Catatan Sepakbola

Dua Partai 16 besar yang Aneh

Ibarat tarung matador, sang algojo hanya memainkan kain merahnya tanpa pernah benar benar menombak banteng korbannya.

Editor: Sipri Seko
istimewa
Gelandang Spanyol, Koke, menutupi wajahnnya dengan jersey seusai gagal menaklukkan kiper Rusia, Igor Akinfeev, dalam adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, 1 Juli 2018. 

Ulasan Dewa Putu Sahadewa

Masgibol Flobamora

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Tidak seperti dua partai pembuka, partai hari kedua babak mati hidup 16 besar piala dunia 2018 berlangsung sangat kontras dan aneh.

Spanyol menguasai hampir 70 persen ball possesion mengurung setengah lapangan permainan, tapi seperti kurang niat mencetak gol, buntu, mentok. Gol yang terciptapun walau dirayakan oleh Diego Costa tapi tak lebih tendangan bunuh diri tak sengaja bek Russia.

Selebihnya hanya pamer akurasi passing yang juga terlihat aneh kalau kita lihat dari sudut klub asal pemain yakni passing antara pemain Barcelona dengan pemain Real Madrid yang berlangsung mulus dan terus-menerus sepanjang laga berlangsung.   

Isco berlari ke sana kemari baik dengan atau tanpa bola mencari ruang kosong yang ternyata tidak ada. Semua ditutup rapat oleh 10 pemain Russia yang tiba-tiba semua jadi pemain bertahan.

Ibarat tarung Matador, sang algojo hanya memainkan kain merahnya tanpa pernah benar benar menombak banteng korbannya.  Sesekali serangan balik dilakukan Rusia tapi hanya satu kali benar-benar membahayakan gawang dan berbuah gol.  Skor 1-1 sampai akhir babak perpanjangan waktu tetap.

Ada 120 menit yang melelahkan. Bukan hanya pemain belakang Rusia yang kram kakinya tapi kita penonton yang begitu dibuai oleh partai-partai sebelumnya yang banyak gol.

Permainan terbuka diselingi permainan bertahan yang solid bergantian dengan serangan balik yang tajam, tadi malam harus bersabar hingga akhirnya babak adu penalti menjadi penentu kemenangan.

Rusia begitu yakin dengan kemampuan kipernya. Dan, terbukti 2 kali tendangan penalti para matador Spanyol diblok dengan tangan bahkan dengan kaki kiper dan kapten Russia, Igor Akinfeev. Sementara De Gea seperti biasa gagal mengantisipasi tendangan pinalti lawan.  Seisi stadion pun meledak dalam kegembiraan. Anomali yang dirayakan sebagai sejarah Rusia di Piala Dunia.

Kita kemudian seperti mengalami deja vu karena partai berikutnya antara Kroasia vs Denmark berlangsung hampir sama! Padahal di menit awal sepertinya akan terjadi hujan gol paling tidak permainan terbuka dengan serangan silih berganti dari udara dan darat akan kita nikmati.

Yaaah... Setelah kedudukan 1-1 kembali tersaji kejadian sama. Satu pihak mengurung satu pihak bertahan total dengan sesekali serangan balik. Manjukic yang seperti kembali tajam malah kembali tumpul, Modric kehilangan kreasi bahkan gagal penalti.

Namun hasil akhir yang berbeda, partai ini dalam adu penalti dimenangkan pihak yang memegang mayoritas penguasaan bola, Kroasia melaju ke perempatfinal meneruskan kejayaan Yugoslavia dulu. Denmark hanya bisa memberi kejutan sampai final di kejuaraan Piala Eropa saja.

Mencermati 4 partai awal para masgibol  (masyarakat gila bola) di samping harus kuat begadang juga harus kuat jantung.  Kejutan demi kejutan terus terjadi, dan terutama jantung akan terpacu lebih kencang saat drama adu penalti dimulai. Beruntunglah jika pelatih Meksiko menepati janjinya untuk tidak parkir bus menghadapi Brasil.

"Kami tidak akan menumpuk pemain di belakang dan hanya sekadar menunggu. Para penyerang Brasil terlalu bagus sehingga menjadi pilihan yang salah jika harus terus bertahan untuk mencari kemenangan." kata Osorio seperti dikutip dari situs web resmi FIFA, Senin (2/7/2018).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved