Kisah LP Kerobokan 2
Tentang Penjara Kerobokan:Bagai Kantor PBB dan Frustrasi Karena Melihat Ironi
Di Penjara Kerobokan, narapidana narkoba amat dominan meski penjahat lain juga banyak. Mereka menjadi istimewa.
POS-KUPANG.COM - Di Penjara Kerobokan, narapidana narkoba amat dominan meski penjahat lain juga banyak.
Pencuri, perampok, koruptor, penyodomi juga ada. Ada pula dokter gigi yang mengaborsi 88 janin.
Belakangan masuk terpidana kasus Bom Bali I Imam Samudra dan kawan-kawannya.
Tapi karena kebanyakan tahanan menjadi pecandu sejak masuk, maka napi narkoba menjadi istimewa.
Kegiatan ekonomi dan perputaran uang di penjara terjadi karena mereka. Kesejahteraan petugas juga meningkat karena mereka.
Baca: Ahok Sempat Menolak Keluar Penjara Lebih Cepat, Bakal Buat Kejutan di Bulan Agustus
Baca: Pembunuh Istri dan Anak Ini Akhirnya Divonis 20 Tahun Penjara
Banyak napi narkoba orang asing. Kerobokan bagaikan kantor PBB yang isinya manusia dari pelbagai negara.
Belanda, Italia, Prancis, Inggris, Skotlandia, Swedia, Rusia, Jerman, Meksiko, Nigeria, Kamerun, Brasil, Argentina, Peru, AS, Australia, Nepal, Bangladesh, Taiwan, dan lain-lain.
Napi pertama yang terancam hukuman mati adalah Michael Blanc, orang Prancis yang tertangkap di Bandara Ngurah Rai karena menyelundupkan 3,8 kilogram hashish di dalam tabung selam, 26 Desember 1999.
Tapi uang ratusan juta mengurangi hukuman dia menjadi seumur hidup.
April 21, petugas bandara menangkap Vincente Garcia, orang Meksiko, yang datang bersama Clara Gautrin dan berpura-pura sebagai pasangan kekasih.
Keduanya memasukkan 15 kg kokain.
Vincente semula juga diancam hukuman mati.
Tapi dengan ratusan juta rupiah yang digelontorkan oleh sindikatnya membawanya ke vonis 15 tahun dan Clara tujuh tahun.
Kalau ada perbedaan hukuman antara Michael dan Vicente, itu jelas karena perbedaan jumlah uang untuk mengatur vonis.
Baca: Tentang Penjara Kerobokan-1: Surga, Pelacuran, dan Narkoba di Balik Jeruji Besi Pulau Dewata
Baca: Uang Raib dari Mobil, Kasus Kedua 2018 di Kota Maumere
Ada juga Juri Angione, orang Italia yang tertangkap karena 5,26 kg kokain yang disembunyikan di dalam pembungkus papan selancar, 3 Desember 2003.
Ia dihukum seumur hidup.
Nasib berbeda dialami temannya yang bekerja untuk sindikat yang sama, Marco, orang Brasil yang tertangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, karena menyelundupkan 13 kg kokain di dalam pipa kerangka peralatan layang gantung.
Marco divonis mati.
Juri, menurut penuturannya, telah 30 kali menyelundupkan aneka jenis narkoba ke banyak negara, lewat aneka cara.
"Satu kilo hashish yang terbagi menjadi bungkusan bulat kecil-kecil bisa saya telan di dalam perut," katanya.
Tertangkap setelah puluhan kali menyelundup, menurut Juri, itu karena sudah waktunya.
Juri belakangan kawin dengan Ade, perempuan asal Timor Timur, dan punya anak.
Sementara Marco kini menunggu eksekusi di LP Nusakambangan, Jawa Tengah.
Ada pula Emmanuel, orang Nigeria yang dijatuhi hukuman mati karena menyelundupkan 400 g heroin yang dibawanya dari Pakistan.
Ia frustrasi karena melihat ironi: ia ditahan karena obat bius, sementara para sipir memperdagangkannya bak kopi saja.
Ia marah dan merusak pintu, sehingga dihukum harus masuk ke sel "tikus".
Di sel sempit tanpa WC (karenanya perlu plastik untuk buang air besar) itu orang kadang bisa tinggal sampai dua bulan.
Di sel "tikus" beberapa napi meninggal karena TBC, hepatitis, atau AIDS.
Dalam suatu kali hukuman Emmanuel berbagi dengan Scott Rush, pemuda 23 tahun anggota Bali Nine yang hukumannya ditingkatkan menjadi mati di tingkat kasasi.
Napi Ruggiero asal Brasil lain lagi. Ia mencoba kabur setelah gagal membeli kebebasan. Ditipu pengacara, diperas polisi, jaksa, dan hakim.
Tak kurang dari 18 ribu dolar AS (waktu itu setara Rp 150 juta) telah dikeluar-kannya untuk persiapan, termasuk bikin paspor Prancis palsu.
Apa mau dikata, pelariannya dipergoki sesama napi dan diteriaki "Maling! Maling!" Ruggiero pun masuk ke sel "tikus".
Napi asal California, Gabriel, juga coba kabur. Demikian pula beberapa napi asal Indonesia. Semua gagal.
Di sisi lain, kemewahan didapat terhukum lain seperti jutawan Australia Chris Packer yang ditangkap karena menyimpan senjata tanpa izin di dalam yacht-nya.
Tentu ia tak perlu ikut prosedur registrasi, masuk sel asimilasi, apalagi penggundulan rambut.
Hampir tiap malam ia menggelar pesta dengan makanan dan minuman mewah.
Di blok lain, Vicente melengkapi kamarnya dengan televisi plasma 26 inci, pemutar DVD, sambungan internet, kamar mandi dengan air panas-dingin.
Pacarnya, Clara, mengganti lantai dengan keramik biru, juga toilet gaya Barat. Ia berhak memilih teman sekamar, maksimal dua orang.
Sementara di sembilan sel lain napi perempuan berdesakan, ada yang sampai 15 orang.
Tapi raja pemilik segala kemewahan adalah IT yang dikenal sebagai bandar besar ekstasi di Bali.
Pertama kali menginap di Hotel Kerobokan pada 1996 setelah ditangkap memasukkan 20.781 pil ekstasi dari Amsterdam, bersama istrinya yang orang Belanda.
Ia dijatuhi hukuman 14 bulan saja. Sekeluar dari Kerobokan IT malah makin besar. Memiliki banyak kaki-tangan, menyogok aparat keamanan, bahkan memberikan mobil dan rumah kepada beberapa oknum aparat.
Tapi Maret 2002 polisi menggerebek toko elektronik milik dia di Seminyak. IT disergap bersama 80 ribu tablet ekstasi, 600 g kokain, beberapa kg bubuk bahan ekstasi, satu kg heroin, lima set mesin pencetak ekstasi.
Ikut disita pula sepucuk pistol kaliber .22 dengan 14 peluru, juga sebuah granat aktif. Uang langsung menggelontor.
Jumlah barang bukti dikurangi, ihwal mesin pencetak ekstasi tak disinggung dalam dakwaan.
Keberadaan IT sebagai produsen dan distributor diabaikan. Hakim bermurah hati mengganjar dia 13 tahun penjara, dan tambahan 3 tahun untuk kepemilikan senjata.
Kamarnya di Kerobokan bagai hotel dengan peralatan elektronik langkap, meski sering ditinggal keluar dengan surat jaminan dari Kepala LP.
IT mengubah bangunan kosong bekas percetakan di dekat lapangan tenis menjadi pabrik mebel.
Ia memasok bahan dan mesin seharga Rp470 juta. Juga mempekerjakan 42 napi dengan gaji mingguan yang layak. Ia juga membagi keuntungan kepada LP.
Tapi belakangan orang tahu itu kedok belaka. Di balik bunyi mesin mebel, aktivitas pencetakan ekstasi menjadi tersamar.
Dengan uang, pabrik ekstasi IT aman terlindung. Polisi tak bisa sembarangan masuk. Mereka perlu surat untuk memeriksa.
Dinamika berubah dengan masuknya napi teroris Amrozi cs. Dakwah mereka menyebar ke seantero penjara, bahkan berhasil memunculkan pengikut fanatik.
Ketika Bom Bali I melahirkan tragedi susulan Bom Bali II (2005), para teroris dipindahkan ke Nusakambangan.
Tapi kondisi paling kejam terjadi sejak masuknya geng preman LB beserta pemimpinnya, AA, karena kasus pembunuhan.
Mereka benar-benar menguasai LP. Para petugas takut karena keluarga mereka diancam. Geng itu memelonco tahanan baru, dan tak hanya sekali-dua memperkosa napi perempuan.
Di masa itu banyak kasus kematian misterius. Meski rata-rata karena gantung diri, tapi para penghuni tahu itu gabungan antara overdosis dan siksaan.
Black Monster
Blok perempuan memiliki masalahnya sendiri. Tak hanya ladang subur bagi tumbuhnya lesbianisme, di sana pun perkelahian gara-gara rebutan pasangan bisa meledak hebat.
Tokoh "playboy" di antara napi perempuan adalah Renae Lawrence, satu-satunya perempuan anggota sindikat narkoba Australia Bali Nine.
Napi yang sebelumnya sudah menjadi PSK, di dalam pun tak kehilangan konsumen. Bisa demi bayaran uang, bisa pula demi ganja, heroin, atau shabu.
Tapi yang tidak tahan tekanan bisa bunuh diri. Dani, mantan teller yang mencuri Rp42 juta dari bank tempatnya bekerja, bunuh diri dengan menenggak cairan insektisida campur pembersih toilet.
Suaminya kabur dengan perempuan lain sambil membawa kedua anaknya, sementara proses persidangan Dani masih berjalan.
Schapelle Corby menghabiskan lima tahun pertama masa hukuman 20 tahunnya dengan masuk-keluar rumah sakit dengan pelbagai gangguan, kejiwaan maupun fisik.
Ia selalu diawasi karena dikhawatirkan akan bunuh diri.
Keluarganya berjuang keras untuk mengeluarkannya dari Kerobokan, termasuk memohon ampun kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Angka kehamilan juga cukup tinggi, namun hanya sebagian kecil yang dipelihara oleh ibunya.
Kebanyakan digugurkan dengan cara tidak aman pula.
Kalau Hotel Kerobokan mengeluarkan keanggotaan, barangkali Fanya (bukan nama samarannya) memegang kartu platinum.
Perempuan asal Timor Timur yang dijuluki Black Monster itu 20 kali keluar-masuk tahanan karena aneka kejahatan.
Memacari turis untuk mencuri barang-barangnya, atau mencopet di diskotek.
Di setiap hotel yang diinapi calon korbannya, ia selalu ikut dan ketika si calon korban lengah, ia menguras harta benda.
Di dalam penjara Fanya selalu bikin gaduh. Teriak-teriak, menangis, berkelahi juga suka melemparkan ke halaman plastik berisi tinja.
Beberapa kali ia dijebloskan ke sel "tikus" atau sel isolasi di bawah menara.
Nah, saat Fanya dikurung di sel menara itu, di sel berbeda terdapat napi asal Skotlandia Robert.
Bekas pelaut yang setiap hari mabok itu juga dikenal punya libido besar dan setiap saat menyewa PSK dan berhubungan di sembarang tempat.
Malam itu, dalam keadaan mabok arak, Robert ditawari oleh sipir, "Want to have fun, Robert?"
Ia mau saja. Sipir membuka pintu dan mempersilakan Robert menuju ke sel Fanya yang tetap terkunci.
Robert dan Fanya berhubungan seks dipisahkan jeruji besi, sipir menikmati adegan itu.
Blok W heboh ketika beberapa minggu kemudian mendapati sang Black Monster hamil tapi bungkam soal si pelaku.
Dua bulan setelah bebas ia melahirkan bayi perempuan putih berambut keriting pirang, lantas membawanya ke Kerobokan.
Orang menduga bahwa itu anak Michael orang Prancis, karena dititipkan kepada ibu Michael yang tinggal sementara di Bali.
Padahal Robert ayah si bayi meski ia takut mengakui. Di Skotlandia, ia sudah punya dua anak.
Sang Black Monster tak mempersoalkannya. Malah ketika ia kembali check-in di Hotel Kerobokan, dengan enteng ia bilang, "Sudah ada keluarga yang mengadopsi anakku. Tentu, aku juga dapat uang karenanya." Bersambung (intisari online)
Artikel ini telah tayang di intisari online dengan judul, Kisah Penjara Kerobokan: Surga, Neraka, Pelacuran, dan Narkoba di Balik Jeruji Besi Pulau. Dewata, http://intisari.grid.id/read/03904835/kisah-penjara-kerobokan-surga-neraka-pelacuran-dan-narkoba-di-balik-jeruji-besi-pulau-dewata?