Nasa 29 di Provinsi NTT.

Suasana panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Kabupaten Kupang, Jumat (12/10/2018)
Suasana panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Kabupaten Kupang, Jumat (12/10/2018) (ISTIMEWA)

Jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao yang dipanen Gubernur NTT itu merupakan Demplot teknologi jagung hibrida varietas baru jenis Nasa. Jagung tersebut dikembangkan di lahan milik kelompok tani di Oesao seluas 5 hektare. Walaupun di lahan milik petani, namun tetap dalam pendampingan BPTP dan Dinas Pertanian NTT.

Baca: Ini Strategi Dinas PUPR NTT Menyukseskan Program Pembangunan Jalan Provinsi 2019

Jagung di Demplot ini merupakan benih bantuan Dinas Pertanian NTT. Demplot ini juga hasil penelitian nasional dari peneliti Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Potensi produksinya bisa mencapai 12 ton/hektar. Tapi khusus di Oesao baru-baru ini produksinya sekitar 7 ton/hektar.

"Panen kemarin (Jumat, 12/10/2018) juga dilakukan secara manual sekaligus kita perkenalkan alat panen jagung bernama Corn Combaine," kata Yohanes.

Mengenai bantuan pemerintah untuk pengembangan jagung di NTT, Yohanes mengatakan, untuk tahun 2018 ini benih jagung bantuan pemerintah, antara lain jagung komposit sebanyak 550 ton untuk dikembangkan di lahan seluas 22.000 Ha, dan jagung hibrida 975 ton untuk dikembangkan di 65.000 Ha.

"Benih yang dibantu pemerintah tahun 2018 ini untuk ditanam pada musim tanam 2018/2019 yang akan datang atau pada awal musim hujan mendatang," katanya.

Saat ini, demikian Yohanes, sementara dalam proses panen benih jagung komposit di penangkar lokal di kabupaten seluas 400 Ha. "Hari ini (Rabu (17/10/2018) sedang dilakukan panen penangkaran benih jagung komposit di lahan Seminari Mataloko, Ngada seluas 5 Ha," katanya. Penangkaran benih ini untuk memenuhi kebutuhan benih sebanyak 550 ton. (*)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved