Berita Kesehatan
Kurang Kena Cahaya Dan 6 Hal Ini Bisa Bikin Kamu Sakit Kepala, Kenapa Bisa?
Kurang kena cahaya dan 6 hal ini ternyata bisa bikin kamu sakit kepala, kenapa bisa?
POS-KUPANG.COM - Kurang kena cahaya dan 6 hal ini ternyata bisa bikin kamu sakit kepala, kenapa bisa?
Ternyata sakit kepala itu bisa terjadi karena 8 hal ini.
Apa saja penyebabnya dan bagaimana mengatasinya?
Sering kali kita pernah mengalami sakit kepala.
Baca: Gunakan Kaca Mata Reben dan Lakukan 5 Hal Ini Jadi Obat Jitu Atasi Sakit Kepala
Baca: Catat Ya, Jangan Lakukan 4 Hal Ini Pada Organ Intim, Karena Kamu Akan Menyesal
Baca: Bawang Putih Kalahkan Obat Kuat, Yuk Maksimalkan Hubungan Bersama Pasanganmu
Namun, sakit kepala juga bukan dari suatu penyakit.
Ada hal-hal sederhana bahkan sepele orang terkena sakit kepala.
1. Kurangnya Vitamin D atau Kurang Terkena Sinar Matahari.
Orang yang kerap didalam rumah atau selalu dalam ruangan bahkan kurang terkena sinar matahari di pagi hari bisa menyebabkan kurang vitamin D.

Hal tersebut bisa membuat seseorang alami sakit kepala.
Bahkan, menurut penelitian di Universitas Eastern Finland, kekurangan vitamin D meningkatkan risiko sakit kepala hingga kronis.
Para ilmuwan menganalisis kadar serum vitamin D pada sekitar 2.600 orang.
Orang dengan kadar vitamin D serum terendah cenderung mengalami perkembangan sakit kepala kronis lebih dibanding orang yang memiliki vitamin D yang cukup.
Sakit kepala kronis juga lebih sering dilaporkan oleh pria yang diperiksa di luar bulan-bulan musim panas karena tingkat paparan matahari lebih rendah selama musim lainnya.
Baca: Cabai dan Nanas Atasi Masalah Miss V, Bagaimana Caranya?
Baca: Banyak Tikus Dirumahmu? Usir Dengan 3 Cara Efektif Ini
2. Kurang Terkena Cahaya Terang
Orang yang mengalami sakit kepala sering mencoba menghindari cahaya terang dan menghabiskan lebih banyak waktu di kamar yang gelap.

Studi Beth Israel Medical Center mengidentifikasi hubungan baru antara neuron di mata dan neuron di otak yang mengendalikan suasana hati kita dalam parameter fisik seperti detak jantung, sesak napas, kelelahan, dan mual.
Selain fakta bahwa cahaya terang bisa menjadi penyebab sakit kepala, itu membuat pasien menderita gangguan, marah, cemas, dan putus asa.
Peserta penelitian juga menyebutkan bahwa mereka mengalami ketidaknyamanan konstan, mual, dan sesak napas.
3. Petir
Para ilmuwan dari University of Cincinnati menggunakan model matematika untuk menentukan apakah petir itu sendiri.
Penyebab meningkatnya frekuensi sakit kepala atau apakah itu bisa dikaitkan dengan faktor cuaca lainnya.

Hasilnya menunjukkan peningkatan 19% risiko sakit kepala pada hari-hari petang, bahkan setelah memperhitungkan faktor cuaca.
Ini menunjukkan bahwa petir memiliki efek unik pada orang-orang dan kerentanan mereka terhadap sakit kepala.
Geoffrey Martin menunjukkan bahwa mekanisme yang tepat di mana petir dan faktor-faktor meteorologi seperti kelembaban dan tekanan udara memicu sakit kepala tidak diketahui.
Baca: Capricorn dan 3 Zodiak Ini Sangat Menjunjung Tinggi Kejujuran
Baca: 6 Juli 2018, Lihat Ramalan Zodiakmu Hari Ini, Siapa yang Beruntung dan Bahagia?
4. Depresi dan Cemas
588 pasien mengalami sakit kepala mengambil bagian dalam penelitian yang dilakukan di National Defense Medical Center di Taiwan.

Dalam kebanyakan kasus; kecemasan, depresi, dan tidur yang tidak sehat adalah alasan utama menyebakan sakit kepala.
Tampaknya, faktor-faktor seperti tekanan emosi dan frekuensi sakit kepala dapat mempengaruhi satu sama lain melalui mekanisme patofisiologi umum.
Misalnya, respons emosional memiliki potensi untuk mengubah persepsi nyeri dan modulasi melalui jalur pemberian sinyal tertentu.
Fu-Chi Yang, penulis penelitian ini, mencatat bahwa hasil berpotensi menunjukkan bahwa perawatan medis yang memadai untuk mengurangi frekuensi sakit kepala dapat mengurangi risiko depresi dan kecemasan pada pasien migrain.
5. Konsumsi Obat yang Mengandung Kodein
Menurut penelitian yang dilakukan di Univesity of Adelaide, mengonsumsi obat-obatan dalam jumlah besar yang mengandung kodein dapat berkontribusi terhadap sakit kepala yang serius.

Ini adalah masalah yang sering terjadi di antara pasien dengan sensitivitas tinggi terhadap rasa sakit.
Kodein adalah sejenis obat golongan opiat yang digunakan untuk mengobati nyeri sedang hingga berat, batuk (antitusif), diare, dan irritable bowel syndrome.
Baca: 6 Zodiak Ini Diprediksi Sukses Jika Berbisnis Karena Mereka Punya Jiwa Wirausaha
Baca: Setiap Orang Punya Karakter Dominan Berdasarkan Bulan Lahir, Apa Karaktermu?
6. Obesitas
Studi dalam Universitas Johns Hopkins menegaskan bahwa obesitas terhubung ke sakit kepala secara umum dan migrain secara khusus, serta dengan kondisi sakit kepala sekunder tertentu seperti hipertensi intrakranial idiopatik.

Selain itu, karena kelebihan berat badan, migrain paling luas terjadi pada orang-orang usia reproduktif.
Semakin besar indeks masa tubuh, semakin sering sakit kepala periodik berubah menjadi kronis.
Tetapi aktivitas fisik dan penurunan berat badan dapat membantu mengurangi frekuensi nyeri dan bahkan menghilangkannya.
Baca: Aktor Tua Bintang Film Panas Asal Jepang Ungkap Rahasia Ketangguhannya
Baca: Makan Telur Setiap Hari, Kamu Akan dapatkan 9 Manfaat Ini
7. Dingin
Para ilmuwan dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi mencatat bahwa adaptasi orang terhadap suhu dingin dapat berkontribusi pada perubahan dalam sakit kepala yang menyebar ke seluruh populasi.

Studi Felix Key juga menyoroti bagaimana tekanan-tekanan evolusioner masa lalu dapat memengaruhi fenotipe masa kini dalam lingkungan yang dingin.
Karena suhu rendah, bisa membuat kejang pembuluh serebral dan itu mempengaruhi proses sirkulasi darah.
Dalam lingkungan yang dingin, kadar oksigen darah menurun dan itu sebabnya orang mungkin mengalami sakit kepala atau migrain. (*)