Berita NTT
Ini Kata Warga! Pengungsi Juga Manusia
Mereka juga kan manusia, jadi kita tidak mungkin terlalu keras dengan mereka
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO
POS-KUPANG.COM-KUPANG-Kornelis Ga, Ketua RT 20/RW 29/Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang mengungkapkan interaksi warganya dengan para pengungsi yang tinggal di Hotel Ina Bo’I relatif baik dan tanpa masalah. Apalagi sejauh ini, tak ada masalah yang dibuat para pengungsi yang bisa mengganggu ketertiban masyarakat sekitar.
“Dong sonde pernah buat masalah,” katanya kala ditemui Pos Kupang di kediamannya, Sabtu (6/10/2018).
Sebagai ketua RT, Kornelis sendiri belum pernah menerima aduan masyarakat ihwal keberadaan para pengungsi yang ditampung di Hotel Ina Bo’I. Secara pribadi ia merasa prihatin dengan para pengungsi yang tinggal di dalam penampungan.
“Mereka juga kan manusia, jadi kita tidak mungkin terlalu keras dengan mereka.”
Menurut Kornelis, dalam keseharian mereka juga seringkali menjual makanan dan minuman kepada masyarakat sekitar untuk mendapatkan uang. Menurutnya, makanan-makanan yang dijual merupakan kelebihan makanan yang didapat dari IOM, lembaga PBB yang mengurus kebutuhan mereka.
Seorang pemilik kios di seputaran Hotel Ina Bo’I yang tidak mau namanya dikorankan juga mengisahkan hal serupa. Ia mengatakan, setiap hari selalu saja ada pengungsi yang datang ke kiosnya untuk berbelanja. Hingga saat ini, mereka tidak pernah membuat masalah atau mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Ketua RT02/RW01 Kelurahan Kayu Putih, Kota Kupang, Febri Sinlae menjelaskan hubungan para pengungsi dengan masyarakat cenderung baik dan aman meskipun ada kendala bahasa. Sebaliknya, ia menyampaikan keributan justru kadangkala terjadi di antara internal para pengungsi sendiri yang ditampung di Hotel Kupang Inn.
“Kemarin kan ada kasus perkelahian antara mereka yang ada di dalam,” katanya.
Menurut cerita Febri, tercatat kira kira sudah empat kali terjadi perkelahian di antara pengungsi yang ditampung di dalam Hotel Kupang Inn. Akibat perkelahian itu, jelasnya, beberapa pengungsi harus dipindahkan ke rudenim.
“Kita juga merasa prihatin karena perkelahian itu. Kadang-kadang sampai ada orang yang datang nonton perkelahian mereka. Dampaknya secara tidak langsung juga ke kita,” tambahnya.
Ia menandaskan beberapa pengungsi juga kadangkala menjual makanan dan minuman yang didapat di tempat penampungan kepada warga sekitar untuk mendapatkan uang. Kelebihan makanan dan minuman di tempat penampungan itulah yang dimanfaatkan untuk dijual kepada masyarakat.
Sementara itu, Andre Witak, warga RT 27, Kelurahan Kelapa Lima mengatakan keberadaan pengungsi di Kota Kupang intinya tidak meresahkan warga di sekitar tempat penampungan. Ia berharap pemerintah serta pihak yang terkait perlu mengadakan sosialisasi atau sekadar informasi kepada masyarakat Kota Kupang tentang status mereka saat ini.
Serly salah seorang warga Kota Kupang menuturkan bahwa ada baiknya para pengungsi yang berada di tempat penampungan bisa diberi keterampilan bekerja agar bisa mengisi waktu luang. Keterampilan dasar yang mungkin juga bisa menghasilkan uang untuk dapat memenuhi beberapa kebutuhan yang memang dibutuhkan saat ini.
“Contohnya kerajinan tangan asli negara mereka yang bisa dijual untuk mendapatkan uang” tutur Serly.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/para-imigran-dalam-satu-kesempatan-tatap-muka-dengan-petugas-rudenim-kupang_20180823_213500.jpg)