Begini Cara Astronot Berpuasa dan Shalat saat Matahari Terbit 16 Kali Sehari

Shukor yang telah berpuasa selama pelatihan berkata bahwa dia tetap ingin berpuasa ketika di ISS.

Editor: Bebet I Hidayat
China.org.cn
Astronot Tiongkok Yang Liwei duduk di pesawatnya pada 2003 

POS-KUPANG.COM - Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana astronot menjalankan ibadah di luar angkasa?

Pertanyaan ini pernah didiskusikan pada 2007 ketika Malaysia akan mengirimkan astronot pertamanya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional ( ISS) selama 10 hari.

Ketika Sheikh Muszaphar Shukor dikirim ke ISS pada 10 Oktober 2007, sebetulnya bulan puasa pada tahun itu hanya tinggal dua atau tiga hari saja.

Namun, Shukor yang telah berpuasa selama pelatihan berkata bahwa dia tetap ingin berpuasa ketika di ISS.

Sheikh Muszaphar Shukor ketika berada di ISS 12 Oktober 2007.
Sheikh Muszaphar Shukor ketika berada di ISS 12 Oktober 2007. (NASA on The Commons/Flickr)

 
Masalahnya, ISS mengelilingi bumi 16 kali dalam sehari yang berarti matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit.

Selain itu, dengan kecepatan tersebut, ISS mengalami kondisi mikrogravitasi yang menyulitkan para astronot untuk berlutut.

Kebingungan ini pun akhirnya dijawab oleh Dewan Fatwa Nasional Malaysia yang menerbitkan buku panduan untuk beribadah di ISS.

Baca: Mantan Teroris Ini Kaget, Anaknya Suruh Dia Menembaki Polisi Saat Makan di Warung Padang

Baca: Nafa Urbach Tantang Anggota Densus 88 Jadi Pacarnya, Syaratnya Simple, Bikin Baper

Baca: POPULER: Misteri Sosok Wanita Nekat Masuk ke Rumah Terduga Teroris Hingga Keanehan Pada Motornya

Mereka menulis, puasa bisa dilakukan di ISS atau Qada’ (kompensasi) di Bumi (selama bulan Ramadhan).

Waktu untuk berpuasa disesuaikan dengan zona waktu dari lokasi diluncurkannya astronot.

Pernyataan tersebut kembali dijelaskan oleh mantan Menteri Sains Malaysia, Jamaluddin Jarjis, yang berkata kepada Space.com, 24 September 2007, bahwa Shukor diperbolehkan untuk mengundur puasanya hingga kembali ke bumi.

Untuk soal shalat, Dewan Fatwa Nasional Malaysia juga berkata bahwa durasi 24 jam-nya harus disesuaikan dengan zona waktu lokasi diluncurkannya astronot.

Jika arah Kabah di Mekkah sulit untuk ditentukan, astronot bisa menggunakan gambar Kabah atau bumi sebagai kiblat.

Lalu untuk wudhu, astronot bisa menggunakan tisu atau handuk basah yang disediakan di ISS.

“Bentuk postur tubuh (seperti berdiri, membungkuk, dan berlutut) disesuaikan dengan kondisi di ISS,” tulis Dewan Fatwa Nasional Malaysia.

Jika astronot tidak bisa berdiri tegak, astronot bisa mencoba untuk berdiri dengan postur apa pun.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved