Fakultas Filsafat Unwira

'Rahim' Pemikir dan Pewarta Unggul

Berdirinya Fakultas Filsafat merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, terutama pimpinan gereja dan pihak pemerintah.

Penulis: Benny Dasman | Editor: Benny Dasman
ISTIMEWA
Rm. Drs. Hironimus Pakaenoni, Pr, L.Th 

 ====================================================
Fakultas Filsafat Unwira dengan konsentrasi pada Filsafat Agama Katolik didirikan pada tahun 1991. Fakultas ini menyelenggarakan pendidikan filsafat dan teologi Katolik untuk menghasilkan sarjana filfasat yang dipersiapkan menjadi calon imam Katolik maupun sebagai pemikir dan pewarta unggul. Mau tahu sejarah berdirinya, visi, misi, serta proses pembelajarannya? Simak wawancara wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, dengan Dekan Fakultas Filsafat Unwira, Rm. Drs. Hironimus Pakaenoni, Pr, L.Th, di Seminari Tinggi St. Mikhael-Penfui, Sabtu (28/4/2018).
=========================================================

Bisa diceritakan tentang sejarah berdirinya Fakultas Filsafat Unwira!
Berdirinya Fakultas Filsafat merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, terutama pimpinan gereja dan pihak pemerintah. Para uskup se-Nusa Tenggara dan para pimpinan SVD se-Indonesia, dalam rapatnya di Ritapiret tanggal 28 Januari 1988, dengan SK No.1/1988/Nusra, telah menetapkan tentang pembukaan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Apa yang ditetapkan dalam keputusan tersebut!
Dalam keputusan tersebut ditetapkan dua hal penting. Pertama, memohon kesediaan Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (Yapenkar) untuk membuka Fakultas Filsafat pada Unika Widya Mandira Kupang. Kedua, mengimbau Yapenkar mengambil langkah-langkah yang perlu dalam kerja sama dengan pimpinan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang untuk mewujudkan keputusan yang telah ditetapkan. Surat keputusan tersebut ditandatangani oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD, mengatasnamai para uskup se-Nusra dan Provincial.

Apa yang dilakukan Yapenkar setelah itu?
Selanjutnya Uskup Agung Kupang, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD (almarhum) atas nama para Uskup Nusra, tahun 1989 dalam suratnya No.19059/Koe/II/1989 menyampaikan keinginan para uskup dan provincial SVD se-Indonesia tersebut kepada pihak Propaganda Fide di Roma, sekaligus meminta persetujuannya. Cardinal J. Tomko sebagai Prefek Kongregasi Penyebaran Iman dalam suratnya tertanggal 21 Maret 1989 kepada Mgr.Gregorius Monteiro, SVD memberikan persetujuan atas pembukaan Seminari Tinggi St. Mikhael di Kupang, yang dalam urusan akademik menurut sistem pendidikan tinggi di Indonesia, bergabung dengan Unwira sebagai Fakultas Filsafat. Selanjutnya pada tahun 1990 dibuka Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo'o Damian Atambua, sebagai persiapan untuk Seminari Tinggi di Kupang. Tanggal 15 Agustus 1991 Seminari Tinggi St. Mikhael diresmikan dengan Romo Alo Pendito Keranz, Pr sebagai Praeses.

Bagaimana menyangkut izin pemerintah!
Urusan-urusan menyangkut izin pemerintah terus dilanjutkan. Akhirnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1993 dengan SK No.06/D/1993, memberikan status TERDAFTAR kepada Fakultas Filsafat, dengan Program Studi Filsafat Agama Katolik untuk jenjang S1 di lingkungan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Sejak saat itulah secara yuridis mulai berdiri Fakultas Filsafat Unwira, dengan Romo Dr. Alo Pendito Keranz, Pr sebagai Dekan.

Romo bisa jelaskan visi dasar yang diemban Fakultas Filsafat!
Visi dasar yang diemban Fakultas Filsafat Agama berkaitan dengan tugas mahapenting dan mahaberat, yakni pembentukan pribadi manusia dan pembentukan profesionalitas di bidang pemikiran filosofis kritis yang berdaya transformatif berlandaskan iman, moral dan nilai-nilai luhur kebudayaan setempat.

Pribadi-pribadi manusia seperti apa yang diupayakan pembentukannya lewat pendidikan di Fakultas Filsafat Agama ini!
Adalah pribadi-pribadi yang matang, utuh-seimbang, beriman teguh dan bertaqwa kepada Allah, menunjung tinggi harkat dan martabat pribadi manusia (berperikemanusiaan), setia dan tekun memelihara persatuan dan kesatuan nasional, menghargai perikehidupan demokratis dan terdorong untuk terus menerus bersikap adl dan arif dalam kehidupan. Profesionalisme di bidang pemikiran kritis-filosofis yang berdaya transformatif adalah seperangkat keahlian di bidang ilmu filsafat dan ilmu pendukung lainnya yang diupayakan tetap berlandaskan pada integritas kepribadian yang meliputi aspek intelektual, religius, moral, sosial dan pastoral sebagai hasil sintesis iman dan ilmu, dengan berpegang teguh pada sikap cinta akan kebenaran sebagai karunia Allah, Sang Kebenaran Sejati, sambil tetap terbuka dan siap sedia menerima dan menghayati tawaran keselamatan yang diwahyukan Allah bagi manusia sepanjang peredaran zaman dengan situasi dan kondisinya yang konkret.

Selain visi ada misi, seperti apa deskripsinya?
Pertama, Fakultas Filsafat Agama mengupayakan agar rangkaian pembinaan intelektual sedapat mungkin berpadanan dengan tuntutan mendasar akal-budi manusia sebagai 'partisipasi dalam Cahaya Budi Ilahi'. Kedua, Fakultas Filsafat Agama berusaha semaksimal mungkin membina kesadaran dalam diri para mahasiswanya bahwa dengan daya nalar yang terbina secara maksimal, mereka mampu mengenal manusia dan dunia dengan lebih baik, meraih kebijaksanaan, mengenal dan mencintai Allah dengan lebih rela berpaut kepadaNya. Ketiga, Fakultas Filsafat Agama bertugas memelihara mutu pembinaan intelektual mahasiswanya yang sebagian terbesar adalah calon-calon imam. Para mahasiswa dituntun untuk mencari kebenaran dengan setia dan tekun, penuh hormat dan berusaha menghayati kebenaran itu dalam seluruh perikehidupannya, dan setia mewartakannya dalam tugas. Keempat, Fakultas Filsafat Agama berusaha membimbing para mahasiswa secara khusus agar mereka menerima dan menghayati iman secara konsekuen dan radikal karena keyakinan bahwa Allah telah memanggil mereka untuk tugas keselamatan.

Apakah visi dan misi ini sudah cukup untuk membentuk mahasiswa sebagai manusia seutuhnya!
Sangat disadari, visi dan misi Fakultas Filsafat Agama yang sempat disusun ini masih jauh dari sempurna. Namun Gereja telah berusaha sepanjang sejarahnya untuk terlibat dalam pendidikan yang terarahkan kepada pembentukan manusia seutuhnya. Cita-cita bangsa sebagaimana tertuang dalam Mukadimah UUD 1945 menekankan hal yang sama. Untuk itu, bila pendidikan hingga zaman sekarang masih terpuruk oleh berbagai kendala dan kekurangan, sepatutnya dicamkan selalu bahwa yang terpenting dalam dunia pendidikan dan dalam kehidupan pada umumnya bukanlah kata-kata indah dan rumus-rumusan bagus, melainkan perbuatan nyata, terdorong oleh panggilan nurani untuk berjuang secara tekun dan penuh tanggung jawab demi memberi makna dan isi kepada kehidupan dan memajukan manusia.

Menurut Romo, apa yang menyebabkan pendidikan kita masih terpuruk?
Dunia pendidikan kita masih terpuruk dan jauh tertinggal, bukan pertama-tama karena kita kehilangan idealisme, pedoman-pedoman agung dan formula-formula bagus, tetapi karena api semangat dan dedikasi kita kian melemah, daya juang dan kegigihan kita dalam mempertahankan prinsip dan nilai-nilai fundamental dalam kehidupan cepat luntur. Atau sering kita begitu cepat terpengaruh arus zaman yang datang melanda kita dengan berbagai tawaran manis, lalu kita terlena dan melaksanakan tugas tanpa banyak pertimbangan matang, kritis dan komprehensif, sehingga kita kehilangan arah seperti peziarah tanpa kompas. Mari kita mohonkan turunnya hujan rahmat dan semangat untuk lebih tekun dan kerja keras dilandasi semangat dedikasi tanpa pamrih demi memajukan dunia pendidikan kita, mengabdi pada kemanusiaan, pengembangan alam dan dunia demi kemuliaan nama Tuhan.

Apa sasaran pembinaan intelektual yang terselenggara di Fakultas Filsafat Agama ini?
Sasarannya agar para mahasiswa memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai di bidang filsafat dan ilmu pendukung lainnya. Untuk itu diperlukan suasana yang kondusif agar para mahasiswa menumbuhkembangkan dalam dirinya semangat cinta akan ilmu pengetahuan, hasrat dan keinginan untuk terus menerus belajar seumur hidup, dan atas prakarsa dan usaha sendiri mengembangkan bekal kehidupannya di dalam dunia dengan arus globalisasi yang menantang.

Dalam proses belajar mengajar, mata kuliah apa yang diberi porsi terbesar?
Ada tiga, yakni studi filsafat, studi teologi dan studi ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora).

Bisa dijelaskan tentang makna studi filsafat bagi mahasiswa!
Rangkaian studi filsafat yang terselenggara di Fakultas Filsafat Agama berupaya menghantar mahasiswa kepada pendalaman pengertian dan penafsiran terhadap pribadi manusia yang bebas dalam hubungannya dengan dunia dan Allah, agar mereka lebih mampu menyimak kaitan erat antara soal-soal besar filsafat dan misteri keselamatan, menanggapi situasi budaya yang amat luas tersebar, berjuang melawan setiap kekeliruan dengan kepastian kebenaran yang bersumber pada pribadi Yesus Kristus, Jalan Kebenaran dan Hidup. Selain itu agar mahasiswa memiliki baik pengetahuan abstrak maupun pengertian hati yang tahu 'melihat di balik' atau 'lebih jauh' dari apa yang dihadapi, sehingga selalu siap sedia mengemban tugas panggilan dan perutusan untuk menyempaikan misteri Allah kepada umat manusia. Studi filsafat dimaksudkan antara lain sebagai bimbingan agar para mahasiswa, sambil bertumpu pada warisan filsafat yang berlaku sepanjang masa, sanggup menyimak perkembangan filsafat yang berpengaruh besar dalam negara dan masyarakat, menelaah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu berdialog dengan manusia-manusia dan situasi zamannya secara lebih efisien dan efektif.

Bagaimana aplikasinya dalam perkuliahan?
Untuk itu, rangkaian perkuliahan mutlak perlu memperhatikan pemikiran filosofis yang lahir dari berbagai tradisi, doktrin dan sistem berpikir yang sungguh menawarkan mutiara kebijaksanaan/kebenaran, tetapi juga yang dapat mengandung titik-titik kelemahan, yang entah disadari atau tidak, berpengaruh besar dalam kehidupan konkret, dan bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan kemungkinan mengaplikasikan refleksi filosofis dalam situasi kontekstual zaman ini. Metodologi filsafat dan teologi perlu diupayakan agar membantu para mahasiswa mampu menanggapi tantangan zaman, mampu menggunakan pendekatan interdisipliner dan kontekstual.

Bagaimana dengan budaya, apakah perlu masuk dalam refleksi filsafat?
Benar, refleksi filsafat juga perlu diarahkan semakin lebih berakar pada budaya setempat, mendukung usaha ke arah makin terciptanya dialog yang hidup dan dinamis dengan budaya-budaya yang hidup di bumi Indonesia, terlebih yang bersangkutan dengan pandangan atas Tuhan, manusia, dunia dan tatanan keselamatan yang menjadi dambaan hati setiap orang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved