Senin, 13 April 2026

Berita Kabupaten Sikka

Kotbah Uskup Denpasar Cairkan Perayaan Tahbisan Mgr.Ewal

Suasana perayaan misa tahbisan Uskup Maumere di Pulau Flores, Propinsi NTT, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, berlangsung khusuk.

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Ferry Ndoen
POS KUPANG.COM/EGINIUS MOA
Uskup penahbis Mgr.Gerulfus Kherubim Parera, SVD (kiri) dan Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, mengikuti prosesi tahbisan Mgr.Edwaldus Martinus Sedu, di Gelora Samador Kota Maumere,Pulau Flores, Propinsi NTT, Rabu (26/9/2018). 

Laporan  Wartawan  Pos-kupang.com, Eginius Mo’a

POS-KUPANG.COM, MAUMERE—Suasana perayaan misa tahbisan  Uskup  Maumere di  Pulau  Flores,  Propinsi Nusa Tenggara  Timur  (NTT), Mgr. Edwaldus Martinus  Sedu, berlangsung  khusuk. 

Ribuan  umat  Katolik  memenuhi  Gelora  Samador  di Kota Maumere, Rabu  (26/8/2018) petang  yang  tampak  tegang menyaksikan ketika  tahapan seremoni  tahbisan dimulai.

Adalah Uskup Denpasar dan  Administrator  Apostolik Keuskupan  Ruteng, Mgr. Silvester San  membawakan kotbah perayaan setelah  Duta Besar Vatikan untuk  RI, Mgr. Piero Pioppo, membacakan  Bulla (surat keputusan)  Paus  Fransiskus  tentang pengangkatan Mgr.Edwaldus menjadi  Uskup Maumere.

Baca: Maruf Amin Mundur Ketum MUI jika Nanti Terpilih jadi Wakil Presiden

Baca: KPU Ende Akhirnya Masukan Mantan Napi Korupsi Dalam DCT

Merujuk  motto tahbisan,  bertolaklah  te  tempat  yang lebih dalam, mengantarkan  Mgr. Ewal  bertolak  ke tempat yang tidak  nyaman.  Mgr  Ewal asal   Bajawa---orang  dari gunung yang tidak  akrab  dengan laut.

Bertolaklah ke  tempat  yang lebih dalam tentu menakutkan  sewaktu   angin ribut. Apalagi  kalau  perahu terbalik  dan tenggelam.  Mgr. Ewal,  badan subur  tidak bisa berenang, kalau  tenggelam  seperti  batu.

Menurut Mgr.San, motto  ini bermakna  mendalam menjadi Uskup Maumere. Menjadi uskup  adalah kehormatan melayani,  menjadi pelayan sakramen dan  gembala di  wilayah  yang lebih  luas dengan tugas   dan  tanggunjwab yang berat. 

Administrator Apostolik Keuskupan  Ruteng  ini  mengingatkan akan ada bahaya  yakni  srigala dan  pengajar-pengajar palsu  yang menggangu umat.

“Jaman  global dan milenial, umat  masih  menghayati dualisme dalam beragama, tantangan  sekuralisme, materialisme, hedonisme dan berita  bohong  yang menyesatkan,” ujar Mgr. San

Meskipun berat, tidak  perlu  takut,  karena  Tuhan menjadi andalan. Ada  jala  di  tangan, simbol  dan jejaring, para imam  dan  tokoh awam. 

Ia  mengakui  Mgr. Ewal    telah memiliki  jejaring dan telah lama dikenal  umat Keuskupan Maumere.   Sebelum  diangkat menjadi uskup,  Mgr.Ewal  menjabat Vikjen Keuskupan Maumere.

“Ia  suka  senyum, tertawa, kebapaan, bicara  hemat kata dan rendah hati. Umat senang kalau Mgr. Ewal  yang  pimpin misa,  karena dia tidak bisa  menyanyi selama misa.  Bukan  karena suara buruk, tetapi  tidak mampu membidik  not. Dia satu-satunya  klerus asal  Bajawa  yang   tidak mampu menyanyi. Namun dia  satu-satunya orang Bajawa yang jadi uskup,” ujar Mgr.San disambut  suka  cita umat.

Diakhir  kotbah, Mgr. San  mengajak  umat katolik Keuskupan Maumere mendoakan Mgr. Kheru yang  menyelesaiakn  tugas kegembalaan dan telah meletak dasar yang baik  bagi perjalanan Keuskupan Maumere.

“Kita berdoa, semoga   emeritus bisa menikmati masa  emeritus  lebih   tenang dan sehat,” ajak Mgr.Sensi. *)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved