Gereja Ngagel Katolik dalam Kenangan

Terkadang setelah jaga parkir, kenang Pius, ia bersama teman-teman Mudika sekarang dikenal OMK Paroki Ngaggel ramai-ramai makan mie pangsit

Penulis: Romualdus Pius | Editor: Ferry Ndoen
TRIBUNJATIM.COM/NUR IKA ANI
Sejumlah petugas kepolisian mengamankan kawasan Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Jaya Utara usai adanya ledakan bom pada Minggu (13/5/2018) pagi. 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS KUPANG.COM- Bagi mahasiswa asal Pulau Flores yang kuliah di Surabaya, keberadaan Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel memiliki kenangan tersendiri

Pasalnya, di tempat tersebut banyak sekali mahasiswa asal Flores yang misa di gereja itu. Khusus mahasiswa yang kuliah diantaranya tahun 1994 hingga 2000.

Keberadaan beberapa kampus besar seperti Universitas Dr Soetomo dan Universitas 17 Agustus, maupun Ubaya serta ITS, ITATS juga UPB yang masuk dalam wilayah Paroki Ngagel membuat mahasiswa memilih untuk beribadah di Gereja Ngagel.

'' Ini termasuk kami dan beberapa teman lainnya yang kuliah di Universitas Dr Soetomo. Saat itu, untuk berangkat ke gereja ada dua pilihan kalau lagi dapat kiriman uang, ya naik becak. Namun kalau tak ada uang maka harus berjalan kaki," kata Romualdus Pius, wartawan Pos Kupang yang pernah kuliah hidup di Surabaya.

Namun saat itu, lanjut Romualdus Pius, ia banyak jalan kaki karena selain tak ada uang, juga karena lebih ramai karena harus berjalan ramai-ramai baik saat pergi maupun pulang gereja.

"Secara pribadi saya memiliki kenangan dengan gereja tersebut karena saya kerap mengisi berbagai kegiatan di gereja seperti koor juga urus majalah gereja hingga bermain drama di gereja.

Bahkan hingga jaga parkir. Pokoknya hari Sabtu dan Minggu waktu saya habiskan untuk urusan gereja di Gereja Ngaggel," kenang Pius.

Terkadang setelah jaga parkir, kenang Pius, ia bersama teman-teman Mudika sekarang dikenal OMK Paroki Ngaggel ramai-ramai makan mie pangsit yang ada depan gereja.

"Saya ingat persis bahwa yang bertugas selaku petugas parkir di gereja orang Flores, persisnya dari Maumere. Namanya om Mateus. Beliau orangnya ramah tapi tegas. Dengan pluit beliau mengatur mobil umat yang hendak ke gereja," kenang Romualdus Pius.

Pertama kali keterlibatan dirinya dengan Gereja Katolik Ngaggel adalah ketika diajak membersihkan gereja oleh teman-teman Mudika dan dari situ saya terus meleburkan diri dalam berbagai kegiatan gereja.

"Terkadang kami sebagai anak Mudika saat itu lebih suka misa malam, tepat jam 12 malam yang memang misa dikhususkan untuk anak muda.

Usai misa kami lalu berkumpul di Aula Susteran yang berada di samping gereja untuk makan malam bersama dengan Pastor Paroki saat itu, Rm Haryanto," kenang Pius.

Gereja Nggagel meskipun sebagai tempat ibadah, namun secara khusus memberikan banyak manfaat bagi perkembangan diri a pribadi karena di tempat tersebut beberapa kali ia diberi kepercayaan terlibat dalam berbagai kegiatan gereja yang tentunya menuntut tanggungjawab.

Di gereja itu, Pius bersama beberapa teman Mudika sempat ikut berjaga takkala ada kasus pemboman yang menimpa sarana umum di tanah air seperti hotel antara tahun 1995 hingga 1997.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved