Polisi Tembak Warga Sumba Barat

Polda NTT Bantah Anggotanya Tembak Warga Sumba Barat

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang dilakukan tim dokter, disimpulkan bawa korban meninggal bukan karena luka tembak.

Polda NTT Bantah Anggotanya Tembak Warga Sumba Barat
Istimewa

Dimana saat itu tim sedang mendampingi Dinas Pertanahan Kabupaten Sumba Barat maupun pihak pemohon dari PT Sutra Marosi Kharisma bersama kuasa hukumnya untuk mengukur tanah guna pengembalian patok atau tapal batas tanah di lokasi sekitar Pantai Marosi, Desa Patiala Bawah, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat.

“Pada saat itu memang terjadi sedikit kendala yaitu penolakan oleh sebagian masyarakat dan kemudian dilakukan mediasi oleh petugas keamanan sehingga situasi kembali kondusif. Dan giat pengukuran khususnya patok itu pengukuran kembali dilanjutkan,” lanjut Jules.

Sekitar pukul 15.00 tim kembali melanjutkan proses pengukuran. Pada saat itu tim mengalami kendala dimana tim dari Dinas Pertanahan maupun petugas keamanan kembali dihadang oleh warga masyarakat dan terjadi aksi saling lempar.

Warga masyarakat menghadang dan melempar tim dari Dinas Pertahanan maupun petugas gabungan menggunakan batu. Jules juga mengatakan, mayoritas warga membawa senjata tajam. Petugas keamanan saat itu meminta warga untuk menghormati proses hukum dan tidak melakukan aksi anarkis. Namun warga masyarakat terus melakukan pelemparan terhadap petugas termasuk pihak keamanan.

Untuk meredam aksi anarksi warga, personil gabungan memberikan tembakan peringatan ke udara. Namun tembakan itu pun tidak dihiraukan bahkan warga semakin melempari batu ke arah petugas. Kejadian terus makin meningkat situasinya, sehingga petugas keamanan kemudian mengeluarkan atau melontarkan gas air mata ke udara.

Pada saat itulah, lanjut Jules, ditengah situasi yang semakin ricuh, beberapa warga kemudian menyebutkan jika ada dua orang warga yang terjatuh. Petugas keamanan pun melakukan evakuasi terhadap dua orang ini dan dibawa ke puskesmas terdekat.

“Pada saat di puskesmas, karena peralatan medis yang terbatas dan kurang, salah satu korban meninggal dunia dan satu lagi mengalami luka bagian kaki. Kedua korban dibawa ke RSU Waikabubak. Korban meninggal pun dilakuakan visum untuk mengetahui penyebab kematian korban,” ucap Jules.

Setelah kejadian tersebut, penghadangan terhadap petugas keamanan masih terus dilakukan oleh masyarakat. Bahkan warga kembali melempar batu bahkan ketika tiba di rumah kepala desa setempat, warga masih melakukan penghadangan.

Petugas kembali mengeluarkan gas air mata ke udara dan masyarakat terlihat berlindung sehingga petugas berhasil melanjutkan perjalanan ke Kota Waikabubak.

Jules juga berharap nantinya berdasarkan hasil otopsi, semakin memperjelas penyebab kematian korban. Ia juga menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis.

“Masyarakat harus bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan main hakim sendiri. Kita bersama-sama harus menjaga situasi kamtibmas,” tuturnya. (*)

FOLLOW INSTAGRAM @poskupangonline : 

Penulis: Eflin Rote
Editor: Eflin Rote
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved